Pelabuhan ‘Cinta’ Adi Adrian

GayaKeren.id – Adi Adrian menemukan pelabuhan cintanya di dunia kecantikan. Dunia tersebut tak hanya membuatnya ‘hidup’ secara finansial tetapi juga menghidupkan karya-karyanya melalui goresan make up yang dipoleskannya.

Meniti karier di dunia make up artist yang kemudian membesarkan namanya, sosok Adi Adrian  memang pantas dibanggakan. Goresan karya make up nya tak hanya kita jumpai pada deretan klien prestise tetapi juga deretan figur publik yang senantiasa mempercayakannya untuk membuatnya tampil cantik dan berbeda.

Ya, dunia tata rias sepertinya memang tak hanya menjadi passion-nya tetapi telah mendarah daging dalam dirinya. Adi begitu mencintai dunia yang tak hanya mengibarkan namanya di dunia kecantikan tersebut tetapi juga menawarkan kemapanan finansial.

Adi yang sempat bekerja di bank tersebut menuturkan bahwa dunia make up artist yang dilakoninya tersebut sangatlah menjanjikan khususnya mengenai pendapatan yang diterimanya dari hasil kerja kerasnya selama ini.

Diakuinya bahwa dunia ini sesungguhnya hanya menjadi bagian dari hobinya. Dan dunia ini pun sebenarnya tak pernah menjadi cita-cita dalam hidupnya. Meski demikian, setelah dilakoni secara mendalam hobinya tersebut, justru dunia ini begitu menggiurkan karena tawaran pundi-pundi rezekinya begitu melimpah ketimbang ia bekerja sebagai pegawai kantoran. Hal inilah yang kemudian membuatnya ‘berpaling’ dan serius menekuni dunia ini sebagai profesi.

Walau dunia make up artist begitu menjanjikan, Adi menuturkan bahwa tidaklah mudah untuk mendapatkan seperti apa yang dirasakannya saat ini. Apalagi, pemain di dunia make up artist sangatlah banyak. Ia pun berujar bahwa tak mudah untuk meyakinkan orang untuk menggunakan jasanya begitu saja karena calon klien akan melihat seperti apa hasil karya make up yang diciptakan, produk make up apa saja yang digunakan, serta siapa saja orang-orang yang sudah sempat menggunakan jasa make up dirinya.

Dan realitanya, Adi pun merasakan hitam putih tersebut. Namun Adi tak pernah putus asa memenangkan setiap ‘peluang’ yang ada. Dengan menunjukkan karya terbaiknya selama ini serta menunjukkan kerja keras, keseriusan serta senantiasa berkomitmen memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya, Adi pun mampu membuktikan bahwa namanya memang patut diperhitungkan di dunia make up artist.

Terbukti, klien-klien bonafit sukses digaetnya baik dari kalangan selebriti dan klien premium lainnya. Sebut saja Agnes Monica yang menjadi langganannya dalam berbagai event serta sederet selebriti papan atas lainnya yang juga selalu menggunakan jasanya. Hal tersebut menjadi pembuktian bahwa sukses yang diraihnya memang buah dari kerja kerasnya selama ini dengan senantiasa memberikan karya terbaiknya dalam berbagai kesempatan.

Dunia make up artist yang kini begitu prestise pun menjadi kebanggaan bagi dirinya. Apalagi, berbondong-bondong orang ingin menjadi bagian di dalamnya. Sebagai orang yang lebih dulu berkecimpung di bidang ini, Adi merasa bangga karena bidang yang ditekuninya menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan sebagai sebuah profesi prestisius.

 

Please follow and like us:

Hendra Hairock,  Seni Membawanya Jadi Hair Stylish

GayaKeren.id – Penampilannya yang eksentrik membuatnya mudah di kenal, terlebih setelah ia ikut ajang pencarian bakat untuk para hairstyles dan barber yang di gelar salah satu stasiun tv nasional Indonesia, walau tak menjadi juara nama Hendra Hairock semakin meruncing terutama di kalangan para barber dan hairstylis di Indonesia.

Tumbuh dan besar di lingkungan yang sarat dengan sentuhan seni seperti Kota Bandung, membuat Hendra larut dan terhanyut dalam irama seni yang menggelora dalam jiwa dan kesehariannya, dan hal itu pula yang membuat Hendra memutuskan untuk menekuni bidang hair style

Hendra mengaku sempat merasa galau dengan kehidupannya, ia yang terlanjur menikmati dunia seni dan berupaya mengeksplor jiwa seninya dengan berbagai hal termasuk bermusik dan kegiatan seni lainnya, namun semuanya tak membuatnya menemukan kenyamanan. Hendra mengaku masih bingung mencari profesi yang bisa mengeluarkan segala ekspresi

Hingga suatu saat Hendra bersentuhan dengan dunia hair style secara tak sengaja, entah mengapa Hendra mengaku merasa ada sesuatu yang menarik dalam dunia hair style, menurutnya dunia hair style adalah dunia yang tak akan pernah habis untuk di eksplor.

Walau telah tertarik dengan dunia hair style sejak ia duduk di bangku SMU, Hendra baru menyadari bahwa dunia hair style merupakan bidang yang sangat menantang, membutuhkan ketekunan, keseriusan dan ilmu yang mumpuni

Mulai saat itulah Hendra berniat untuk belajar dan mendalami dunia hair style, dengan mengikuti berbagai seminar dan kompetisi, ”saya sadar bahwa untuk bisa menjadi seroang yang profesional saya harus mendekati orang-orang yang juga profesional, kebetulan waktu itu Rudi Hadisuwarno mengadakan kompetisi dan saya menjadi juara,” tutur Hendra

Sejak saat itu keninginan Hendra untuk bisa menjadi seorang yang profesional terus menggebu, kompetisi-demi kompetisi ia ikuti, namanya semakin di kenal di kalangan para ‘seniman rambut’, terlebih saat ia mampu menembus babak final di ajang pencarian bakat The Cut.

Kemampuan Hendra yang saat ini di miliki di akui Hendra tidak ia dapatkan dari pendidikan formal, ilmu ‘seni rambut’ justru ia dapatkan dari berbagai pengalaman saat ia mengikuti berbagai kompetisi di tanah air

Saat ini Hendra sedang menikmati keberhasilannya eksis di dunia hair style, namun ia mengakui keberhasilannya itu di raih tidak dengan mudah, banyak rintangan yang harus ia lalui terutama dari keluarganya sendiri.

“Dulu keluarga saya menganggap profesi hair style bagi laki-laki itu berkonotatif negatif,  tidak memililiki masa depan, tapi Alhamdulillah, sekarang keluarga saya mendukung, malah saya menjadi inspirasi bagi anggota keluarga yang lain untuk mengikuti jejak saya,” ujar Hendra.

Hal lain yang menurut Hendra menjadi halangan tersulit yang ia hadapi saat memutuskan untuk terjun di bidang seni memangkas rambut adalah pemikiran masyarakat yang belum bisa sepenuhnya menerima seni sebagai bagian dari pekerjaan atau profesi.

“Saat ini profesi di bidang seni, termasuk  profesi yang saat ini saya jalani belum bisa mejadi sesuatu yang bisa dibanggakan, belum bisa di hargai seperi halnya profesi lain dan saya harus terus berjuang agar profesi ini bisa menjadi profesi yang di akui di masyarakat,” jelas Hendra

Namun demikian Hendra saat ini bisa bersyukur bahwa perjuangan para ‘seniman rambut’ selama ini sudah menunjukan hasil yang positif karena industri barber sudah mulai di lirik banyak orang, ”sekarang bisnis barber sudah booming, ini seolah sudah menjadi kebutuhan primer, tapi saya harus akui masih banyak yang yang harus di benahi termasuk standarisasi barbershop.” ucap Hendra

Dibalik penampilannya yang nyentrik bahkan terkesan ‘garang’ Hendra meerupakan sosok yang humble, mudah bergaul, Ia tak segan membagi ilmunya pada siapa saja yag hendak belajar tentang seni memangkas rambut.

Ia bahkan berpesan untuk para pemula yang hendak terjun di dunia barber agar senantiasa berlatih, “Belajar teori secukupnya, tapi berlatihlah berpuluh-puluh kali, beratus-ratus kali, beribu-ribu kali,”

Please follow and like us:

Dandy Randika Bimantara, Usung Barbershop Yang Memanjakan Kaum Pria

GayaKeren.id – Sederhana dan humoris kesan yang menonjol saat bertemu dengan Dandy Randika Bimantara, yang biasa dipanggil dengan sebutan Bima.

Dalam menjalani bisnis barbershop, bukan menjadi cita-citanya dan merupakan hal yang sangat sulit yang harus dijalani. Keahliannya di dunia design graphis di Ibukota Jakarta akhirnya menariknyauntuk memutuskan untuk hijrah dan menetap di Surabaya sebagai Putera Daerah, ia ingin membangun di kota kelahirannya.

“Mulai jatuh hati pada dunia barbershop selepas kunjungannya ke Negara Kangguru, dan terinspirasi ingin membuat Barbershop dengan konsep Hip Hop Shop di Surabaya,” ujar Pria kelahiran tahun 1987 ini.

Dengan niat yang ada, akhirnya ia memberanikan diri  bekerjasama dengan rekannya dengan mendirikan bisnis barbershop dengan modal usaha bersama yang sangat minim di tahun 2013.  “Awal konsep Barbershop dibuat seperti semi pangkas karena untuk daerah ini belum ada yang buka Barbershop”, imbuhnya.

Melihat animo masyarakat Surabaya yang cukup antusias, akhirnya ia mulai membenahi diri dengan memperbaiki fasilitas, pelayanan dan membuka kesempatan untuk bekerjasama dengan pihak lain. Masa yang sangat tersulit saat mendirikan barbershop ini adalah dengan keterbatasan SDM dan tempat yang cocok untuk usaha ini.

Loyalitas dan kreatifitas karyawan The Roots Barbershop memang perlu diacungkan jempol, pasalnya manajemen memberikan fasilitas dan apresiasi bagi karyawan yang mempunyai andil dalam pengembangan usaha barbershop ini. Belajar dari pengalaman pahit dalam membina karyawan akhirnya manajemen mempunyai SOP (Standard Operation Procedure) yang baik untuk diterapkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Sampai saat ini The Roots Barbershop mempunyai 70 orang karyawan. Manajemen The Roots Barbershop memberi kesempatan bagi staffnya untuk belajar teknik cukur dan mengikuti kompetisi Barbershop supaya profesional dalam mejalankan profesi barber.

The Roots Barbershop mengusung konsep Olschool Barber, memberikan pelayanan maksimal pada pelanggan serta mengedepankan fasilitas-fasilitas yang dapat memanjakan para kaum pria sehingga mampu membuat The Roots Barbershop ini mempunyai 11 cabang yang tersebar di Batam, Bali dan Jakarta.

“Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pebisnis, supaya punya pelanggan setia yaitu dengan memberi kenyamanan bagi pelanggan dan memberikan sambutan yang ramah bagi pelanggan dan kemampuan teknik mencukur yang baik”, ujar pria humoris ini.

Terbukti untuk mendapatkan kenyamanan selama berada di barbershop ini tidak menguras kocek loh.. cukup Rp. 65.000 sudah termasuk cuci, blow dan massage…wow murah kan?!

 

 

Please follow and like us:

Sujadi Siswo, Darah Indonesia Mengalir Deras di Tubuhnya

GayaKeren.id – Nama Sujadi Siswo bukanlah nama asing di dunia jurnalistik, Ia adalah mantan Kepala Biro Indonesia yang pernah berperan penting dalam memberikan peliputan mendalam untuk bidang politik dan nasional dari Sabang sampai Merauke.

Walau lahir,  besar dan sebagai warga negara Singapura, di tubuh Koresponden Senior Chanel NewsAsia  (CNA)  ini mengalir darah Indonesia, maklum ayahnya adalah asli orang Jawa yang beremigrasi ke Selangor Malaysia sebelum perang dunia ke II di tahun 1930-an dan kemudian menikah dengan perempuan Johor.

“Lalu orang tua saya pindah ke Singapura. Singkatnya, saya adalah keturunan dari ayah Jawa dan ibu Melayu, walaupun karakter pribadi saya adalah Singapura,”ujar ayah dari tiga orang anak ini

Perhatiaannya terhadap segala hal tentang Indonesia bukan saja hanya dilatar belakangi oleh nenek moyangnya yang asal Indonesia, tetapi juga tugasnya sebagai seorang Jurnalis selama 10 tahun di indonesia  membuatnya memiliki pandangan mendalam terhadap Indonesia.

“Saya pernah tinggal di Indonesia selama lebih dari 10 tahun. Jadi saya tidak seperti orang Singapura pada umumnya yang memiliki pandangan yang terbatas tentang Indonesia dan masyarakatnya. Selain itu, saya juga memiliki keluarga dan kerabat di Indonesia.” Jelas Sujadi

Sujadi telah mengunjungi hampir seluruh nusantara dalam menjalankan tugasnya, ia mengaku bahwa masa tugasnya di Indonesia adalah salah satu yang paling berkesan, “Saya ingat hari-hari di mana saya harus melakukan berbagai laporan di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Benar-benar melelahkan,” ujarnya

Menurutnya ada banyak tempat indah di Indonesia yang layak dikunjungi, ia juga mengakui jika indonesia memiiki berbagai kekayaan dalam hal budaya, sejarah, sumber daya alam, hingga kekayaan kuliner, “Ada begitu banyak hidangan lezat di Indonesia, tapi saya sangat suka masakan Manado dan Sunda. Sangat lezat,” ujarnya sambil tersenyum

Lebih jauh Sujadi juga bercerita bahwa ada banyak persamaan dan perbedaan antara Singapura dan Indonesia, dalam hal kuliner Singapura dan Indoensia memiliki banyak kesamaan khusunya maknan Melayu

“Ada banyak kesamaan karena sebagian besar hidangan Melayu berasal dari Sumatera, sebagian besar dari Padang atau Medan. Walaupun tentu sudah ada banyak penyesuaian sehingga Anda tidak mendapatkan rasa asli seperti makanan Padang atau Medan,”

Dari sisi masyarakatnya, Sujadi melihat perbedaan yang sangat mencolok. Menurutnya masyarakat Singapura terlalu dingin, masyakat Singapura juga kekurangan sentuhan pribadi. “Interaksi manusia antara warga Singapura perlu ditingkatkan,” katanya singkat

Sementara untuk masyarakat Indonesia Sujadi mengaku terkadang sangat sulit memahami orang-orang Indonesia karena cenderung bersikap terlalu sopan dan non-konfrotatif

“Dalam beberapa kasus, saya harus menebak apakah kata “ya” benar-benar berarti “ya” atau itu hanyalah cara sopan untuk mengatakan “tidak”. Stereotip ini mengacu pada beberapa etnis, seperti Jawa. Namun, tidak selalu berlaku dalam kasus etnis lain, seperti suku Batak misalnya” tutur Sujadi

Di luar adanya persamaan dan perbedaan antara Indonesia dan Singapura, Sujadi mengaku bahwa Indonesia telah mengambil tempat yang spesial di hatinya, ia bahkan bahkan menamakan anak-anak mereka dengan nama Indonesia: Nur Sulastri, Teguh Budiman dan Ilham Luhur.

“Harapan kami adalah bahwa mereka selalu ingat asal-usul keturunan mereka,” kata suami dari Noorasikan Ramli warga negara Singapura yang juga keturunan Indonesia dari Bawean, Jawa Timur ini.

Tidak banyak keluarga Jawa-Singapura yang berminat untuk melacak kembali asal usul mereka, tapi tidak demikian dengan keluarga Sujadi. Sujadi ingat ketika sangayah  membawanya untuk mengunjungi sanak keluarganya pada tahun 1970-an di Purbalingga.

“Kala itu, saya merasakan gegar budaya, betapa berbedanya kehidupan di sana dengan Singapura yang kosmopolitan. Tapi pada saat yang sama, saya merasa sangat beruntung bahwa saya bisa bertemu dengan kerabat saya dari tanah leluhur saya,” tutup Sujadi.

 

 

Please follow and like us:

Jajang Muhidin ‘TCI’, Modal Nekat Berbuah Kesuksesan

GayaKeren – Jajang Muhidin tak pernah bermimpi bisa sampai di tangga karier seperti sekarang ini. Mapan dan dikenal masyarakat luas.

Jika tidak nekat beberapa tahun lalu menghidupkan mimpinya bahwa dunia potong rambut memberikan masa depan cerah, mungkin Jajang Muhidin tak akan kita kenal seperti sekarang ini. Pria asal Sumedang ini mungkin masih bekerja dengan profesi lain atau bahkan tetap bekerja sebagai tukang pangkas rambut pinggiran kota.

Begitulah jalan hidup yang memang tak ada yang bisa menerka. Pun dengan Jajang sendiri yang saat ini sudah mereguk manisnya profesi barber profesional yang memberikan kemapanan finansial serta prestise karier.

Karier Jajang di dunia potong rambut memang belum lama digelutinya. Ia baru memulainya secara profesional di 2014 saat bergabung di King Cuts Barbershop. Sebelumnya, Jajang mengasah kemampuannya sebagai tukang pangkas rambut kecil di pinggiran kota.

Meski bekerja sebagai tukang pangkas rambut biasa, semangat Jajang untuk senantiasa memoles diri tak pernah surut. Di akhir 2013, ia pun mengikuti kursus singkat barbershop di sebuah lembaga di wilayah Pulogadung. Walau terbilang singkat, pelatihan selama kursus tersebut menjadi bekal Jajang untuk memasuki dunia yang lebih profesional.

Dalam perjalanannya, Jajang kemudian melihat iklan lowongan kerja di King Cuts Barbershop, sebuah barbershop premium di kawasan Kota Wisata Cibubur, Cileungsi. Melihat peluang tersebut, Jajang memberanikan diri mengirimkan lamaran kerja. Walau tak sepenuhnya percaya diri untuk masuk ke dunia barbershop, Jajang terus menghidupkan semangat sambil terus mengasah kemampuannya agar lebih mahir menunjukkan potensinya tersebut saat tes kerja.

Jajang mengaku selalu membawa serta gunting dan sisir kemanapun untuk makin meluweskan jari-jarinya. Ia ingat betul petuah yang disampaikan di tempatnya menimba ilmu saat kursus bahwa memotong rambut itu merupakan sinkronisasi antara memori otot dan memori otak. Diibaratkan belajar naik motor secara intensif hingga akhirnya bisa lancar mengendarai kendaraan tersebut. Alhasil, dia pun tak akan ‘mikir’ lagi saat mengemudikannya.

Begitupun dengan memotong rambut. Ketika alat pamungkas memotong seperti gunting dan sisir sudah dikuasai dan seperti menyatu dengan yang bersangkutan maka ia pun akan terbiasa saat melakukan tugasnya memangkas rambut customer. Tangan dengan luwesnya menggerakkan gunting dan sisir saat memotong rambut. Dan, semangat itulah yang menguatkan Jajang agar dirinya makin percaya diri dan tidak kaku saat menunjukkan kemampuannya.

Betul saja, Jajang yang mendapatkan tes langsung memotong rambut customer di King Cuts Barbershop sebaga tes masuk kerja akhirnya bisa lolos tahap tersebut. Jajang pun bergabung secara resmi di 2014 bersama King Cuts Barbershop hingga saat ini.

Pengalamannya bergabung di King Cuts pun menjadi lembaran yang tak terlupakan bagi Jajang. Jajang berkisah ada customer yang di pagi hari memangkas rambutnya dan merasa puas kemudian sore harinya datang kembali kakak dari customer yang pagi hari tadi dilayani Jajang. Orang tersebut dipikirnya akan komplain dan marah-marah pada Jajang namun tak tahunya justru minta dipangkas rambutnya oleh Jajang karena melihat hasil yang memuaskan pada rambut adiknya.

Ada lagi kisah anak SMA yang datang ke barbershop bersama belasan teman-temannya. Kisah itu diawali dari seorang di antara mereka yang semula memotong rambutnya terlebih dulu di King Cuts dengan dilayani Jajang. Merasa puas, customer tersebut memposting hasil pangkasnya di media sosial. Hari berikutnya, enam temannya dibawa dan berikutnya lagi ada 15 temannya yang ikut mengantri di King Cuts untuk mendapatkan service yang sama. Itulah warna warni yang menyertai kisah awal Jajang bergabung di King Cuts Barbershop.

Selain pengalaman tersebut, tentunya hal lain yang tak terlupakan ialah terbukanya kesempatan bagi Jajang mengikuti pentas The Cuts Indonesia. Jajang dipercaya sang Owner untuk mewakili barbershop-nya untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. Meski belum membuahkan kesuksesan sebagai jawara TCI, Jajang berbangga hati karena ajang tersebut makin mengasah kemampuannya serta membuka kesempatan luas bagi dirinya. Nama Jajang tidak saja makin dikenal khalayak karena kemunculannya di ajang tersebut tetapi juga makin membuatnya optimistis menjalani kariernya saat ini yang terbukti memberikan kemapanan finansial dalam kehidupannya.

 

Please follow and like us:

dr. Haekal Yassier Anshari, Jatuh Cinta pada Ilmu Anti Aging 

GayaKeren.id – Dokter berwajah ganteng ini bukanlah dokter biasa, ia mampu membuat orang-orang yang memilki wajah kurang sempurna menjadi lebih menarik dan lebih muda, bahkan lewat kemampuannya di bidang anti aging ia juga mampu membuat vitalitas seksual yang loyo menjadi greng kembali.

Di Klinik Kecantikan DH Aesthetic & Anti aging Clinic yang terletak di Signature Park Apartment, Jl MT Haryono ini, dr. Haekal mendedikasikan waktu dan ilmunya untuk mengembalikan keremajaan fisik dan psikis bagi orang-orang yang membutuhkannya.

Menjadi seorang dokter merupakan cita-citanya semenjak ia masih kecil, namun demikian cita-citanya itu sempat ‘menghilang’ sampai kemudian saat di SMA ia harus sering berurusan dengan dokter karena menderita asma.

Moment itulah yang membuat cita-citanya menjadi seorang dokter yang sempat hilang menjadi kembali bergelora. Menurutnya profesi dokter merupakan profesi yang sangat mulia, mendedikasikan waktu dan ilmunya untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan selalu mengupdate pengetahuannya.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas adalah jalan pertama menuju cita-citanya, saat kuliah ia mengaku menemukan hal-hal baru mengenai profesi dokter yang semakin mempertebal keinginannya menjadi seorang dokter.

“Saat kuliah saya baru menyadari bahwa menjadi seorang dokter itu tidak cukup dengan menghafal teori, kami harus pandai-pandai menganalisa penyebab timbulnya penyakit, sebabnya apa, apa yang terjadi sesungguhnya pada tubuh kita, sehingga timbul penyakit,” ujar dokter yang mengaku pernah mengalami obesitas ini.

Sempat dihadapkan pada dua pilihan untuk menjadi dokter spesialis antara dokter spesialis kandungan atau dokter spesialis jantung, namun pada akhirnya dr. Haekal lebih memilih tawaran yang datang kepadanya untuk menjadi Manager dan menangani produk Viagra di PT. Pfizer Indonesia.

Di sinilah titik awal ketertarikan dr. Haekal kepada dunia aesthetic, “sebagai seorang Produk Manager Viagra, saya sering mengikuti simposium di bidang, Urologi, Andrologi dan anti Aging, di sinilah saya menenmukan ketertarikan saya dengan ilmu anti aging,” jelas dr. Haekal

Menurutnya Ilmu Anti Aging adalah salah satu ilmu kesehatan yang sangat menarik untuk di pelajari, karena ilmu anti aging ini memperlakukan proses penuaan seperti penyakit yang dapat di cegah, dihambat dan dikembalikan seperti kondisi semula.

Ketertarikan itu juga yang akhirnya membuat dr. Haekal melanjutkan studi S2-nya di bidang Biomedik Anti Aging Medicine di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali, hingga akhirnya bersama seroang rekan ia mendirikan Klinik Kecantikan DH Aesthetic & Antiaging Clinic.

Saat ini dr. Haekal merupakan salah satu kandidat penganugerahan gelar Fellowship di bidang seksologi (FIAS) dari Asosiasi Seksologi Indonesia. Dr. Haekal juga aktif dalam menginspirasi dan mengedukasi masyarakat sekitar mengenai manfaat pola hidup sehat, seperti pengaturan pola diet, olahraga, bahkan seksologi.

Disela kesibukan sebagai dokter praktek  Dr. Haekal pun kerap diundang sebagai narasumber dalam berbagai acara TV yang berkaitan dengan pola hidup sehat anti aging dan seksologi untuk acara “Kata Dokter” dan “Obama: Obrolan Malam” di JakTV. “Halo Dokter” di TVRI, “dr OZ Indonesia” di Trans TV. dan di salah satu acara pencarian bakat di Indosiar (DTerong).

Untuk menjaga stamina dalam menjalani berbagai aktivitasnya, dr. Haekal selalu menjalani pola hidup sehat, selalu berolahraga, melakukan diet rendah karbohidrat dan tinggi protein, “ Sejak saya berusia tiga puluh tahun saya saya sangat membatasi mengkonsumsi nasi putih karena nasi putih banyak mengandung banyak sekali gula, sementara gula yang berlebihan memiliki efek yang buruk terhadap tubuh,” ujar dr. Haekal

Please follow and like us:

Tia – Jawara The Cuts Indonesia, Utamakan Kepuasan Konsumen

GayaKeren.id – Sosok yang populer dengan sebutan Missy Tia ini adalah satu dari sedikit perempuan yang punya prestasi dari profesinya yang notabene di dominasi oleh kaum pria. Siapa yang menyangka jika sosok wanita cantik ini adalah seorang lady barber atau hair dresser. Namun Tia merasa lebih sreg jika disebut haircutting, karena bisa memotong rambut pria dan wanita.

Tia yang jebolan D3 Komunikasi Unpad ini sempat jadi pekerja kantoran di salah satu perusahaan. Namun pekerjaan kantoran itu rupanya membuat seorang Tia merasa kurang nyaman dan cocok untuk dijalani. Sehingga pada tahun 2007, pemilik nama lengkap Tia Tresna Setiyasih ini beralih profesi dan mulai menekuni pekerjaan sebagai Tukang Pangkas Rambut atau Hairdresser.

Mengawali karir profesi di dunia pangkas memangkas rambut, bermula dari ajakan teman dan ketertarikannya melihat suasana lingkungan kerja di pangkas rambut yang flexible, tak berseragam dan bisa menyesuaikan, serta bisa berinteraktif dengan banyak orang. Meski begitu tetap saja ada hal yang mengganjal, ketika pertama kali mulai mencukur. Nol Skill atau tak punya keahlian dan pengalaman mencukur atau memotong rambut.

Singkat cerita, di masa training itu dimana dengan sedikit spekulasi dan bermodal mata untuk melihat sambil mempelajari teknik gunting dan cukur selama beberapa waktu, Tia mengajak temannya untuk dijadikan ‘korban’ dan ‘kelinci percobaan’ hasil dari potongannya.

Meski awal-awalnya hasil potongan masih belum sesuai dengan harapan, namun Tia terus belajar meningkatkan kemampuan mencukurnya dengan menggratiskan para ‘korban’ yang jadi model pangkasannya waktu itu sampai dia benar-benar bisa diakui sebagai tukang cukur. Alhasil, kemampuan memotong berbagai style rambut dari seorang Tia pun layak diacungi jempol. Tak hanya pria, potongan rambut maskulin wanita juga bisa dikerjakan Tia. Semua  dipelajari secara otodidak.

Perjalanan 10 tahun menjalani profesi tukang pangkas rambut atau barber girl, pastinya tidak semulus jalan tol. Banyak suka duka yang dilewati. Komplain dan sekadar keisengan dari pelanggan (yang memang di dominasi kaum pria) pun tak luput mewarnai keseharian aktivitasnya. Namun Tia tetap berusaha selalu menunjukkan profesionalitas pekerjaan dengan tetap berinteraksi dan komunikasi secara baik, berpikir positif dan berusaha untuk selalu tersenyum.

“Adalah lumrah ya kalo komplain dan iseng dari konsumen yang notabene laki-laki. Apalagi profesi seperti kita ini kan pada waktu itu masih sangat jarang sekali. Ya ada-ada sajalah hal-hal seperti itu waktu tahun-tahun awal terjun ke profesi ini,” Ungkap wanita cantik kelahiran Bandung, 3 November 1984 ini.

Resiko baik buruk dari profesi ini sudah dipikirkan dan diantisipasi oleh Tia, sehingga untuk menghadapi konsumen yang kepo dan rada-rada iseng, Tia punya kiat untuk itu. “resiko dan atau dikepoin orang pasti ada ya. Tapi kan namanya pekerjaan ya saya harus tetap menunjukkan profesionalitas saya, sambil tetap menjelaskan rasa keingintahuan mereka. Karena biar bagaimanapun konsumen adalah raja. Dan alhamdullilah sampai sekarang semuanya masih wajar-wajar dan normal-normal aja sih. Karena saya tetap menjalin interaksi secara baik dengan semua konsumen saya. Karena saya lebih ke mengejar Kepuasan Konsumen. Kalo mereka puas kan otomatis nama Rock N Roll Haircutting & Makeover terbantu dari sisi promosi dan marketingnya. Hehehe…..,” lanjut Tia dengan sedikit berpromosi sambil tertawa.

Oya, Rock N Roll Haircutting & Makeover, yang berlokasi di kawasan W.R Supratman – Bandung adalah tempat perjuangan dan pengabdian profesi seorang Tia selama 10 tahun ini. Menurut Tia, rata-rata pelanggan yang datang ke tempat pangkasnya di dominasi oleh pria dewasa dan anak laki-laki. Namun Tia tak menolak jika ada wanita yang ingin di pangkas olehnya. Karena banyak juga wanita yang sudah di pangkas oleh Tia dengan hasil yang memang bagus. Terutama para wanita yang bertipe maskulin.

Bagi seorang Tia, menekuni profesi sebagai seorang tukang cukur atau tukang pangkas rambut, tidak hanya berbicara soal kemampuan memangkas rambut semata. Tapi bagaimana kemampuan itu diukur secara menyeluruh dengan melihat sisi insani dan humanisnya seseorang, apalagi wanita. Kiprahnya ini tetap dianggap sebagai suatu proses belajar dan belajar terus mengasah kemampuan dan terutama attitude.

Memaknai proses belajar dan mengasah kemampuan tersebut, membuat Tia terlecut untuk mengikuti sebuah ajang bakat kompetisi “The Cuts Indonesia – TCI” di sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Tahap demi tahap audisi dan seleksi dilalui dengan begitu ketatnya. Semua dilalui dan dilewati dengan tidak mudah. Pujian dan kritikan dari para Judges, membuat Tia semakin matang mengasah kemampuannya.

Kematangan mengasah kemampuan sekaligus kepribadian itu pun membawa hasil paling maksimal di ajang kompetisi TCI yang diikutinya. Tia dinobatkan sebagai Jawara The Cuts Indonesia_TCI Season 1. Tia menyisihkan banyak teman se-profesinya dari berbagai daerah se-Indonesia.

Sebagai jawara The Cuts Indonesia, Tia membuktikan bahwa seorang wanita seperti dirinya yang hanya belajar memangkas rambut secara otodidak, terbukti mampu unjuk gigi dan bisa berprestasi di dunia pangkas memangkas rambut atau barber, yang notabene ini adalah dunia profesi dominasi kaum pria. Kebanggaan tersendiri tentunya bagi para Lady Barber / Barber Girl di Indonesia.

Menjalani dan menekuni profesi lady barber yang cukup senior sekaligus penyandang gelar Jawara The Cuts Indonesia, secara otomatis menambah tugas dan tanggung jawab ke publik atau masyarakat itu jadi tidak mudah. Namun dibalik itu ada rasa bahagia tatkala dirinya mampu menepis bahkan mengalahkan rasa tidak percaya diri yang sebelum-sebelumnya sering dirasakan.

Menyandang predikat Jawara The Cuts Indonesia tak membuat Tia lupa diri. Seorang Tia tetap membumi. “ini baru awal. Kedepan saya harus lebih bisa memberikan yang terbaik lagi untuk masyarakat dan konsumen. Bukan hanya sekadar menjaga image. Ini beban tanggung jawab moral yang harus saya jaga dan syukuri. Ini saya persembahkan untuk orang tua dan anak saya tercinta,”tegas ibu dari seorang putera ini.

Tak banyak yang tahu bahwa perjuangan karir profesi Tia yang sedikit tomboy namun tetap memperlihatkan sisi feminin ini, ternyata sangat dipengaruhi oleh anak semata wayangnya. Tia terpacu untuk terus berkarya bagi orang lain lewat profesinya, tapi tetap menampakkan sisi ke-ibuan dan tanggung jawab seorang ibu terhadap anaknya yang berkebutuhan khusus (Authis). Potret ketegaran seorang wanita sekaligus sosok ibu.

“Jangan pernah bosan untuk terus belajar dan belajar. Memperbaiki diri itu wajar. Sosok wanita dengan profesi tukang pangkas rambut atau apapun itu, diharapkan untuk terus berkarya semaksimal mungkin dan tunjukkan bahwa meski dilahirkan sebagai wanita dengan kodratnya sebagai seorang isteri dan atau ibu, namun tak ada sekat yang membatasi kita untuk berkarya dan berprestasi. Sehingga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang,” pungkas Tia dengan penuh harap.

       “Sosok Kilau Tersembunyi Kartini Millenial”

So, dukungan meluas buatmu dan teruslah berkarya dengan profesimu MissyTia….

 

Please follow and like us:

Anne Avantie – Berkarya Dengan Cinta, Tekad Dan Ketekunan

GayaKeren.id – Pembawaan yang tenang, kalem dan lemah lembut adalah ciri khas karakter seorang Anne Avantie. Nama Anne Avantie di dunia fashion tanah air tidak bisa dipisahkan dari kebaya. Keberaniannya berkreasi mengantarkan karya-karyanya menjadi sebuah tren baru. Wanita yang akrab disapa Bunda Anne ini mengaku tak menyangka ia bisa menjalani karir sampai seperti ini. Padahal, ia tak pernah bercita-cita jadi seorang desainer.

Bakatnya dalam merancang busana dikembangkannya secara otodidak. Anne tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang khusus mempelajari seluk beluk dunia desain. Ia bahkan menempuh pendidikan hanya sampai tingkat SMP. Meski demikian, dengan semangat pantang menyerah dan kemauan belajar, ia mampu meraih prestasi tertinggi dalam karirnya.

Memutuskan hijrah ke Jakarta pada 1999 dengan memulai hidup baru dengan pikiran baru dan berkompetisi dengan designer papan atas Indonesia. Dan dengan segala kesederhanaan pola pikir dan tidak terkontaminasi Gaya Hidup, Anne berjuang hingga saat ini yang mencapai kesuksesannya.

“Ini seperti mimpi. Karena dari kecil nggak pernah mimpi bakal jadi kayak sekarang. Desainer bukan cita-cita saya. Saya berjuang terus hingga saat ini, tidak terasa. Berjuang untuk belajar menerima segala peristiwa dan bersyukur, berdamai dengan diri sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain atas apa yang kita putuskan.  Saya bersyukur dengan orang – orang yang menjadi “bagian masa lalu” saya. Mereka adalah Pahlawan, tanpa mereka…saya bukan siapa-siapa hari ini ,” ujar pemilik nama asli Sianne Avantie saat ditemui belum lama ini.

Anne menuturkan kalau karya yang ia hasilkan adalah perjalanan hidupnya. Termasuk pilihannya untuk tetap tinggal di Semarang, bukan di Jakarta seperti kebanyakan desainer lainnya. Berangkat dari nol, bahkan tidak pernah sekolah soal fashion, Anne bersyukur dengan apa yang sudah ia dapatkan sekarang. Tantangan yang keras dari banyak sisi, membuatnya tak lelah untuk terus berusaha menampilkan yang terbaik.

Ada banyak harapan yang ia sampaikan, baik untuk diri sendiri, hingga untuk karyanya yang selama ini banyak dijiplak orang lain. Anne juga membagi resepnya agar bisa bertahan di kerasnya industri fashion.

“Lakukan sesuatu dengan hati dan cinta dan jadi saluran berkat, panjang umur, sehat. Nggak takut plagiat. Dari Sabang sampai Merauke, yang plagiat akan tetap jadi ekor. Tuhan tahu,” tegas wanita kelahiran Semarang, 20 Mei 1964 ini.

Anne Avantie piawai mengolah dan memodifikasi kebaya menjadi busana yang elegan, eksotis dan glamour. Rasanya sudah begitu banyak yang mengamini. Tak sedikit yang kemudian mengikuti jejaknya sebagai desainer kebaya. Tentunya ini menggembirakan karena kebaya sebagai warisan budaya yang adiluhung semakin terangkat pamornya, bahkan bisa menggerakkan roda industri fashion

Karya-karyanya yang fenomenal, menggelitik rasa ingin tahu. Potongan garis leher, lengan dan panjang kebaya berekor yang begitu berani; paduan warna tak lazim namun serasi; hingga padu padan kain dan aksesori yang sangat total adalah ciri khas karya luar biasa seoarang Anne Avantie.

Rasa cintanya yang teramat sangat terhadap kecantikan kebaya, membuat imajinasinya bergerak liar untuk menciptakan gradasi gaya tanpa batas dari konsep dasar kebaya. Karena Anne ingin kebaya memiliki dinamika untuk bercengkerama dengan zaman yang tak lekang di makan waktu, dan memiliki harapan sendiri untuk berkreasi.

Anne Avantie tidak hanya dikenal sebagai perancang busana handal, tetapi juga merupakan penulis buku rohani Katolik dan aktivis sosial. Aksi sosialnya yang nyata ditunjukkan dengan pembangunan rumah singgah bernama Wisma Kasih Bunda pada tahun 2002 yang merupakan kolaborasi dengan Rumah Sakit St. Elizabeth, Semarang. Mula-mula rumah singgah ini hanya diperuntukkan untuk penderita hydrocephalus. namun mulai tahun 2005 banyak penderita astreni ani, tumor, labiopalataschisis, bibir sumbing, dan penderita cacat lainnya yang datang untuk mendapatkan pertolongan.

Anne Avantie juga banyak mengadakan pelatihan dan workshop ketrampilan dan kewirausahaan untuk berbagai kalangan, mulai dari pelajar, penjahit, hingga ibu rumah tangga. Selain aktif mengadakan program subsidi silang dan pelatihan gratis, Anne juga sering diminta untuk menjadi narasumber di berbagai acara.

Di sela-sela kesibukannya sebagai desainer, ia masih menyempatkan diri untuk terlibat dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Mengenai kiprahnya di bidang kemanusiaan, Anne mengakui, kalau awalnya tidak berjalan dengan mulus. Sebagian orang bahkan mencibir kegiatan sosial yang dilakukannya hanya sebagai upaya untuk meningkatkan popularitas. Sekalipun begitu, Anne tidak berkecil hati. Dengan mantap Anne Avantie melangkah menjawab “Panggilan Tuhan”. Ia tetap fokus menjalani keputusan untuk memberikan keseimbangan dalam kariernya maupun kehidupan rohaninya.

Kerja keras Anne di panggung dunia mode Indonesia berbuah popularitas dan limpahan materi. Semua itu disadarinya merupakan berkat dari Yang Maha Kuasa. Sebagai rasa syukurnya, Anne senantiasa berbagi pada mereka yang membutuhkan uluran tangannya. Bukan hanya dalam hal materi tapi juga ilmu. Itulah mengapa, workshop dan pelatihannya selalu dipenuhi orang-orang yang ingin menimba ilmu dari Anne Avantie tentang ketrampilan dan kewirausahaan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari penjahit, desainer, pelajar hingga ibu rumah tangga.

Berbicara prestasi, Anne Avantie telah berhasil mencatatkan prestasi tak hanya di dalam negeri namun hingga ke mancanegara. Pelanggannya datang dari kalangan pejabat hingga selebritis. Berbagai koleksi penghargaan sudah didapatnya, baik dalam negeri (nasional) maupun mancanegara (internasional). Busana rancangan Anne banyak menghiasi dunia mode baik nasional maupun internasional. Namanya yang sudah mendunia, bahkan tak jarang beberapa miss universe memakai jasa Anne untuk membuat kebaya khususnya.

“Percaya atau tidak, sebagai seorang perancang, saya sebetulnya memiliki banyak kekurangan. Saya tidak bisa membuat pola, tidak bisa menggambar sketsa dengan baik. Namun saya mempunyai khayalan yang sangat dinamis dan saya tidak akan tenteram jika itu tidak bisa saya ejawantahkan menjadi sebuah karya konkrit. Bagaimana proses teknis pelaksanaannya, itu mungkin tidak akan pernah tertera dalam buku-buku metode jahit manapun. Teknik pembuatan yang saya lakukan adalah teknik nurani yang membuat segala macam cara bisa masuk dalam metode saya saat berkarya. Dan satu hal yang sangat penting sebagai penjaga, yakni Tekad dan Ketekunan,” ujar Anne menegaskan.

Ketenarannya tidak membuat perancang yang terkenal dengan koleksi kebayanya itu terbang tinggi. Dia tetap memilih menjadi sederhana. Hal ini terlihat dari penampilannya yang tidak glamor seperti busana-busana rancangannya. Dia juga setia dengan rambut aslinya yang lebih sering disanggul dan diselipi bunga kamboja.

Bahkan dia tanpa rasa sungkan, menyebut dirinya tidak jauh dari kekurangan. Dia juga mengaku tidak lancar berbahasa Inggris dan tidak mengikuti kemajuan teknologi sehingga untuk menggunakan telepon pintar pun dia harus meminta bantuan asistennya.

Hal menarik lainnya, dia selalu bepergian dengan menggunakan kereta api, karena dia takut naik pesawat. Tapi dia tidak menganggap rasa takut itu sebagai keterbatasan. Dia justru bersyukur karena keterbatasan itu membuatnya selalu berada dekat dengan keluarga.

Satu hal yang patut diteladani oleh kaum perempuan dari seorang Anne Avantie adalah komitmennya untuk tidak melupakan kodratnya sebagai sebagai perempuan. Walaupun hari-harinya banyak disibukkan dengan kegiatannya sebagai desainer sekaligus pekerja sosial, ia tak pernah lalai menjalani tugasnya sebagai istri dari Joseph Henry Susilo, sekaligus ibu dari ketiga anaknya, Intan Avantie, Ernest Christoga Susilo, dan Ian Tadio Susilo.

Selama 28 tahun berkarya, Anne Avantie adalah sosok wanita yang menginpirasi. Sosok sederhana dengan sifat rendah hati, penuh kelembutan, berbelas kasih dengan tulus dan penuh cinta dan keinginan untuk terus menjadi berkat bagi sesama, Anne Avantie tak segan-segan berbagi rahasianya dalam pencarian inspirasi untuk kreasi yang menyempurnakan.

Benar-benar Kartini Pembawa Perubahan……

“Ia seutuhnya manusia dengan kelebihan yang mengagumkan, dan kekurangan yang manusiawi………”

 

Please follow and like us:

Tutuy, Lady Barber Muda Bertalenta

GayaKeren.id – Woowww keren…nyentrik abisss…..  itu kesan yang pasti terlintas ketika bertemu Lady Barber yang satu ini. Oppss… Lady Barber ?? Yuups,.. Tutuy, panggilan akrabnya, adalah salah satu dari sedikit Lady Barber yang ada di Jakarta bahkan Indonesia. Bahkan bisa dibilang satu-satunya Lady Barber yang menonjol dan belum banyak diketahui dan dikenal masyarakat.

Dunia barber yang diketahui orang adalah dunianya kaum pria, ternyata bisa ditekuni oleh seorang wanita yang awalnya berkeinginan menjadi seorang Artist Tatto. Atas dasar itulah disekujur tubuh Lady Barber ini dipenuhi cetakan tatto. Artistik banget sih… seni gambar tubuh….hehehe…….

Sekitar 4 tahun yang lalu berawal dari ketidaksengajaan dan ajakan teman, Tutuy mencoba menjadi barber dengan mengikuti kursus selama 3 bulan di salah satu barbershop temannya di daerah bekasi. Selama 3 bulan menimba ilmu cukur mencukur rambut pria, sangat dimanfaatkan benar-benar oleh Tutuy.

Cerdas, Bertalenta, Berani melakukan sesuatu yang berbeda. Terbukti hanya dalam 3 bulan, pemilik nama lengkap Sriastutti Tutuy ini sudah bisa menguasai, terampil dan jago dalam urusan cukur mencukur dan memoles rambut pria dengan berbagai model gaya rambut. Sehingga tak menunggu waktu lama (sebulan setelahnya) bagi Tutuy untuk membuka usaha barbershop sendiri yang diberi nama Ol’ Skool Barbershop yang berlokasi di kawasan Koja, Jakarta Utara.

Menurut Tutuy, menjalani profesi sebagai lady barber menjadi tantangan tersendiri. Menghadapi pelanggan yang sudah pasti semuanya adalah pria, menu ntut sebuah profesionalitas namun tetap pro-aktif antisipatif mengingat pemahaman dan cara pandang orang untuk seorang lady barber masih agak konvensional. Namun dengan tetap berpikir positif, Tutuy melayani para konsumennya dengan senyuman, membuat pelanggan merasa nyaman dan tetap memberikan hasil yang terbaik.

“Intinya menjalani profesi ini, apapun karakter orang yang kita hadapi, tetaplah tersenyum, berikan hasil terbaik, namun yang paling penting adalah attitude menghadapi orang. Jangan sombong, tetap rendah hati”, tegas wanita kelahiran Bekasi, 22 Januari 1991 ini.

Mendapat dukungan penuh dari sang suami, membuat Tutuy lebih total dan bebas berkiprah menekuni profesi barber ini. Sang suami menjadi filter dan inspirasi bagi Tutuy menjalani pekerjaan ini.

Sebagai wanita yang menekuni profesi barber, Tutuy juga berharap untuk para barberman dan atau lady barber untuk tekuni profesi dengan sungguh-sungguh, selalu berinovasi, membuka diri,  belajar terus dan jangan pernah puas. Hal ini dikatakan karena menurutnya, dirinya pun selalu belajar dan berusaha mengikuti gaya, mode / tren yang berkembang. Bahkan Dia belajar secara otodidak, dengan hanya melihat gambar / foto / video model rambut yang lagi tren yang diaplikasikan langsung ke pelanggan.

Menyandang status Lady Barber di kalangan barber tanah air, nama Tutuy sedang naik daun. Tutuy sering di undang menjadi pembicara dan atau talent dalam berbagai seminar, workshop, talkshow, demo ke berbagai daerah di tanah air, membagi ilmu soal teknik cukur ataupun penggunaan alat cukur barbernya. Karena tools yang digunakan oleh Tutuy didominasi produk luar (import) yang masih kurang diketahui dan dikenal dunia barber.

Sosok perempuan yang mendobrak sekat-sekat emansipasi ini mampu membuktikan bisa eksis dan berkarya melawan arus emansipasi dunia haircut / barber yang di dominasi kaum pria. Eksistensi dan kemampuannya di dunia barber banyak diapresiasi dan diacungi jempol. Melalui bendera barbershopnya, Ol’ Skool Barbershop yang kian populer semakin menegaskan keberadaannya dalam kompetensi dan kontestasi dunia barber / haircut tanah air.

Dunia barber tanah air patut berbangga memiliki salah satu Lady Barber muda bertalenta dan selalu tampil enerjik. Sosok  From Zero to Hero…. Super Women….

Sukses selalu sosok Kartini Muda Bertatto era Millenium……

 

Please follow and like us:

Yanus Putrada, Memulai Usaha dari Hobi

GayaKeren.id. Yanus Putrada, pemuda berusia 25 tahun ini menjadi sosok yang patut di teladani oleh banyak anak muda. Dalam usia yang relatif masih muda, Yanus telah mampu memanfaatkan hobi menjadi sebuah usaha yang bisa menghasilkan rupiah.

Seperti kebanyakan anak-anak lainnya, masa kanak-kanak Yanus juga di penuhi banyak banyak angan-angan. Ia sempat ingin menjadi tukang pengisi bensin hanya karena Yanus menyukai aromanya.
Seiring berjalannya waktu Yanus mulai menemukan sesuatu yang di sukainya yang akhirnya di akui Yanus sebagai passion yang ada di dirinya yaitu memotong rambut. Hobi barunya tersebut mulai tumbuh saat ia memasuki usia remaja.

Pada awalnya hobi memotong rambut hanyalah sekedar hobi, bahkan tak pernah ada dalam benanknya bahwa hobi tersebut kelak akan membuatnya menjadi seorang barber yang jasanya banyak di minati banyak orang bahkan para artis terkenal.

Perjalanan menjadi seorang barber di mulai saat ia harus menelan pil pahit kehidupan yang membuatnya harus berhenti sementara untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah karena orang tua tak mampu lagi membiayai uang kuliahnya.

Situasi tersebut membuatnya harus berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan penghasilan hingga pada akhirnya kesempatan itu datang dari seorang teman yang menawarkan pekerjaan menjadi kasir di salon.

Walau sempat ragu, Yanus memutuskan untuk menerima perkerjaan tersebut dan menggunakan kesempatan itu untuk sedikit belajar bagaimana memotong rambut dengan metode yang benar. Dengang sedikit ‘memaksa’ pemilik salon ,Yanus akhirnya di ijinkan untuk belajar.

Dengan alasan tak memiliki jenjang karir yang jelas di salon, Yanus memutuskan keluar dan menerima pekerjaan sebagai penyiar dan MC. Namun disinilah Yanus menemukan titik balik. Orang tuanya menyarankan untuk terus melatih hobinya dalam memotong rambut, “Ibu bilang sayang jika tak diteruskan,” ujar Yanus mengenang perkataan ibunya.

Perkataan sang ibulah yang membuat Yanus meneruskan hobinya, memtong rambut teman-temannya dan mendapatkan bayaran pertamanya, “Saya mendapatkan bayaran pertama sebesar lima puluh ribu dari teman yang saya potong rambutnya,” tutur Yanus sambil tersenyum. Dan itulah moment di mana Yanus mulai sadar bahwa hobinya ternyata bisa menghasilkan uang.

Sambil bekerja dan dan melanjutkan kuliah, Yanus menerima order potong rambut yang terus berdatangan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk membuka sebuah Barber dan mengoperasikannya saat ia selesai bekerja dan kuliah, “Saya biasa motong rambut sampai jam 2 pagi,” jelas Yanus.

Tahun 2016 lalu Yanus memutuskan pindah ke Jakarta dan memulai karir sebagai seorang barber profesional dan keputusannya tersebut ternyata membuahkan hasil yang gemilang. Saat ini Yanus memiliki banyak pelanggan bahkan dari kalangan artis top Jakarta seperti Tarra Budiman, Farhan, Ryan Dellon, Vidi Aldiano dan artis lainnya.

Walau telah meraih kesuksesan dan ketenaran seperti yang ia raih saat ini, sisi religius dan humanis Yanus yang di ajarkan kedua orangtuanya tetap melekat erat di kehidupannya. Menurut Yanus apa yang telah ia raih dan rasakan saat ini merupakan kehendak Tuhan, “Saya tak mungkin jadi apa-apa jika Tuhan tidak menghendaki,” tutur Yanus yang mengaku selalu berdoa sebelum melakukan pekerjaaanya.

Sisi humanis Yanus juga terlihat saat ia dengan senang hati menyumbangkan keahliannya memotong rambut belasan warga penghuni Liponsos yang didominasi gelandangan dan gangguan jiwa. Ada cerita Menarik saat ia hendak memotong rambut seorang penghuni Liponsos, “Kendalanya beberapa rambutnya agak keras, jadi alat cukurnya sempat nggak kuat motong. Untung saya bawa alat lainnya,” katanya dengan tawa.

Yanus mengaku tidak akan menghentikan langkahnya untuk berbuat kebaikan terhadap sesama, dengan cara, melakukan apa yang dia bisa agar berguna bagi sesama. “Pasti, saya akan terus melanjutkan kegiatan sosial ini. Karena ini juga terinspirasi dari ibu saya, yang menyuruh saya tetap terus melakukan kebaikan,” ujar pria kelahiran Samarinda ini.

Yanus juga berpesan kepada anak-anak muda yang yang hingga kini masih ragu dengan dunia yang akan gelutinya, “lakukanlah dengan hati, dengarkan hati, bekerja keras dan patang menyerah adalah kunci kesuksesan,” pesan Yanus

“Tapi kalau mau potong rambut bisa bikin appointment dulu, bisa follow Instagram di @YanusPutrada” ujarnya berpromosi.

 

 

Please follow and like us: