Foto : GayaKeren.id // Roberto

GayaKeren.id – Magnificent Borobudur. Tema ini diusung dalam pergelaran fashion parade di Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang digelar oleh Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APMMI) berkolaborasi dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 28 Maret-1 April 2018.

Menerjemahkan Magnificent Borobudur yang digelar di hari kedua IFW 2018, Kamis (29/3), sembilan desainer terkemuka ambil bagian dalam slot prime ini, tiga di antaranya merupakan desainer internasional (Milo dari Italia, May Myat Waso dan Yone Yone dari Myanmar). Sedangkan desainer Tanah Air adalah Musa Widyatmodjo, Misan Kopaka, Denny Djoewardi, Sugeng Waskito, Harry Ibrahim, dan Kursein Karzai (semuanya anggota APPMI), serta desainer senior Chossy Latu yang malam ini mendedikasikan karyanya untuk maestro batik Indonesia, Iwan Tirta.

Hampir semua desainer menerjemahkan kemegahan Borobudur dengan sentuhan batik dan lurik. Desainer asal Jawa Timur, Denny Djoewardi mengusung tema Java Heritage yang mengeksplorasi batik ke dalam busana terusan selutut serta two pieces dengan bawahan celana panjang 7/8. Yang unik, Ketua APPMI Jawa Timur ini mendandani para model dengan topi yang menyerupai stupa candi.

Desainer senior, Musa Widyatmodjo, mengangkat keindahan Borobudur dalam tema Senja. Karya ini dia terjemahkan dalam gaun-gaun batikkontemporer. Musa menampilkan karya batik namun jauh dari kesan etnik.
Koleksi yang dilansir Musa kali ini – antara lain menampilkan kebaya kutubaru yang tampil kekinian. “Kain yang saya pakai tradisional, tapi look-nya lebih kontemporer. Ini semacam kawin silang yang menghasilkan tampilan akhir modern,” bebernya.

Musa menerjemahkan tema ‘Senja’ di Borobudur yang kaya nuansa warna. Busana yang ditampilkan terinspirasi dari gaya bikshu, juga bunga teratai yang kaya filosofi hidup. Nuansa oranye mendominasi koleksi Musa. “Warna oranye juga terinspirasi oleh busana para bikshu,” ujarnya.

Busana loose melayang oranye itu makin semarak karena Musa jugamengaplikasikan corak stupa Borobudur di sekeliling bagian bawahbusana. Tak lupa, hiasan rambut menjulang bak stupa di kepala model menambah keunikan karyanya.

Sedangkan Sugeng Waskito, menampilkan gaun-gaun ringan melayang bercorak candi Borobudur juga patung-patungnya. Proses rancangan dilakukan secara manual, mulai dari kain putih, pembatikan, pewarnaan hingga jahit. Rancangan untuk koleksi kali ini menggunakan sutera batik tulis dan dipadukan dengan aksesoris plat tembaga sepuh emas 18 karat untuk menghasilkan efek glamour dan elegan.

Desainer Harry Ibrahim tampil mencuri perhatian dengan menampilkan koleksi seksi, berupa gaun terusan menggunakan materi ringan yang terkesan loose, hingga baju atasan yang mengeksplor kaki jenjang pemakainya dilengkapi dengan hiasan kepala berupa kain menjuntai. Warna biru solid mendominasi koleksi desainer yang mengambil tema Nirvana.

Dalam kesempatan itu, Harry juga memamerkan busana yang terinspirasi budaya Jawa Tengah. Ia menampilkan busana pria berupa modifikasi beskap yang terbuka di bagian tengah. Detail kain lurik di bagian lengan menjadikan look koleksi ini terlihat muda dan segar.

Tampil sebagai penutup adalah Kursein Karzai. Desainer kelahiran Cilacap ini menampilkan busana santun dalam tema Miracle. Anggota APPMI yang menekuni dunia fashion ini menampilkan batik modern dipadu dengan coat panjang. Uniknya, pemilik brand KursienKarzai Prive ini mendandani modelnya dengan penutup kepala yangdilengkapi dengan materi semacam jala yang separuh menutup wajah.Warna coklat, hitam juga putih mendominasi koleksi Kursien yangmenunjukkan bahwa modest wear menggunakan unsur batik bisa tampil modern dan tidak membosankan.

 

 

 

Please follow and like us:

Leave a Reply