Mahasiswa BINUS Bawa Batik Lasem Ke Panggung Jakarta Fashion Week 2019

 

GayaKeren.id – Mahasiswa BINUS Northumbria School of Design turut meramaikan pagelaran JFW 2019 dengan koleksi ready-to wear-nya. Pada koleksi ini, mereka mengambil tema yang terinspirasi dari motif batik kota Lasem, Jawa Tengah. Mereka mengusung tema “The Untold Story: Lasem Revealed” melalui enam koleksi, yaitu ARKA, OEMNJA, VOD, HANYUTAN, ALLAWN, dan RECKO.

Lasem, merupakan sebuah kota kecil di daerah Rembang, Jawa Tengah. Dikenal dengan sebutan “Little China”, karena pada zaman dahulu Lasem merupakan tempat pertama masyarakat Tionghoa tiba di pulau Jawa. Selain itu, fakta unik lainnya bahwa Lasem juga diketahui sebagai kota para santri dan kota pelajar. Akibat mix dari berbagai kebudayaan tersebut muncul berbagai ciri khas yang memiliki nilai filosofis seperti yang ada pada batik Lasem.

 

ALLAWN

Designer: Chelvia Monica Febriana & Katarina Laurensia

Koleksi Allawn terinspirasi oleh akulturasi perkembangan budaya Tiongkok dan Islam di Lasem. Oleh karena itu, pada koleksi S/S19 terdapat pakaian sederhana dengan siluet budaya Tiongkok  yang disampaikan sesuai dengan  karakteristik Allawn, yaitu playful and colorful. Teknik bordir dan penggunaan syal juga terinspirasi oleh kota Lasem itu sendiri.

Nama Allawn juga berasal dari bahasa Arab, yang berarti warna. Oleh karena itu, brand ini menunjukkan vibe yang menyenangkan melalui pakaian warna-warni ditambah dengan sentuhan bordir dan sablon.

VOD

Designer: Christine Santosa & Sharon Zefania T

VOD merupakan kata Belanda yang berarti rusak atau ditambal. Mereka mengumpulkan warisan Indonesia dan memperdalam lagi dari akar-akarnya. Kemudian hal tersebut tentunya dikembangkan saat pembuatan koleksi.

Koleksi pertama ini terinspirasi oleh kecamatan yang terlupakan di Jawa Tengah yang disebut Lasem. Namun, koleksi ini fokus pada sejarah arsitektur dan gaya hidup mereka. Pada koleksi ini, digunakan warna dominan hitam, kuning, abu-abu, dan juga putih dengan siluet yang deskontruktif.

HANYUTAN

Designer: Nabila Kaulika & Cynthia Halim

Koleksi yang didasarkan pada mix culture antara native Indonesian dan Chinese-Indonesian heritage. Adanya begitu banyak kebencian terhadap setiap budaya, yang menciptakan peperangan antara keduanya.

Tujuan dari koleksi ini adalah untuk mempromosikan gagasan perdamaian dan kebebasan berekspresi melalui pengaruh budaya punk. Menunjukkan bahwa kita dapat mewarisi suatu adaptasi kedua budaya tanpa perang, atau kekerasan, atau diskriminasi lain. Oleh karena itu, digunakan warna-warna dark dan berani seperti hitam, merah, maroon, dan material seperti kulit serta lace yang menonjolkan karakteristik dari peperangan dan perbedaan tersebut.

RECKO

Designer: Anya Annastasya & Sintia Agustine

Koleksi ini menunjukkan bahwa merekonstruksi pakaian dapat membuatnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Saat ini, denim digunakan pada begitu banyak jenis pakaian dan dikenal terlihat lebih baik bahkan setelah dipakai selama beberapa tahun. Ada banyak teknik yang bisa dilakukan untuk kain denim dan juga bisa digunakan untuk membuat tambalan.

Pada kesempatan ini, mereka ingin membuktikan bahwa suatu hal yang kecil sekalipun dapat menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Seperti orang-orang Lasem dan kreativitasnya, yang dilihat melalui seni batik mereka dan kemampuan untuk menggunakan kain yang terbuang, lalu dibuat menjadi suatu barang yang bermanfaat.

OEMNJA

Designer : Ivy Pang & Devona Cools

Merupakan singkatan dari “Oemah Njonja”, istilah Jawa untuk “The Home of a Lady”. Merek ini menonjolkan sejarah Lasem sebagai penghargaan untuk semua wanita yang telah menjalani hidup mereka yang tertindas dan telah melalui perjalanan yang sulit.

Koleksi ini menampilkan siluet feminin, warna-warna indah yang dipadukan dengan twist yang menyenangkan.

ARKA

Designer : Ginza Setiawan & Karin Wijaya

Koleksi ini menggambarkan sekitar kota Lasem yang indah dengan akulturasi antara pengaruh Jawa dan China, juga menyoroti batik dengan warna merah yang berbeda, harmoni, rasa hormat dan cinta untuk warisan mereka yang dibagi di antara masyarakat setempat.