Tantrum Dan Manfaat Positifnya Bagi Anak

Foto : google.com

GayaKeren.id Apa itu Tantrum ?? Tantrum merupakan ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan  – dan, dalam beberapa kasus – kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang

Tantrum adalah salah satu bentuk yang paling umum dari perilaku bermasalah pada anak-anak tetapi cenderung menurun dalam frekuensi dan intensitas begitu anak tumbuh. Pada balita, tantrum atau amukan dapat dianggap sebagai normal, bahkan sebagai pengukur dari kekuatan pengembangan karakter.

Sementara amukan kadang dilihat sebagai prediktor perilaku anti-sosial pada masa depan, dalam arti lain ia sekadar tanda frustrasi yang berlebihan yang sesuai dengan usia, dan akan berkurang seiring waktu diberi penanganan yang tenang dan konsisten. Namun yang perlu diingat bahwa tekanan luar dan kontrol yang berlebihan dalam membesarkan anak bisa memprovokasi tantrum dan pembibitan pemberontakan.

Menghadapi kondisi tantrum yang sering dialami oleh anak-anak balita merupakan salah satu pengalaman paling menantang dalam proses parenting. Banyak orang tua yang dibuat pusing ketika anak mereka mulai merengek di depan umum.

Namun, percaya atau tidak, tantrum adalah bagian dari bentuk emosi yang paling penting bagi anak balita.

Berikut lima alasan yang memperlihatkan bahwa tantrum yang dialami anak bukanlah hal yang buruk seperti dikutip dari parents.com.

  1. Cara mengeluarkan rasa stres

Air mata mengandung kortisol atau hormon stres. Artinya, ketika kita menangis sebenarnya kita sedang melepaskan stres dari tubuh kita. Air mata juga dikenal dapat menurunkan tekanan darah serta meningkatkan kesehatan emosi seseorang.

Perhatikan ketika tantrum anak Anda sudah berlalu, maka mood anak akan menjadi lebih baik. Akan sangat membantu jika orang tua tidak menginterupsi tantrum anak sampai anak benar-benar mengakhiri perasaan buruk yang sedang dia rasakan.

“Menangis bukanlah rasa sakit, tetapi proses untuk melepaskan rasa sakit,” kata penulis buku Rest, Play, Grow: Making Sense of Preshoolers Deborah MacNamara.

  1. Menangis bisa membantu anak untuk belajar

Ada seorang anak berumur lima tahun bermain lego dengan menyusunnya menjadi sebuah bangunan. Namun, tiba-tiba dia menangis karena dia tidak bisa membentuknya seperti yang dia mau. Setelah beberapa saat mengalami proses tantrum, akhirnya dia duduk kembali dan memperbaiki bentuk bangunan tersebut.

Tantrum adalah proses bagi anak untuk mengekspresikan rasa frustasinya. Dengan begitu, mereka bisa membersihkan pikirannya untuk belajar hal yang baru.  Bagi anak, proses belajar terjadi secara alami seperti halnya bernapas.

Tantrum yang terjadi ketika itu dikarenakan mereka tidak bisa berkonsentrasi. Percayalah, proses belajar anak merupakan gabungan dari rasa relaks dan sedih.

  1. Tantrum membantu anak tidur lebih baik

Kebanyakan orang tua berpikir pendekatan terbaik dari tantrum adalah dengan menghindarinya. Hal itu membuat anak memuncak emosinya ketika otaknya sedang beristirahat dan terus terbangun karena mereka merasa stres. Namun, ketika kita membiarkan anak meluapkan emosinya ketika dia sedang aktif bermain, maka drama sebelum tidur tidak akan terjadi.

  1. Berkata ‘tidak’ adalah hal yang baik

Berkata ‘tidak’ berarti Anda memberikan batasan kepada anak, mana hal yang dapat diterima dan tidak. Terkadang, para orang tua berusaha mati-matian tidak berkata ‘tidak’ hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Padahal kita bisa menghadapinya dengan rasa cinta, empati, atau pelukan. Berkata ‘tidak’ berarti Anda tidak takut untuk menghadapi kekacauan dan bagian yang paling mnguras emosi dalam masa parenting.

  1. Anak merasa aman untuk mengatakan perasaannya

Tidak semua anak memanipulasi orang tuanya dengan menggunakan trik tantrum untuk mendapatkan apa yang dia mau. Banyak juga anak-anak yang menerima larangan-larangan yang Anda terapkan. Kalaupun anak Anda tidak bisa menerimanya, rengekan itu hanya bagian dari ekspresi dari perasaannya. Namun, Anda tetap bisa mempertahankan kata ‘tidak’ Anda dan berempati dengan kesedihannya. Berikan respons kasih sayang ketika anak mulai meledakkan emosinya sehingga anak akan merasakan kenyamanan meski dia sudah menangis dan membuat kehebohan.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply