Ekspresi Seni Dalam Guntingan ‘Nyentrik’ Yudhekk

GayaKeren.id – Yudhekk dengan bebas mengekspresikan gairah seni yang meletup-letup dalam dirinya di dunia barbershop. Baginya, dunia barbershop pun menjadi ajang untuk meluapkan gairah seninya dalam setiap hasil cutting yang diciptakannya.

Yudhekk tak pernah ‘ngoyo’ dalam menjalani perannya. Hidupnya dijalani dengan damai dan mengalir apa adanya. Seperti itulah keseharian barber yang bermukim di Malang, Jawa Timur ini.

Sehari-hari, di barbershop yang ada di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, ia melakoni sebagai single barber. Klien yang datang di-handle satu per satu dengan maksimal tanpa bantuan pegawai lain yang dipekerjakannya. Ia juga tak ingin dipusingkan dengan target klien yang datang per hari sehingga memaksa dirinya berkejaran dengan waktu pelayanan terhadap customernya.

Ia bekerja dengan santai dan sepenuh hati menyelesaikan potongan demi potongan untuk memuaskan klien-nya. Yudhekk tak ingin mengejar materi semata yang memang tak ditampik dibutuhkan setiap orang sebagai bentuk apresiasi hasil kerjanya. Lebih dari itu, Yudhekk tak ingin ekspresi seni yang tercipta lewat goresan cutting pada kliennya tercerabut dengan sisi komersil semata.

Idealisme Yudhekk yang tampak begitu kental memang kemudian menjadikan Yudhekk ‘berbeda’ dan menjadi nilai plus di mata customer-nya. Mereka yang datang ke barbershop miliknya seperti di-eksklusifkan. Hasil potongan yang didapatkan pun bukan main-main. Rapi dan maksimal karena dikerjakan dengan penuh cinta dan sepenuh hati.

Itulah Yudhekk yang senantiasa menjadikan profesi sebagai pelabuhan cintanya. Kreasi seni yang dihasilkan tak sekadar memenuhi tanggung jawab profesi tetapi juga sebagai ekspresi cintanya sebagai seniman. Karenanya, guntingan yang dihasilkan pun menjadi luapan ekspresi seninya.

Dari salon ke barbershop

Kiprahnya di dunia barbershop memang belumlah lama. Sebelumnya, pria bertato ini sempat berkarier di dunia salon sejak tahun 2000-an. Perkenalannya dengan industri tata rambut pun bukan sebuah kesengajaan yang direncanakan. Awalnya Yudhekk memangkas rambut di sebuah salon dan suatu hari ia kembali dipertemukan dengan orang yang sempat memotong rambutnya tersebut.

Pertemanan pun terjalin dan Yudhekk kerap ‘nongkrong’ di salon dimana tempat orang tersebut bekerja. Tanpa disadari, Yudhekk banyak belajar selama proses ‘nongkrong’ tersebut. Ia mendapatkan banyak ilmu seputar salon. Sampai akhirnya, Yudhekk mendapat tawaran untuk membantu di salon tersebut dari mulai mencuci rambut kemudian naik tahap mengeringkan rambut dan akhirnya bisa menggunting rambut.

Yudhekk memang mempelajari semua keterampilan mengenai dunia tata rambut secara otodidak. Namun di luar itu, Yudhekk pun diperuntungkan karena darah yang mengalir dari orangtuanya di dunia seni menjadi modal lahiriah yang semakin mematangkan kemampuannya. Diakuinya, sejak bangku STM dirinya memang kerap memotong rambut teman-temannya. Benih itulah yang tanpa disadari menjadi modal yang mematangkan dirinya ketika benar-benar terjun di industri tata rambut.

Seiring perjalanan waktu, perjalanan Yudhekk di industri tata rambut mempertemukannya dengan dunia baru yang masih ada di ‘rel’ yang sama. Ya, seiring dengan merekahnya industri barbershop belakangan ini, Yudhekk pun memutuskan untuk hijrah ke dunia ini dan ikut meramaikan di dalamnya. Sebuah barbershop dirintisnya dengan menggunakan modal yang selama ini dikumpulkannya dari bekerja serta usaha sampingannya yakni ‘berdagang’ busana.

Modal itulah yang kemudian bisa mewujudkan mimpinya memiliki usaha sendiri. Ia pun merenda hari-hari baru dengan usaha yang dirintisnya tersebut. Keberadaan barbershop yang memang belum banyak di tempat usahanya berdiri saat itu, tepatnya 2015 membuat barbershop Yudhekk menjadi tempat yang difavoritkan anak muda khususnya untuk ‘mempertampan diri’.

Animo anak muda yang menjadi target pasarnya pun tak pernah surut memenuhi barbershopnya. Di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, Yudhekk mengabdikan diri untuk menciptakan kreasi seninya terhadap deretan customer-nya yang ingin diabadikan melalui guntingan ‘nyentrik’ Yudhekk.

Tak terasa, perjalanan belasan tahun di industri tata rambut telah mewarnai karier Yudhekk. Meski demikian, Yudhekk merasa dirinya masihlah belum apa-apa. Ia merasa haus untuk terus belajar dan senantiasa mematangkan diri melalui berbagai media.

Yudhekk sadar bahwa pengetahuan dan pembelajaran bisa diserap dari berbagai sumber, termasuk sharing dengan sesama pekerja di bidang yang sama. Selain itu, ia juga percaya bahwa apa yang dihasilkan secara riil dan diolah dengan rasa dan cinta akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Terbukti, di wilayah Jawa Timur, nama Yudhekk masuk dalam jajaran barber yang diperhitungkan. Walau demikian, hal tersebut tak menjadikannya ‘jumawa’. Justru, ia ingin merangkul barber-barber lainnya untuk memajukan industri barbershop lebih meriah dan bersama-sama mereguk kesuksesan.

 

Please follow and like us:

Menikmati Keindahan Dengan Spot Fotografi Dari Panorama Tebing Breksi Jogja

GayaKeren.id – Tempat wisata yang satu ini memang unik, karena mengedepankan tebing sebagai obyeknya. Tebing yang tampak bagai mahakarya seni raksasa ini diresmikan oleh Gubernur D.I Yogyakarta pada 30 Mei 2015.

Jogja identik dengan gudeg, batik, keseniannya yang kaya maupun julukannya sebagai kota pelajar.  Satu hal yang menjadi primadona dari daerah ini adalah daerah wisatanya. Sebut saja Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Jalan Malioboro, Sendratari Ramayana disertai puluhan wahana wisata lainnya berjejalan di wilayah ini yang mungkin sudah sering Anda kunjungi. Lalu, jika tersebut nama Tebing Breksi, bagaimana reaksi Anda ?

Satu kata dengan berjuta makna. Satu kota dengan berjuta warna. Melangkah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah romantisme. Apalagi jika kita mengurutkan satu persatu sebab mengapa kota ini sedemikan istimewa dan autentik.

Nama Breksi sendiri datang dari warga, mengikuti tren dimana nama bukit batu tempat wisata di Bali dan Bandung yang hasil potongannya mirip dengan tebing ini, disebut  dengan breksi. Karena itu lah, tebing ini dinamai Tebing breksi.

Tebing Breksi ini merupakan tempat wisata alternatif yang bisa dikunjungi wisatawan karena tergolong baru. Suguhan Taman Tebing Breksi merupakan deretan tebing batu breksi yang menjulang sangat indah.

Tebing ini merupakan wisata alam yang terbentuk jutaan tahun lalu, akan tetapi karena adanya aktivitas penambangan sehingga tempat ini memiliki ornamen-ornamen pahatan. Bekas dari aktivitas penambangan juga membuka penampang dinding tebing sehingga terlihat struktur batuan seperti kue lapis.

Tebing breksi memang lebih banyak disukai bagi penikmat wisata khusus yang bersifat petualangan seperti misalnya panjat tebing, sepeda gunung atau fotografi. Banyak bagian dari tempat ini yang indah untuk dijadikan sebagai obyek foto. Foto pre wedding juga sangat cocok jika dilakukan di tempat ini.

Jika dilihat-lihat maka tempat ini mirip dengan Brown Canyon di Semarang atau bentuk mini dari Grand Canyon di Amerika Serikat. Mungkin dengan semangat yang sama maka dibukalah tempat ini menjadi obyek wisata.

Dari puncak tebingnya, kita dapat melihat lanskap Candi Prambanan, Candi Sojiwan, Candi Barong dan kemegahan Gunung Merapi bahkan kota Yogyakarta. Bagi Anda yang ingin mencapai puncak tebing tidak perlu khawatir repot, dikarenakan suda dibentuk anak tangga di sisi tebing menuju ke atas. Anak tangga di sisi tebing ini juga cantic untuk obyek berfoto.

Obyek wisata geo heritage ini bukan terbentuk secara alami, melainkan berasal dari bukit batu biasa yang menjelma akibat terkikis aktifitas penambangan bahan material bangunan oleh  warga sekitar selama bertahun-tahun lamanya sejak tahun 80-an dan menjadi sumber mata pencarian warga.

Setelah peneliti melakukan kajian terhadap lokasi ini, ditemukan kenyataan bahwa batuan kapur breksi yang ada di tempat itu adalah endapan abu vulkanik dari gunung api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul. Dikarenakan hal tersebut, maka berarti kawasan ini termasuk dalam cagar budaya yang harus dilestarikan.

Jalan menuju Tebing Breksi yang paling cepat dan mudah yakni dari Candi Prambanan. Sehingga apabila dari Jogja, kamu bisa langsung menuju arah Prambanan, lalu ada pertigaan pasar Prambanan ambil kanan arah ke Piyungan. Kemudian dari situ untuk mencapai Tebing Breksi sekitar 3 km.

Untuk menikmati keindahan Tebing Breksi Yogyakarta hanya perlu membayar parkir mobil Rp 5.000 dan motor Rp 2.000.

Tips dan Saran wisata ke Tebing Breksi

Disarankan untuk menggunakan penutup kepada bertali jika berkunjung ke lokasi ini, dikarenakan lokasi yang sangat terik dan angin kencang. Gunakan alas kaki yang senyaman mungkin, aman dan tidak licin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Misalnya jatuh, keseleo atau alas kaki rusak. Jangan lupa membawa bekal air minum. Pada saat akhir pekan, lokasi ini relative lebih ramai, sehingga jika Anda memerlukan ketenangan, maka Anda harus memilih hari lain.

Ada yang bilang lokasi ini sangat cantik pada saat petang dengan dinyalakannya lampu sorot yang diarahkan ke sisi tebing, menghasilkan panorama yang indah dan megah. Jadi patut dicoba mengatur waktu kedatangan Anda ke tempat ini.

Itulah beberapa informasi yang dapat mengenai keindahan Tebing Breksi Yogyakarta. Semoga bermanfaat dan selamat liburan di Yogyakarta serta jangan lupa untuk membuang sampah pada tempatnya.

 

Please follow and like us:

Keindahan Bintang Gemintang di Koleksi Hian Tjen

GayaKeren.id – Hamparan bintang gemintang di Galaksi Bima Sakti yang begitu indah menginspirasi desainer Hian Tjen dalam koleksi terbarunya. Mengusung tema Magellani, Hian menggambarkan keindahan susunan bintang yang menyimpan cerita menarik di dalamnya.

Liburan ke Maroko yang pernah dilewatinya menyisakan kisah tersendiri. Hian (sapaan akrabnya) sempat terpana saat menatap langit Maroko yang menghamparkan bintang gemintang di Galaksi Bima Sakti. Lewat mata teleskop, Hian mendapati susunan bintang seolah menyerupai jalur yang menuju ke arah Selatan. Para ilmuwan mengamati jalur bintang itu merupakan penuntun kawanan burung saat bermigrasi di musim dingin dari Utara untuk mencari tempat baru yang lebih hangat di Selatan.

Tak hanya itu, Hian juga mendapati cerita menarik yang begitu mengagumkan dirinya. Bahwa ada cerita romantis dari rakyat Estonia mengenai bintang-bintang tersebut. Seorang mahadewi bernama Lindu jatuh cinta terhadap ketampanan Cahaya Utara dan menangis patah hati karena kekasihnya tak berkepastian. Ia pun menjelma menjadi sesosok dewi yang memimpin kawanan burung yang terbang dari Utara ke Selatan. Jejak air mata sang Dewi menjadi jalur migrasi burung-burung untuk berpindah dari tempat dingin ke lokasi yang lebih hangat.

Runtutan cerita yang mengesankan Hian itu menciptakan kesan tersendiri bagi Hian. Ia pun menuangkan sederet cerita tersebut dalam pergelaran mode tunggal yang dihelatnya. Mengajak illustrator Ian Permana yang berdomisili di Bali, gambaran si gadis Lindu, burung-burung planet, bulan, rasi bintang, lambing astrologi dan awan-awan menjadi tokoh yang dihidupkan demi megnayakan hayal Hian di atas bahan. HIan juga melakukan perjalanan ke Italia untuk menemukan bahan-bahan halus berkualitas prima demi mewujudkan koleksinya.

Di balik layar, tim artistic Hian berjibaku mengolah ornament  cantik dalam gambaran embellishment baru dari bulu-bulu hingga membentuk bintang-bintang yang diolah dengan teknik temuan sendiri. Gemerlap dan kerlip bintang pun hadir sebagai motif yang diuntai dari benang emas, benang perak dengan teknik sulaman tangan yang sangat halus.

Magellani yang mempersembahkan 59 set busana Hian Tjen Couture 2017-2018 tersebut menjadi bukti eksistensi Hian di dunia mode selepas pergelaran tunggalnya pada dua tahun lalu yang penuh drama. Kali ini, Hian menampilkan koleksi yang lebih ringkas, lebih ringan sekaligus bergaya kekinian.

Meski berdesain lebih ringkas, tingkat kesulitan yang dihadapi Hian justru lebih rumit karena busananya sarat unsur dekoratif serta detail yang ditampilkan hanya bersifat menguatkan desain dan bukan sebagai penghias.

Seperti koleksi jaket berlengan lonceng yang dipadu rok lebar klok dari bahan flannel atau terusan span berbahan tipis dengan nafas mode era 1940-an. Detail bintang-bintang yang dijahitkan satu per satu di atas gaun bukan hanya mempercantik rancangan tetapi mempertegas ide.

Busana lainnya terlihatt pada gaun malam panjang dengan rok tumpuk di atas bahan tulle untuk memberi kesan dewi. Serta ada pula jaket lebar bertuliskan citra tokoh gadis Lindu di antara lambang astrologi hasil sulam tangan yang menjadikannya sebagai aksen penyita perhatian. Kekayaan sulam tangan dan bordir ini tampak pula menguatkan rancangan blus, rok dan gaun-gaun yang saling berpadupadan dalam garis simpel.

 

Please follow and like us: