Liburan Wisata Ke Gudang Ransum Peninggalan Belanda

Foto : padangkita

GayaKeren.id – PERIUK besi berdiameter 1,3 meter dengan tebal 1 inci berjejer di ruang berukuran 12 kali 25 meter dengan ketinggian atap mencapai 15 meter. Ada tiga periuk baja bertinggi 65 cm terpasang di ruangan yang menjadi saksi bisu pernah dilakukan aktivitas memasak dalam jumlah besar di sini.

Sejumlah peralatan dapur seperti kuali, penggorengan, kompresor untuk mengalirkan uap dari steam generator buatan tahun 1894 berukuran raksasa menunjukkan dapur umum ini menjadi pusat konsumsi bagi ribuan orang. Masyarakat dan pemerintah daerah di Sawahlunto, Sumatera Barat, mengenalnya dengan sebutan Gudang Ransum.

Terletak di kawasan Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar—sekitar 10 menit berjalan kaki dari pusat Kota Sawahlunto—bangunan yang berdiri di lahan seluas dua hektar ini terlihat masih terawat dengan baik. Dengan arsitektur Eropa yang kental, bangunan peninggalan era kolonial Belanda ini menyimpan sejumlah koleksi.

Beragam keramik buatan China yang hanya digunakan pada acara tertentu bagi pejabat Belanda saat itu. Lesung injak berukuran besar yang tertata rapi dalam sebuah kotak kaca. Juga terlihat pakaian koki dan pekerja dapur yang dibuat ulang sesuai dengan bentuk aslinya.

Ada juga replika masakan buatan koki di Gudang Ransum terlihat tertata rapi dalam balutan lemari kaca. Sejumlah koleksi photo saat Wakil Presiden M Hatta berkunjung ke Sawahlunto juga menghiasi ruang koleksi photo di bagian belakang dapur umum. Kereta tambang juga dipajang di bagian depan pintu masuk gedung ini.

Di sekeliling bangunan dapur utama, berdiri sejumlah bangunan berukuran besar menghiasi bagian utara dan timur bangunan gedung. Gudang tempat penyimpanan beras terta rapi yang terhubung dengan tujuh pintu. Konon, ruangan penyimpanan beras ini juga dimanfaatkan oleh 100 orang yang bekerja untuk memasak makanan bagi 6.000 pekerja.

Di bagian barat dapur utama, berdiri bangunan serupa yang terhubung dengan tujuh pintu untuk menyimpan bahan makanan mentah basah seperti daging, ikan, sayuran. Arah selatan, sebuah bangunan berbentuk persegi panjang difungsikan sebagai pabrik es. “Ini merupakan pabrik es kedua di Sumatera Tengah setelah Padang,” kata petugas museum, Amitri.

Sedangkan di bagian belakang dapur, berdiri tiga unit steam generator buatan 1894 yang berfungsi sebagai kompor pembakaran batubara yang dihiasi tabung air raksasa berdiameter 1,5 m dengan tinggi 6,75 meter. Uap dari tungku pembakaran ini dialihkan ke dapur utama yang berjarak sekitar tujuh meter melalui saluran pipa bawah tanah melalui kompresor raksasa.

Menurut Amitri, ruangan bawah tanah ini ditutup untuk sementara karena kelembaban udara yang dinilai tidak sehat bagi pengunjung. Cerobong asap raksasa dari sisa pembakaran batu bara dengan tinggi 25 meter menjadi catatan penting tentang kepedulian perancang bangunan ini akan persoalan lingkungan.

Kini, gedung peninggalan Belanda menjadi salah satu warisan yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke ‘Kota Arang’ ini.

Sejarah

Menurut catatan pihak museum, Gudang Ransum yang dibangun pada 1918 ini didasari atas ketidakadilan pembagian jatah makanan bagi para pekerja tambang di barak-barak dan perawat di rumah sakit. Sejak dibukanya tambang batu bara di Sawahlunto pada 1891, konsumsi bagi para pekerja tambang dilakukan dalam skala kecil dan berada di beberapa titik. Buruh China, Singapura, tercatat pernah dipekerjakan di tambang Ombilin dengan kontrak selama tiga tahun. Karena alasan upah murah, pihak Belanda menggantikan pekerja asal China ini dengan mendatangkan buruh dari Jawa sekitar tahun 1894.

“Tahanan (orang rantai) diberi premi dengan upah 25 sen dan bekerja di tambang dalam dengan risiko besar,” kata Amitri.

Pasokan makanan bagi 6.000 pekerja ini yang mendorong pihak Belanda membangun Gudang Ransum untuk memenuhi kebutuhan makanan para pekerja. Kepala dapur umum ini pernah diduduki orang pribumi asal Talawi, Sawahlunto, yakni Habib Bagindo Rajo, yang bekerja di bawah seorang mandor Belanda. Periuk-periuk raksasa yang ada di dapur umum ini mampu digunakan untuk memasak 3.900 kilogram beras dan disalurkan ke sejumlah barak pekerja tambang dengan menggunakan truk.

Sejalan dengan perkembangan zaman, dapur umum ini sempat beralih fungsi menjadi sekolah menengah pertama pada 1960 hingga 1970. Kemudian digunakan sebagai kantor PT Ombilin, perumahan bagi pekerja tambang Ombilin hingga tahun 2004.

Pada 17 Desember 2005, bangunan bersejarah diresmikan sebagai musem oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sumber :  Padangkita

 

Please follow and like us:

Leave a Reply