PELUNCURAN HOTEL NEO PURI INDAH JAKARTA

GayaKeren.idArchipelago International, grup manajemen hotel milik swasta dan independen terbesar di Asia Tenggara, melanjutkan ekspansi yang sangat cepat dari merek Hotel NEO yang inovatif dan sangat populer dengan pembukaan Hotel NEO Puri Indah di Jakarta. Hotel ini juga menandai hotel Archipelago ke-25 di kota Jakarta.
Hotel NEO terbaru hadir dengan 96 kamar tamu yang luas, dimana masing-masing menampilkan TV LED dengan saluran internasional & lokal, area kerja dengan stop kontak universal, kulkas, pembuat teh & kopi, dan kamar mandi dengan perlengkapan mandi yang lengkap. Sebuah restoran kasual dan lounge di bagian teratas hotel dengan live music menambah pengalaman tamu, serta dua ruang pertemuan modern yang dapat digabungkan menjadi satu untuk kebutuhan bisnis.
‘Hotel NEO mungkin adalah salah satu merek hotel yang terkenal unik dikalangan para tamu, dengan unique selling point yang dimilikinya. Dengan posisi klasifikasi diantara standard hotel bintang dua dan bintang tiga, menjadikannya Hotel NEO sebagai pilihan yang menarik dan terjangkau oleh segala lapisan. Terlebih lagi, ini adalah hotel ‘modernistik’, tempat dengan gambaran modern dan futuristik. Merekvisioner, imajinatif, yang menciptakan keingin tahuan dan impian. Satu satu ciri khas Hotel NEO adalah lokasi yang nyaman dan populer, dimana dilokasi yang baru ini berada dilingkungan Puri Indah yang ramai dengan banyak tempat wisata dan pilihan perbelanjaan didekatnya. Tetaplah terhubung dengan kami untuk mengetahui pembukaan Hotel NEO di masa mendatang.’ucap John Flood, President & CEO of Archipelago International.

BNI Syariah Ajak Nasabah Lebih Bijak Investasi di Kala Pandem

GayaKeren.id – BNI Syariah gelar Webinar edukasi produk perbankan syariah untuk nasabah korporasi BNI Syariah diantaranya pegawai PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Angkasa Pura II (Persero), PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) di area Sumatera Utara. Selasa (23/6) diadakan oleh BNI Syariah Kantor Cabang Medan bekerja sama Developer Wiraland Webinar bertemakan “Berinvestasi di tengah Pandemi”. Dengan Webinar ini diharapkan bisa memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan pembiayaan dan investasi pembelian rumah dengan akad syariah.

Hadir dalam acara ini Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi, General Manager Sales & Marketing Wiraland Property, Antonio Onasio;  Pemimpin Divisi Pembiayaan Konsumer BNI Syariah, Mochamad Samson; Pemimpin Regional Head Wilayah Barat BNI Syariah, Dade Dermawan; Deputi Regional Head Wilayah Barat BNI Syariah, Asep Mulyadi; Pemimpin BNI Syariah cabang Medan, Ahmad Zoelva; dan nasabah korporasi BNI Syariah.

Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi mengatakan Webinar ini merupakan bagian dari value Hasanah Banking Partner yang diusung oleh BNI Syariah dalam memberikan layanan yang terbaik sesuai prinsip syariah. “Saat ini, dunia dihadapkan pada kondisi krisis kesehatan yang berdampak pada krisis finansial karena pandemi COVID-19, dengan Webinar ini, kami berharap para nasabah dapat secara jeli melihat peluang investasi, salah satunya melalui properti,” kata Iwan.

Terkait investasi properti, BNI Syariah memiliki produk unggulan yaitu BNI Griya iB Hasanah, merupakan fasilitas pembiayaan konsumtif dengan akad murabahah dan MMQ yang diberikan kepada anggota masyarakat untuk membeli, membangun, merenovasi rumah termasuk ruko, rusun, ruko kantor (rukan), apartemen dan pembelian tanah kavling. Fitur unggulan BNI Griya iB Hasanah adalah sesuai syariah, proses cepat 3 hari kerja, jangka waktu sampai 20 tahun, pembiayaan sampai Rp25 miliar, harga jual tetap sampai lunas, uang muka DP rendah, dan mempunyai fitur 5 bebas yaitu bebas biaya provisi, bebas biaya administrasi, bebas appraisal, bebas denda dan bebas gharar.

Di kala pandemi COVID-19, BNI Syariah meluncurkan program “New Normal” pada pembiayaan konsumer BNI Griya iB Hasanah dengan nama program Tunjuk Rumah DP 0% (Bebas Uang Muka) untuk rumah pertama, Selalu Ada #JalanKebaikan Miliki Rumah Impian. Program ini salah satunya bertujuan untuk pembelian rumah baru atau apartemen baru  pada developer rekanan dengan periode berlaku sampai 31 Desember 2020.

Selain itu, BNI Syariah juga mempunyai program customer hasanah get customer yaitu program apresiasi kepada nasabah eksisting yang memiliki tingkat trust atau track record baik dengan BNI Syariah dan memberikan referral nasabah pembiayaan konsumer.

Sampai triwulan I tahun 2020, outstanding pembiayaan KPR BNI Syariah yaitu BNI Griya iB Hasanah berada di posisi Rp13,58 triliun dengan pertumbuhan 11,86% year on year. Pada awal tahun 2020, BNI Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan BNI Griya iB Hasanah sebesar 9-12% secara tahunan atau year on year (yoy).

BNI Syariah hadir di Kota Medan sejak tahun 2002 dan hingga triwulan I tahun 2020, telah berhasil menghimpun DPK sebesar Rp658 miliar dan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp303 miliar. Saat ini, BNI Syariah dapat melayani nasabah di Kantor Cabang Medan yang beralamat di Jalan Adam Malik No. 151, Kelurahan Silalas, Medan Barat, Medan dan 6 Kantor Cabang Pembantu serta 1 Payment Point.

 

Mempertahankan Bisnis Fashion Ditengah Pandemi Ala 2 Disainer IFC

GayaKeren.id – Dunia fashion tanah air menjadi salah satu bidang usaha ekonomi kreatif yang berkembang pesat saat ini. Sayangnya, dikarenakan pandemi Covid-19 yang mewabah diseluruh dunia juga memberikan dampak luar biasa terhadap pelaku usaha di dunia fashion ini. Berbagai event promo baik skala daerah, nasional maupun internasional terpaksa ditunda, atau bahkan dibatalkan yang pastinya juga berimbas terhadap angka penjualan. Tidak sedikit pelaku usaha mengalami stag atau bahkan menutup usahanya karena menurunnya pembelian, begitu juga didunia fashion.

Indonesia Fashion Chumber atau IFC, yang merupakan salah satu wadah bagi desainer Indonesia terus memberikan motivasi bagi para desainer yang berada dibawah naungannya. Salah satunya menyelenggarakan zoom meeting untuk menggantikan jumpa pers untuk merilis dan memperkenalkan karya para desainer, kemudian dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi juga, IFC mengajak desainer-desainer yang menjadi anggotanya untuk membagi cara bertahan ditengah pandemi.

 

Hannie Hananto. Pemilik brand Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto ini menceritakan bahwa, pandemi ini telah merubah perilaku masyarakat. Karena keharusan bekerja dari rumah, sehingga peng-aksesan media sosial untuk segala bentuk kebutuhan menjadi gaya hidup baru. Berbagai transaksi pun dilakukan melalui jejaring media sosial.

“Pada waktu awal sudah tidak kaget, karena infrastruktur yang utama sudah harus dibenahi yaitu dengan merubah system, penjahit ada yang dikerjakan di Sumedang dan Jakarta (jadi tidak sampai mem PHKan). Pada saat itu Brand saya ada Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto berupa kartun-kartun dan polkadot, semuanya serba print-print nan akan ada event di makassar yang cancel. Di masa pandemic ini, karena sudah ada stock produksi dan persiapan yang lumayan ready akhirnya lewat media tiktok bisa teratasi. Tiktok itu mudah dan buat videonya  bisa diedit, selain itu perlu adanya interaksi antara designer dengan customer, agar brand tidak tenggelam, usahakan just say hello kepada pelanggan.”

Kemudian masker mulai langka dipasaran, pertama kali Hannie Hananto mendapat kiriman masker dari mas phillip dan mbak Hendry  Jogyakarta, membuat Hannie Henanto berpikir untuk sendiri membuat sendiri dengan motif sendiri yang sesuai dengan motif hijab dan baju yang diproduksi. Kemudian diposting di media sosial. “Alhamdulilah respon postif. Bagaimana cara kita membentuk “image baru”dari desain kita itu penting, perlu kepekaan dalam membaca apa yang lagi “Hype”, “tambahnya.

Riri Rengganisi, Indische (ready-to-wear kebaya, berdiri sejak 2008) dan Rengganis (ready-to-wear ethnic contemporary womenswear & accessories, berdiri sejak 2017). Memiliki pasar tersendiri dengan desain unik yang mengangkat teknik tradisional bordir tangan yang didesain secara kontemporer. Selain itu, tekstil tradisional Indonesia lainnya seperti batik tulis dan tenun selalu hadir sebagai pelengkap koleksi.

“Strategi pertama yang pasti dilakukan kebanyakan orang ketika itu adalah genjot medsos dan blast WA ke seluruh customer database utk berpromosi, tapi apa yang terjadi? Malah backfire : mereka “curhat” balik karena kondisi mereka pun sedang tidak memungkinkan untuk berbelanja. Maka dari situ saya segera hentikan broadcast ke pelanggan, karena takut terkesan “tidak sensitif” terhadap situasi mereka. Posting foto baju di medsos juga dihentikan. Lalu dari situ saya rubah strategi,” Riri menceritakan langkah awal yang diambilnya.

Kemudian Riri mengevaluasi produknya dengan mempertimbangkan kelayakan ditawarkan pada saat semua orang mengeluhkan kesusahan. Riri memilih fokus di 2 hal, yaitu : Menawarkan jasa jahit dengan konsep tanpa potong, ini membuat pembeli kain bisa dianggap sebagai investasi, membantu pengrajin, tapi juga bisa dipakai tanpa merusak nilai kain tersebut. Selain itu ditawarkan juga jasa “jahit tanpa potong” untuk kain dari koleksi pribadi para pelanggan.

Dan membuat masker dengan desain yang bisa dipadankan dengan bestsellers koleksi lama supaya bisa ditawarkan ke semua pelanggan loyal. “Di awal April belum banyak brand lain yang membuat masker premium, maka saya buru-buru post foto 2 desain masker berbordir dipadukan dengan bajunya. Tanggapannya ternyata bagus, maka seminggu berikutnya (pertengahan April) saya launch lagi 7 desain baru. Di minggu terakhir April, pesanan yang masuk alhamdulillah menutup kekurangan omset di awal bulan hingga masih bisa menggaji karyawan.”

Konsep menawarkan produk yang relevan saja, komunikasi personal dengan pelanggan, eksis terus di medsos, dan diskon selected items menjadi strategi marketing untuk untuk ketahanan bisnis sementara ini. “Tetapi semua itu memang terbantu oleh adanya website, karena tanpa itu tidak mungkin saya mendapat kepercayaan secepat ini dari pelanggan baru. Di bulan Juni, masker saya sudah dipesan untuk pelanggan baru di Singapore, Korea, Jerman, London, Filipina, juga sebagai corporate gift salah satu bank di Indonesia,” tutup Riri.

 

Sharing, Tips Bertahan Ditengah Pandemi Ala Desainer IFC

GayaKeren.id – Tidak bisa dipungkiri, merebaknya pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap hampir semua sektor usaha. Dari mulai pengurangan jumlah produksi, pengurangan jumlah jam kerja, hingga pengurangan tenaga kerja, dengan kata lain pemutusan hubungan kerja. Dan banyak pengusaha harus melakukan inovasi agar usahanya tetap bisa bertahan ditengah kesusahan yang dirasakan secara global diseluruh dunia.

Kondisi bisnis yang sulit ini juga dirasakan oleh pelaku usaha di dunia fashion, hal ini terungkap saat Indonesia Fashion Chumber melakukan Sharing Session melalui aplikasi Zoom Meeting pada Senin (22/6). Lima disainer Indonesia dibawah naungan IFC menceritakan bagaimana mereka bertahan dengan melakukan inovasi dengan mengikuti kebutuhan konsumen tanpa mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku saat ini, namun tetap mempertahankan ciri khas karyanya.

Rosie Rahmadi, pemilik brand Gadiza mengungkapkan peran penting dari para mentor dan SDM yang membantunya bertahan. Pada awal masa pandemi, pertama yang dilakukan Creative Director Gadiza adalah membangun mental diri untuk menghadapi kondisi ini, membangun mental tim, kesehatan diri dan semangat. Setelah itu, dimulailah koordinasi dengan tim untuk menyusun strategi untuk bertahan. Strategi pertama yang dilakukan adalah yaitu mulai melakukan aktivasi digital. Aktivasi Digital yang dilakukan diantaranya memaksimalkan media social dan website sebagai sarana untuk penjualan dan branding. Salah satu strategi yang dilakukan untuk menarik orang untuk berbelanja online yaitu menerapkan strategi diskon dan digital marketing. Hal tersebut sekaligus menghindari penumpukan stok berlebih.

Alat Pelindung Diri atau APD yang kemudian menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak bisa melakukan aktifitas kerjanya dari rumah, membuat Rosie terinspirasi untuk mendesain outer yang juga berfungsi sebagai APD. SAZIA OUTER sebagai Outer Pelindung Diri. Dengan desain yang simple, penggunakaan bahan yang ringan dan water repellent. Hanya dalam waktu singkat, Sazia Outer yang awalnya melimpah di Gudang Maison Gadiza habis dan harus memproduksi lagi. Hingga saat ini, Rosie Rahmadi telah mengeluarkan desain Outer Pelindung Diri yang tidak hanya bisa digunakan oleh perempuan tetapi juga laki-laki (Unisex). Permintaan SAZIA OUTER ini didominasi oleh orang yang masih harus beraktivitas di luar, seperti dokter, pekerja kantoran, dan ibu rumah tangga. Kebanyakan pengguna memiliki lebih dari satu SAZIA Outer, karena harus dicuci setiap setelah pakai dan keesokan harinya harus dipakai lagi untuk kembali keluar.

Khairul Fajri, member IFC asal Aceh ini pun terkena imbas diberlakukannya PSBB di Aceh. Pemilik brand lokal, Ija Kroeng yang identik dengan kain sarung etnik Aceh dan pakaian muslim pria milenial ini mengalami penurunan penjualan hingga 99%. Saat WHO menganjurkan masyarakat memakai masker kain sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, permintaan akan masker kainpun meningkat tajam sehingga mengakibatkan kelangkaan masker dan harga yang tidak normal dipasar.

“Sektor bisnis fashion khususnya yang memproduksi sendiri produknya atau minimal memiliki mesin jahit menurut saya, salah satu sektor bisnis yang paling mampu untuk bertahan karna masih bisa memproduksi produk- produk yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan team medis seperti masker dan APD. Di Aceh, tidak semua rumah produksi memiliki mesin jahit sekaligus perlengkapan printing kain. Workshop Ija Kroeng yang memiliki mesin jahit dan peralatan manual printing mengambil kesempatan ini untuk memproduksi masker berlogo brand ija kroeng.” ungkap Khairul Fajri.

Selain menjual langsung masker berlogo brand ija kroeng di media sosial dan di workshop, strategi masketing lainya ialah dengan memproduksi sample masker berlogo instansi atau perusahaan seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan Aceh, Musium Aceh, Aceh Business Club dan lainya yang dianggap memiliki kemungkinan besar untuk memesan masker dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masyarakat.

Secara tidak langsung momen ini sangat membantu untuk menyebarkan informasi tentang brand kita kepada konsumen baru yang selama ini tidak bisa dijangkau, menjaga eksistensi dan menguatkan posisi brand dimata konsumen. Hal ini bisa dilihat dari bertambahanya follower di media sosial yang siknifikan sehingga berefek kepada penjualan bulanan khususnya selama bulan Ramadhan terhadap produk utama seperti kain sarung, celana sarung dan baju  muslim pria.

Setelah dimulainya new normal dimana masyarakat sudah bisa beraktifitas seperti biasa walaupun ada pembatasan pembatasan untuk mencegah kembali penyebaran covid-19. Acara- acara pernikahan di mesjid juga sudah mulai diselenggarakan kembali dengan salah satu syaratnya ialah semua orang wajib memakai masker. Ija kroeng melihat ada peluang dan segera berinovasi lagi memproduksi masker kain bertuliskan nama pasangan pengantin sebagai souvenir, kemudian masker ini akan dibagikan kepada seluruh orang yang akan datang ke acara pernikahan tersebut.

Phillip Iswardhono, Chairma IFC Jogja ini memiliki produk kain lurik yang tersebar sebanyak 75 % database dijakarta, 10% bandung, surabaya medan dan lain 4,5%, Jogya malah paling sedikit yaitu 0,5%.

“Minggu pertama hingga kedua kami tidak mengalami kegugupan/nervous karena masih runing dari PO sebelum pandemic. Mulai merasakan tidak ada order baru setelah minggu ketiga, kemudian muncul ide baru bagaimana caranya untuk tetep jualan. Saya mulai membangun networking kembali, menghubungi database clien-clien yang lain, lewat whatsapp hanya menyapa, kalau dapat alamat dikirim masker sebagai hadiah ke client. Efek positif lainnya merekrut kembali client-client yang udah lama tidak dihubungi,” ungkap Phillip.

Dari jualan masker dengan harga Rp 3500 kain perca, sampai masker seharga Rp 1 jt rupiah dengan bahan kain tenun langka 1 pcs Rp 1 juta, saat ini museum peranakan di Singapore  sudah memesan 1860 pc dengan batik motif-motif peranakan.

Kesulitan untuk mengirim ke luar negeri jangan dihadapi dengan gugup, menyikapi dengan hati-hati dan tidak parno. Sekarang ini tidak mengurangi malah menambah penjahit baru, selain itu untuk tetap eksis memesan pengrajin kain-kain tenun khususnya lurik, untuk tetap beraktifitas.