GayaKeren.id – Dunia fashion tanah air menjadi salah satu bidang usaha ekonomi kreatif yang berkembang pesat saat ini. Sayangnya, dikarenakan pandemi Covid-19 yang mewabah diseluruh dunia juga memberikan dampak luar biasa terhadap pelaku usaha di dunia fashion ini. Berbagai event promo baik skala daerah, nasional maupun internasional terpaksa ditunda, atau bahkan dibatalkan yang pastinya juga berimbas terhadap angka penjualan. Tidak sedikit pelaku usaha mengalami stag atau bahkan menutup usahanya karena menurunnya pembelian, begitu juga didunia fashion.

Indonesia Fashion Chumber atau IFC, yang merupakan salah satu wadah bagi desainer Indonesia terus memberikan motivasi bagi para desainer yang berada dibawah naungannya. Salah satunya menyelenggarakan zoom meeting untuk menggantikan jumpa pers untuk merilis dan memperkenalkan karya para desainer, kemudian dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi juga, IFC mengajak desainer-desainer yang menjadi anggotanya untuk membagi cara bertahan ditengah pandemi.

 

Hannie Hananto. Pemilik brand Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto ini menceritakan bahwa, pandemi ini telah merubah perilaku masyarakat. Karena keharusan bekerja dari rumah, sehingga peng-aksesan media sosial untuk segala bentuk kebutuhan menjadi gaya hidup baru. Berbagai transaksi pun dilakukan melalui jejaring media sosial.

“Pada waktu awal sudah tidak kaget, karena infrastruktur yang utama sudah harus dibenahi yaitu dengan merubah system, penjahit ada yang dikerjakan di Sumedang dan Jakarta (jadi tidak sampai mem PHKan). Pada saat itu Brand saya ada Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto berupa kartun-kartun dan polkadot, semuanya serba print-print nan akan ada event di makassar yang cancel. Di masa pandemic ini, karena sudah ada stock produksi dan persiapan yang lumayan ready akhirnya lewat media tiktok bisa teratasi. Tiktok itu mudah dan buat videonya  bisa diedit, selain itu perlu adanya interaksi antara designer dengan customer, agar brand tidak tenggelam, usahakan just say hello kepada pelanggan.”

Kemudian masker mulai langka dipasaran, pertama kali Hannie Hananto mendapat kiriman masker dari mas phillip dan mbak Hendry  Jogyakarta, membuat Hannie Henanto berpikir untuk sendiri membuat sendiri dengan motif sendiri yang sesuai dengan motif hijab dan baju yang diproduksi. Kemudian diposting di media sosial. “Alhamdulilah respon postif. Bagaimana cara kita membentuk “image baru”dari desain kita itu penting, perlu kepekaan dalam membaca apa yang lagi “Hype”, “tambahnya.

Riri Rengganisi, Indische (ready-to-wear kebaya, berdiri sejak 2008) dan Rengganis (ready-to-wear ethnic contemporary womenswear & accessories, berdiri sejak 2017). Memiliki pasar tersendiri dengan desain unik yang mengangkat teknik tradisional bordir tangan yang didesain secara kontemporer. Selain itu, tekstil tradisional Indonesia lainnya seperti batik tulis dan tenun selalu hadir sebagai pelengkap koleksi.

“Strategi pertama yang pasti dilakukan kebanyakan orang ketika itu adalah genjot medsos dan blast WA ke seluruh customer database utk berpromosi, tapi apa yang terjadi? Malah backfire : mereka “curhat” balik karena kondisi mereka pun sedang tidak memungkinkan untuk berbelanja. Maka dari situ saya segera hentikan broadcast ke pelanggan, karena takut terkesan “tidak sensitif” terhadap situasi mereka. Posting foto baju di medsos juga dihentikan. Lalu dari situ saya rubah strategi,” Riri menceritakan langkah awal yang diambilnya.

Kemudian Riri mengevaluasi produknya dengan mempertimbangkan kelayakan ditawarkan pada saat semua orang mengeluhkan kesusahan. Riri memilih fokus di 2 hal, yaitu : Menawarkan jasa jahit dengan konsep tanpa potong, ini membuat pembeli kain bisa dianggap sebagai investasi, membantu pengrajin, tapi juga bisa dipakai tanpa merusak nilai kain tersebut. Selain itu ditawarkan juga jasa “jahit tanpa potong” untuk kain dari koleksi pribadi para pelanggan.

Dan membuat masker dengan desain yang bisa dipadankan dengan bestsellers koleksi lama supaya bisa ditawarkan ke semua pelanggan loyal. “Di awal April belum banyak brand lain yang membuat masker premium, maka saya buru-buru post foto 2 desain masker berbordir dipadukan dengan bajunya. Tanggapannya ternyata bagus, maka seminggu berikutnya (pertengahan April) saya launch lagi 7 desain baru. Di minggu terakhir April, pesanan yang masuk alhamdulillah menutup kekurangan omset di awal bulan hingga masih bisa menggaji karyawan.”

Konsep menawarkan produk yang relevan saja, komunikasi personal dengan pelanggan, eksis terus di medsos, dan diskon selected items menjadi strategi marketing untuk untuk ketahanan bisnis sementara ini. “Tetapi semua itu memang terbantu oleh adanya website, karena tanpa itu tidak mungkin saya mendapat kepercayaan secepat ini dari pelanggan baru. Di bulan Juni, masker saya sudah dipesan untuk pelanggan baru di Singapore, Korea, Jerman, London, Filipina, juga sebagai corporate gift salah satu bank di Indonesia,” tutup Riri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *