GayaKeren.id – Tidak bisa dipungkiri, merebaknya pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap hampir semua sektor usaha. Dari mulai pengurangan jumlah produksi, pengurangan jumlah jam kerja, hingga pengurangan tenaga kerja, dengan kata lain pemutusan hubungan kerja. Dan banyak pengusaha harus melakukan inovasi agar usahanya tetap bisa bertahan ditengah kesusahan yang dirasakan secara global diseluruh dunia.

Kondisi bisnis yang sulit ini juga dirasakan oleh pelaku usaha di dunia fashion, hal ini terungkap saat Indonesia Fashion Chumber melakukan Sharing Session melalui aplikasi Zoom Meeting pada Senin (22/6). Lima disainer Indonesia dibawah naungan IFC menceritakan bagaimana mereka bertahan dengan melakukan inovasi dengan mengikuti kebutuhan konsumen tanpa mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku saat ini, namun tetap mempertahankan ciri khas karyanya.

Rosie Rahmadi, pemilik brand Gadiza mengungkapkan peran penting dari para mentor dan SDM yang membantunya bertahan. Pada awal masa pandemi, pertama yang dilakukan Creative Director Gadiza adalah membangun mental diri untuk menghadapi kondisi ini, membangun mental tim, kesehatan diri dan semangat. Setelah itu, dimulailah koordinasi dengan tim untuk menyusun strategi untuk bertahan. Strategi pertama yang dilakukan adalah yaitu mulai melakukan aktivasi digital. Aktivasi Digital yang dilakukan diantaranya memaksimalkan media social dan website sebagai sarana untuk penjualan dan branding. Salah satu strategi yang dilakukan untuk menarik orang untuk berbelanja online yaitu menerapkan strategi diskon dan digital marketing. Hal tersebut sekaligus menghindari penumpukan stok berlebih.

Alat Pelindung Diri atau APD yang kemudian menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak bisa melakukan aktifitas kerjanya dari rumah, membuat Rosie terinspirasi untuk mendesain outer yang juga berfungsi sebagai APD. SAZIA OUTER sebagai Outer Pelindung Diri. Dengan desain yang simple, penggunakaan bahan yang ringan dan water repellent. Hanya dalam waktu singkat, Sazia Outer yang awalnya melimpah di Gudang Maison Gadiza habis dan harus memproduksi lagi. Hingga saat ini, Rosie Rahmadi telah mengeluarkan desain Outer Pelindung Diri yang tidak hanya bisa digunakan oleh perempuan tetapi juga laki-laki (Unisex). Permintaan SAZIA OUTER ini didominasi oleh orang yang masih harus beraktivitas di luar, seperti dokter, pekerja kantoran, dan ibu rumah tangga. Kebanyakan pengguna memiliki lebih dari satu SAZIA Outer, karena harus dicuci setiap setelah pakai dan keesokan harinya harus dipakai lagi untuk kembali keluar.

Khairul Fajri, member IFC asal Aceh ini pun terkena imbas diberlakukannya PSBB di Aceh. Pemilik brand lokal, Ija Kroeng yang identik dengan kain sarung etnik Aceh dan pakaian muslim pria milenial ini mengalami penurunan penjualan hingga 99%. Saat WHO menganjurkan masyarakat memakai masker kain sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, permintaan akan masker kainpun meningkat tajam sehingga mengakibatkan kelangkaan masker dan harga yang tidak normal dipasar.

“Sektor bisnis fashion khususnya yang memproduksi sendiri produknya atau minimal memiliki mesin jahit menurut saya, salah satu sektor bisnis yang paling mampu untuk bertahan karna masih bisa memproduksi produk- produk yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan team medis seperti masker dan APD. Di Aceh, tidak semua rumah produksi memiliki mesin jahit sekaligus perlengkapan printing kain. Workshop Ija Kroeng yang memiliki mesin jahit dan peralatan manual printing mengambil kesempatan ini untuk memproduksi masker berlogo brand ija kroeng.” ungkap Khairul Fajri.

Selain menjual langsung masker berlogo brand ija kroeng di media sosial dan di workshop, strategi masketing lainya ialah dengan memproduksi sample masker berlogo instansi atau perusahaan seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan Aceh, Musium Aceh, Aceh Business Club dan lainya yang dianggap memiliki kemungkinan besar untuk memesan masker dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masyarakat.

Secara tidak langsung momen ini sangat membantu untuk menyebarkan informasi tentang brand kita kepada konsumen baru yang selama ini tidak bisa dijangkau, menjaga eksistensi dan menguatkan posisi brand dimata konsumen. Hal ini bisa dilihat dari bertambahanya follower di media sosial yang siknifikan sehingga berefek kepada penjualan bulanan khususnya selama bulan Ramadhan terhadap produk utama seperti kain sarung, celana sarung dan baju  muslim pria.

Setelah dimulainya new normal dimana masyarakat sudah bisa beraktifitas seperti biasa walaupun ada pembatasan pembatasan untuk mencegah kembali penyebaran covid-19. Acara- acara pernikahan di mesjid juga sudah mulai diselenggarakan kembali dengan salah satu syaratnya ialah semua orang wajib memakai masker. Ija kroeng melihat ada peluang dan segera berinovasi lagi memproduksi masker kain bertuliskan nama pasangan pengantin sebagai souvenir, kemudian masker ini akan dibagikan kepada seluruh orang yang akan datang ke acara pernikahan tersebut.

Phillip Iswardhono, Chairma IFC Jogja ini memiliki produk kain lurik yang tersebar sebanyak 75 % database dijakarta, 10% bandung, surabaya medan dan lain 4,5%, Jogya malah paling sedikit yaitu 0,5%.

“Minggu pertama hingga kedua kami tidak mengalami kegugupan/nervous karena masih runing dari PO sebelum pandemic. Mulai merasakan tidak ada order baru setelah minggu ketiga, kemudian muncul ide baru bagaimana caranya untuk tetep jualan. Saya mulai membangun networking kembali, menghubungi database clien-clien yang lain, lewat whatsapp hanya menyapa, kalau dapat alamat dikirim masker sebagai hadiah ke client. Efek positif lainnya merekrut kembali client-client yang udah lama tidak dihubungi,” ungkap Phillip.

Dari jualan masker dengan harga Rp 3500 kain perca, sampai masker seharga Rp 1 jt rupiah dengan bahan kain tenun langka 1 pcs Rp 1 juta, saat ini museum peranakan di Singapore  sudah memesan 1860 pc dengan batik motif-motif peranakan.

Kesulitan untuk mengirim ke luar negeri jangan dihadapi dengan gugup, menyikapi dengan hati-hati dan tidak parno. Sekarang ini tidak mengurangi malah menambah penjahit baru, selain itu untuk tetap eksis memesan pengrajin kain-kain tenun khususnya lurik, untuk tetap beraktifitas.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *