Outer Pelindung Diri (OPD) by Wening Angga

GayaKeren.id – Demi mempertahankan jalannya produksi dan perusahaan untuk terus sustain dan survive ditengah pandemi Covid-19, Wening’s Line memproduksi konveksi di APD (Alat pelindung diri) bagi tenaga-tenaga medis di rumah sakit- rumah sakit yang membutuhkan, khususnya di daerah Yogyakarta. Ribuan APD telah diproduksi bahkan masker non medis pun dikerjakan dengan inhouse dan outsourcing tenaga jahit. Tak dipungkiri, bahwa kejadian ini membawa hikmah bagi semua kalangan, khususnya bagi menengah kebawah.

Berawal dari permintaan salah satu dinas kepemerintahan yogyakarta, akan alat pelindung diri yang dapat digunakan sehari-hari oleh masyarakat jika berada di luar rumah, dan juga untuk karyawan kantor yang tetap diwajibkan masuk kantor. Dan juga beberapa customer yang meminta dibuatkan pakaian luar rumah yang aman, meski tetap beraktifitas. Sehingga Wening’s Line membuat pakaian OPD (Outer pelindung diri) untuk masyarakat yang beraktifitas di luar rumah.

OPD ini tidak sekedar aman digunakan saat wabah, yang disesuaikan dengan fungsinya, tapi juga didesain agar tetap fashionable saat digunakan. Dan bagaimana tetap menggunakan style DNA Brand, meski dibuat dalam bentuk OPD, lalu teknik menjahit agar tetap aman, dan nyaman saat dikenakan. Tentunya trial and error sudah dilewati beberapa kali dalam pembuatan ini.

OPD dari Wening’s Line ini akan mulai dipasarkan setelah lebaran Idul Fitri, 26 Mei 2020 menggunakan material yang waterproof atau tahan air, cepat kering dengan bahan yang ringan dan mudah dibawa-bawa. Selain itu juga didisain modest wear dan nyaman untuk berwudhu. Dan untuk detailnya Wening’s Line menambahkan etnik tenun sebagai sentuhan kearifan lokal, sesuai dengan Dna brand Wening’s Line.

Untuk panjang outer ini tersedia dalam 3 ukuran: mini 65 cm, midi 100 cm dan long outer dengan panjang 120 cm. Sementara untuk size dari mulai L, XL dan XXL, dengan pilihan warna light pastel salmon, soft pink, grey ( Unisex) yang dibandrol dengan harga mini Rp 229.345, middle Rp 299.750 dan long outer Rp 349.950. Dengan pemesan dengan cara PO terlebih dahulu sebelum akan beredar di toko-toko offline dan online weningsline.

Masker Kain dan APD by Pinky Hendarto

GayaKeren.id – Pinky Hendarto, salah satu pengajar di Susan Budihardjo Semarang dan juga Member IFC Semarang Chapter menunjukkan kepeduliannya terhadap pandemi covid-19 dengan memproduksi masker kain dan Alat Pelindung Diri atau APD. Pinky memproduksi masker sebagai bagian dari fashion, sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. 

Ada beragam jenis masker kain yang diproduksinya. Antara lain masker katun biasa, masker premium dengan bahan batik tulis, masker couple, masker keluarga (termasuk di dalamnya masker untuk anak-anak dan balita), serta masker cantik dengan aplikasi manik-manik. Menggunakan material Batik Tulis, katun premium (Swiss dan Jepang), scuba, satin, dan lace, setiap maskernya terdapat kantong pada bagian dalam yang bisa diisi tissue, carbon active, atau masker medis.

Dari segi bentuk pun beragam, mulai dari masker dengan potongan ala Korea dan masker dengan pola lipit. Yang membedakannya dari masker kain biasa, terdapat kawat anti karat pada bagian hidung, serta desain yang bisa disesuaikan dengan bentuk wajah agar benar-benar pas. Sementara untuk harganya, Pinky menjual maskernya secara satuan maupun paket untuk satu keluarga, dari mulai 20 ribu hingga 75 ribu. Meski dijual untuk umum, masker kain tersebut juga dibagikan secara gratis bagi mereka yang membutuhkan. Seperti pedagang kaki lima, supir ojol, tukang sampah, tukang parkir, atau siapapun yang ditemuinya dijalan dan tidak mengenakan masker, pasti dibagikannya secara gratis.

Pinky juga mulai berinisiatif memproduksi baju APD (hazmat coverall) sejak beberapa Rumah sakit di Jawa Tengah kekurangan APD, dan keberadaannya pun langka dipasaran. Tentu saja, Pinky memproduksi baju APD menyesuaikan standar medis/rumah sakit, serta terlebih dahulu berkonsultasi dengan para dokter dan perawat, kemudian melakukan uji coba sebelum memproduksi dan memberikannya ke rumahsakit. “Jadi kalau ada yang ingin berdonasi untuk rumahsakit dan yang diminta atau dibutuhkan adalah dalam bentuk APD, maka saya menjembatani keduanya,” ujar Pinky.

Hingga kini, APD hasil produksinya telah terdistribusi di beberapa rumahsakit di Semarang, Tegal, bakhan Bali. Dalam memproduksi masker maupun APD, Pinky tidak mengambil keuntungan sama sekali. Hasil penjualannya semata untuk pendapatan para penjahit, supaya mereka tetap mendapatkan penghasilan selama masa pandemi ini. Secara pribadi, ia ikut senang menjadi bagian dalam melawan pandemik ini.

Disamping misi kemanusiaan, Pinky mengatakani bahwa kedepannya masker akan menjadi gaya hidup. Yang mana masker tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari virus, kuman, debu dan asap, tetapi juga harus terlihat modis untuk menunjang penampilan. Dalam waktu dekat, pemilik Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo Semarang tersebut akan mengeluarkan koleksi set masker dan busana yang senada. Ia menyebutnya sebagai “Masker in Fashion”. “Pesan saya buat Lebaran nanti, tidak harus baju baru sekeluarga, tapi maskernya kembar sekeluarga, sehingga terlihat kompak dan bagus kalau difoto,” ujarnya.

APD Modis Ala Sazia Outer

GayaKeren.id – Alat Pelindung Diri atau lebih terkenal dengan singkatan APD menjadi barang yang sangat dibutuhkan saat ini, terutama untuk mereka yang berjuang di garda terdepan, membantu masyarakat yang terinfeksi virus Covid-19. Sayangnya, persediaan APD yang meningkat ini tidak dibarengin dengan kesediaan APD yang memadai di pasaran. Karena memang peruntukkan yang hanya untuk kalangan medis. Hanya dimasa pandemik seperti saat ini ada juga orang-orang yang bukan menjadi petugas yang langusung bersentuhan dengan. Covid-19 ikut latah menggunakan untuk kepentingan pribadi, dengan alasan keselamatan diri. Harus diakui, mudahnya virus Covid- 19 menular ini benar-benar membuat kecemasan di masyarakat.

Melihat hal tersebut, Creative Director Maison Gadiza, Rosie Rahmadi, salah satu member dari Indonesia Fashion Chamber, berinisiatif untuk membuat sebuah produk yang bisa menggantikan APD sehingga bisa digunakan oleh masyarakat biasa. “Kita tidak perlu menggunakan APD. APD itu hanya untuk Tim medis. Tapi kita bisa cari pengganti APD yang sekiranya mungkin bisa memuat kita merasa lebih aman ketika harus keluar.”

Sazia Outer, merupakan salah satu produk dari Maison Gadiza, brand yang diusung oleh Desainer Rosie Rahmadi yang menurutnya bisa digunakan sebagai APD untuk kegiatan sehari-hari masyarakat umum. Hal tersebut didukung dengan beberapa fitur produk tersebut seperti panjang jaket yang melebihi pinggan, hoodie yang uuntuuk menutup kepala serta bahan yang anti air. Baginya, seorang fashion designer mempunyai kewajiban untuk menciptakan suatu produk yang tidak hanya baik tetapi juga bisa memberikan manfaat atau solusi.

Produk yang terbuat dari serat nilon dan polyester ini juga memiliki kemampuan water repellent, cepat kering, tidak gampang kusut dan ringan. Dengan desain yang sedemikian rupa, Sazia Outer dapat digunakan untuk berbagai kegiatan mulai dari beraktifitas santai di rumah, berjemur, bekerja di rumah, untuk berolahraga, karena bisa membantu mengeluarkan keringat, hingga berbelanja.

Di masa Pandemi ini, Sazia Outer bisa jadi salah satu must have item bagi banyak orang. Desain yang praktis tapi multifungsi. Dan paling tidak, dapat mengurangi rasa cemas seseorang ketika harus keluar rumah ditengah kondisi pandemik saat ini. Tentu saja dengan ditambah protocol keluar rumah lainnya membawa handsanitizer, melakukan sosial distancing, dan Jangan lupa menggunakan celana panjang dan sepatu tertutup keluar rumah.

“Sebaiknya memang jangan terlalu cemas dan mengkhawatirkan sesuatu karena sering kali hal-hal yang kita khawatirkan jarang terjadi. Tetapi tugas kita berupaya maksimal biar menjadi lebih tenang dan merasa aman.“ Dengan banyaknya permintaan akan Sazia Outer, akhirnya Rosie Rahmadi pun kini menyempurnakan desain outer tersebut sehingga dapat digunakan baik oleh perempuan dan laki laki.

Hingga saat ini Rosie Rahmadi telah memiliki 6 brand diantaranya ROSIERAHMADI, GADIZA, WARNAHITAM, ALASKUMALA, Little Talulah, dan PARAPOHON yang bervariasi mulai dari ModestWear, DailyWear, ModestDeluxe, KidsWear, dan MensWear,yang bernaung dibawah Brand induk Maison Gadiza .

 

By Anggia, Madical Suits

GayaKeren.id – Pandemik Covid-19 yang terjadi hampir diseluruh dunia tidak hanya membuat para medis kewalahan menangani pasien yang menjadi korban, bahkan orang-orang yang kemungkinan terdampak juga menjadi perhatian karena penyebarannya yang sangat cepat. Orang-orang yang kemungkinan terdampak ini adalah orang-orang yang berada dekat dengan pasien yang sudah positif mengidap Covid-19. Salah satu unsur masyarakat yang paling rentan terdampak Covid-19 adalah para medis. Sehingga kebutuhan akan alat pelindung diri atau APD untuk para medis sangat tinggi, apa lagi untuk melindungi kesehatan para medis memakai APD berlapis-lapis dan cuma sekali pakai.

Anggia, salah satu disainer busana muslim dengan brand Anggia Handmade mencoba memenuhi kebutuhan APD ini dengan memproduksi APD dengan berbagai kebutuhan dan dengan harga terjangkau. Ide membuat baju untuk kebutuhan medis ini berawal dari kebutuhan Anggia sendiri yang juga berprofesi sebagai dokter gigi di Bandung dan di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta.

“Tadinya Aku buat untuk sendiri. Jadi ceritanya waktu itu, diawal pandemik, Aku punya pasien yang positif. Dari rumah sakit disediain APD tapi ga memenuhi syarat, kan jadi cemas sendiri. Akhirnya Aku buat deh, eh tau-tau pada suka. Jadi dibuat massal deh,” unggap Anggi melalui pesan singkat, Rabu (29/4). Karena dari Organisasi Profesi mengeluarkan Standard Operational Prosedure untuk penanganan Pasien Covid-19, Kostum apa saja yang digunakan sesuai Level Penggunaan Penanganan Pasien Covid-19, sehingga Anggia merasa perlu untuk memiliki ijin untuk medical apparel.

Produk pertama yang diproduksi adalah masker kain, hingga saat ini juga memproduksi suits dengan berbagai kebutuhan medis seperti Coverall, Surgical Suits dan Seragam Baju Ruangan Dokter dan Perawat.

Coverall Suits

Berfungsi sebagai pakaian dan alat proteksi untuk melindungi diri dari kotoran, bakteri, virus. Coverall bersiluet H dan I berupa Jumpsuit berkapucon, karet elastic pada bagian tangan, kaki dan pinggang belakang. Detail Coverall mempunyai bukaan depan berupa restleting panjang dengan penutup. Coverall harus dibuat sangat longgar karena akan digunakan berlapis bersama baju bedah, baju ruangan dan aphron. Material yang digunakan terbagi menjadi 2. Untuk yang sekali pakai atau disposable berbahan dasar Non Woven Polypropylene. Sedangkan yang reusable berbahan dasar Woven Polyester.

Standar WHO : Resisten terhadap penetrasi cairan, setara atau lebih ISO  16603 class 3 exposure pressure. Atau resisten terhadap penetrasi patogen bloodborne, setara atau lebih ISO 16604 class 2 exposure pressure.

Surgery Gown/ Surgical Scrub (Baju Bedah)/ dan Apron

Baju Bedah berfungsi untuk fungsi proteksi untuk di ruangan bedah atau pada kasus emergensi dan kedaruratan. Baju Bedah mempunyai siluet H dan I, cenderung Over Size dan memiliki elastic atau rib di bagian pergelangan tangan untuk melindungi dari terpaparnya anggota tubuh petugas Kesehatan terhadap percikan darah dan menghindari mudah terlepasnya dari badan. Gaun Bedah memiliki panjang dari leher hingga menutupi bagian atas dari sepatu boot. Material yang digunakan berbahan dasar Non Woven Propylene untuk yang sekali pakai (disposable) dan berbahan Cotton tebal (reusable). Apron biasanya seperti rompi Panjang yang digunakan dilapis depan baju bedah atau diluar coverall suits.

Standar WHO : Resisten terhadap penetrasi cairan EN 13795 high performance level atau AAMI level 3 performance atau Resisten terhadap penetrasi patogen bloodborne.

Doctor & Nursery Uniform (Baju Ruangan)

Baju ruangan merupakan baju setelan yang merupakan baju dasar paling dalam dari baju pelindung diri. Memiliki Siluet H dan I, berlengan pendek pada umumnya dan celana panjang dengan pinggang bertali serut. Baju ini bermaterial yang tidak mudah sobek dan tebal, misalnya Cotton tebal. Teknik Minimal Sewing, tidak steril dan dapat dipakai berulang (reusable).

Masker Kain Non Bedah

Masker digunakan untuk melindungi membran mukosa hidung dan mulut terhadap droplet atau aerosol. Masker yang kami produksi berbahan dasar Cotton 100%, ada yang dilapisi oleh Water-Proof Material dan AntiRepellent. Sehingga masker yang dibuat ada yang One layer, Two Layers dan Three Layers. Masker dibuat sesuai kebutuhan ada yang dengan ear-loops dan ada yang untuk para pemakai hijab. Masker dibuat dalam 4 warna, yaitu hitam, biru navy, toska muda dan putih.

GP Ansor dan Aice Distribusikan APD ke-14 Rumah Sakit Rujukan Covid-19

GayaKeren.id – Alat Pelindung diri (APD), seperti baju hazmat, kacamata goggle, masker, dll bagi tenaga medis yang menangani Covid-19 masih sangat diperlukan. Kebutuhan akan APD sangat tinggi karena jumlah pasien Covid-19 terus bertambah. Berbagai pihak ikut membantu menyumbang kebutuhan APD yang sangat diperlukan tenaga medis tersebut. Kebutuhan akan APD ini direspons cepat oleh Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dan Aice Group.

Bertempat di kantor pusat GP Ansor di Jalan Kramat Raya 65A, Jakarta, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas Senin (20/4/2020) siang ini telah melakukan proses pelepasan keberangkatan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 GP Ansor dalam mendistribusikan APD (Alat Pelindung Diri) ke-14 rumah sakit rujukan penanganan Covid-19.

“Pimpinan Pusat GP Ansor bersama Aice Group ikut membantu menyumbang Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis di rumah sakit. Siang hari ini  Gugus Tugas Penanganan Covid-19 GP Ansor mulai mendistribusikan APD, yakni berupa baju hazmat, kacamata goggle, masker, termasuk alat pengukur suhu tubuh (thermogun) ke-14 rumah sakit rujukan Covid-19 di Jabodetabek dan Jawa Tengah. Distribusi APD ini adalah misi kemanusian GP Ansor dan Aice. Semoga menjadi menjadi inisiatif dan pendorong semua elemen bangsa untuk secara kolektif bekerja sama memperbaiki kondisi penanganan Covid-19 secara umum dan memperbaiki risiko paparan tenaga medis akibat minimnya APD,” ungkap Gus Yaqut, sapaan akrab Ketum GP Ansor, Senin (20/4/2020).

Sylvana Zhong, Brand Manager Aice Group Holding Pte Ltd menambahkan, Aice Group dari sektor swasta bekerja sama dengan GP Ansor turut mendukung upaya pemerintah dalam mendistribusikan donasi APD bagi tenaga kesehatan ke rumah sakit rujukan Covid-19 dalam menangani pasien corona.

“AICE group berkomitmen untuk selalu melakukan upaya-upaya dalam mengatasi krisis Covid-19 dan bersama GP ANSOR mendukung Pemerintah untuk mengurangi beban para pahlawan nasional yang berada di garis depan melawan penyebaran wabah Covid-19. Kami berharap semua pihak saling mendukung di masa-masa sulit ini dan wabah segera berlalu,” tutup Sylvana Zhong.