Ajarkan Bahasa Asing Ke Anak Usia Dini. Dampaknya?

Foto : google.com

GayaKeren.id – Keterampilan menguasai bahasa asing seperti bahasa Inggris sudah jadi tuntutan di masa sekarang. Tak heran bila akhirnya para orang tua berbondong-bondong mengenalkan bahasa asing sejak dini.

Namun ada anggapan mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak usia dini dikhawatirkan akan membebani otak mereka. Benarkah anggapan tersebut?

Psikolog Anak sekaligus Grapholog, Laksmira Ratna Bayuardi mengatakan, anggapan tersebut tidaklah benar. Menurut dia anak-anak sekalipun usianya dini sudah dibekali neuron terkait bahasa dalam sistem otak mereka.

Sehingga dengan hal itu mereka dapat mempelajari lebih dari satu bahasa.

 “Artinya kalau ditanya apakah anak dapat belajar dua bahasa? Sebetulnya bisa,” katanya kepada awak GayaKeren, beberapa waktu lalu.

Meskipun demikian, tambah Bu Mia, sapaan akrabnya, neuron tersebut harus terstimulasi dengan tepat dan konsisten. Dalam hal ini orang tua mesti menciptakan lingkungan yang mendukung upaya si anak belajar bahasa asing.

Misalnya  ketika anak di sekolah menggunakan bahasa pengantarnya bahasa asing, maka di rumah pun orang tua mesti berkomunikasi dengan bahasa tersebut.

“Supaya ada konsistensi sehingga ilmu bahasa yang mereka [anak] dapatkan akan optimal,” tutupnya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah Jika anak sejak dini diberikan pengajaran yang keliru, dengan menekankan pada tata bahasa dan sesuatu yang formal, justru ditangkap anak menjadi lebih sulit. Dampaknya nanti kacau semua, artinya akan mengalami masalah psikologis, seperti tidak percaya diri, kegagapan bicara, bahasa yang campur aduk.

Di samping metode pengajaran yang mesti memperhatikan aspek psikologi anak, ada hal krusial yang wajib disadari orang tua, yaitu bahasa yang digunakan dengan anak saat berkomunikasi sehari-sehari. Karena bila orang tua menggunakan bahasa asing atau bahasa Indonesia yang tidak terlalu baik, anak akan sulit menyampaikan pikiran abstrak dan konseptual.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply