Kimono acharisma by Ali Charisma

GayaKeren.id – Acharisma, yang merupakan second line dari Ali Charisma untuk produk ready to wear. Baik urban maupun resort wear. Brand ini juga focus kepada Sustainable Fashion dengan menggunakan bahan-bahan natural terutama viscose buatan Indonesia . Acharisma akan banyak menggunakan all one size fit all / all size, juga akan banyak menggunakan potongan-potongan zero waste.

Koleksi Perdana ini terinspirasi dari kondisi pandemi,  saat semua orang harus tinggal dirumah untuk melakukan segala aktifitas.  Dengan kimono , yukata dan robe yanga saya design sedemikian rupa sehingga baju-baju ini bisa sangat nyaman di pakai santai rumah dan cukup fashionable / proper untuk zoom meeting dan kegiatan virtual termasuk untuk social media.

Kelebihan dari koleksi pertama ini bahannya sangat lembut sekali sehingga sangat nyaman ketika kita pakai dan bisa Di padupadankan dengan celana atau bisa dijadikan outer baik yang pakai hijab atau tidak. Begitu juga bisa dipakai laki-laki ataupun perempuan .

Proses print dikerjakan dengan batik cap dan hand print / screen print. Dengan kuwalitas yang sangat bagus , packaging yang sangat menarik akan tetapi dengan harga yang sangat terjangkau antara 200.000-700.000 rupiah. Koleksi acharisma ini cocok sekali untuk gift atau hadiah  tidak perlu khawatir dengan ukuran yang kebesaran atau kekecilan.

Kolaborasi dengan Madja by Mayaratih, Nafash Rilis Koleksi Terbaru

GayaKeren.id – Memasuki era New Normal setelah lebih kurang 4 bulan masyarakat melakukan hampir semua pekerjaan dari rumah. Meski bekerja kembali dikantor, ada aturan protokol kesehatan yang harus dipatuhi demi mencegah penularan virus Covid-19. Tetap menjaga kesehatan, kebersihan dengan cara rajin mencuci tangan, memakai masker, memakai sarung tangan dan pastinya menjaga jarak aman menjadi kebiasaan baru dalam kehidupan masyarakat.

Kondisi ini menjadi inspirasi bagi Nafash. Kolaborasi antara MADJA by Mayaratih & FENNY SAPTALIA  membuat koleksi yang berjudul NA•FASH. Berasal dari kata Nafas yang Berarti Hidup. Nafas adalah hal utama untuk kelangsungan hidup. Dalam  arti lain, NA.FASH adalah “NEW NORMAL FASHION“.

NA•FASH  terdiri dari tiga koleksi berupa Long Jacket, jumpsuit, dan cape. Yang mana koleksi kami ini menggunakan bahan yang memiliki keunggulan antibacterial and water repellent dengan tujuan untuk menambah perlindungan bagi diri kita. Kemudian, dari segi fashion kami menonjolkan  karakter Casual Street fashion yang bisa dikenakan oleh semua kalangan dengan warna warna pastel antik dan design signature printing berupa kata-kata encouragement / penyemangat untuk mengingatkan dan memberi semangat kepada orang sekeliling kita yang melihatnya.

Pada koleksi Na•Fash kami juga menambahkan koleksi SCARF, FASHION MASK & GLOVES sebagai kelengkapan pelindung diri. Kami berharap koleksi kolaborasi ini bisa menjadi sebuah inspirasi, perubahan, dan semangat baru untuk kita semua bisa bangkit kembali di masa pandemik ini. Dan juga kita semua bisa selalu menjaga keamanan diri namun tetap stylish dalam berpenampilan  menuju “NEW NORMAL LIFE “.

“Kiranya koleksi karya kami ini bisa diterima dengan baik oleh insan fashion tanah air yang menyuarakan semangat dan kebangkitan Indonesia.” Harapan Fenny yang disampaikan dalam rilisnya.

          

Mempertahankan Bisnis Fashion Ditengah Pandemi Ala 2 Disainer IFC

GayaKeren.id – Dunia fashion tanah air menjadi salah satu bidang usaha ekonomi kreatif yang berkembang pesat saat ini. Sayangnya, dikarenakan pandemi Covid-19 yang mewabah diseluruh dunia juga memberikan dampak luar biasa terhadap pelaku usaha di dunia fashion ini. Berbagai event promo baik skala daerah, nasional maupun internasional terpaksa ditunda, atau bahkan dibatalkan yang pastinya juga berimbas terhadap angka penjualan. Tidak sedikit pelaku usaha mengalami stag atau bahkan menutup usahanya karena menurunnya pembelian, begitu juga didunia fashion.

Indonesia Fashion Chumber atau IFC, yang merupakan salah satu wadah bagi desainer Indonesia terus memberikan motivasi bagi para desainer yang berada dibawah naungannya. Salah satunya menyelenggarakan zoom meeting untuk menggantikan jumpa pers untuk merilis dan memperkenalkan karya para desainer, kemudian dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi juga, IFC mengajak desainer-desainer yang menjadi anggotanya untuk membagi cara bertahan ditengah pandemi.

 

Hannie Hananto. Pemilik brand Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto ini menceritakan bahwa, pandemi ini telah merubah perilaku masyarakat. Karena keharusan bekerja dari rumah, sehingga peng-aksesan media sosial untuk segala bentuk kebutuhan menjadi gaya hidup baru. Berbagai transaksi pun dilakukan melalui jejaring media sosial.

“Pada waktu awal sudah tidak kaget, karena infrastruktur yang utama sudah harus dibenahi yaitu dengan merubah system, penjahit ada yang dikerjakan di Sumedang dan Jakarta (jadi tidak sampai mem PHKan). Pada saat itu Brand saya ada Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto berupa kartun-kartun dan polkadot, semuanya serba print-print nan akan ada event di makassar yang cancel. Di masa pandemic ini, karena sudah ada stock produksi dan persiapan yang lumayan ready akhirnya lewat media tiktok bisa teratasi. Tiktok itu mudah dan buat videonya  bisa diedit, selain itu perlu adanya interaksi antara designer dengan customer, agar brand tidak tenggelam, usahakan just say hello kepada pelanggan.”

Kemudian masker mulai langka dipasaran, pertama kali Hannie Hananto mendapat kiriman masker dari mas phillip dan mbak Hendry  Jogyakarta, membuat Hannie Henanto berpikir untuk sendiri membuat sendiri dengan motif sendiri yang sesuai dengan motif hijab dan baju yang diproduksi. Kemudian diposting di media sosial. “Alhamdulilah respon postif. Bagaimana cara kita membentuk “image baru”dari desain kita itu penting, perlu kepekaan dalam membaca apa yang lagi “Hype”, “tambahnya.

Riri Rengganisi, Indische (ready-to-wear kebaya, berdiri sejak 2008) dan Rengganis (ready-to-wear ethnic contemporary womenswear & accessories, berdiri sejak 2017). Memiliki pasar tersendiri dengan desain unik yang mengangkat teknik tradisional bordir tangan yang didesain secara kontemporer. Selain itu, tekstil tradisional Indonesia lainnya seperti batik tulis dan tenun selalu hadir sebagai pelengkap koleksi.

“Strategi pertama yang pasti dilakukan kebanyakan orang ketika itu adalah genjot medsos dan blast WA ke seluruh customer database utk berpromosi, tapi apa yang terjadi? Malah backfire : mereka “curhat” balik karena kondisi mereka pun sedang tidak memungkinkan untuk berbelanja. Maka dari situ saya segera hentikan broadcast ke pelanggan, karena takut terkesan “tidak sensitif” terhadap situasi mereka. Posting foto baju di medsos juga dihentikan. Lalu dari situ saya rubah strategi,” Riri menceritakan langkah awal yang diambilnya.

Kemudian Riri mengevaluasi produknya dengan mempertimbangkan kelayakan ditawarkan pada saat semua orang mengeluhkan kesusahan. Riri memilih fokus di 2 hal, yaitu : Menawarkan jasa jahit dengan konsep tanpa potong, ini membuat pembeli kain bisa dianggap sebagai investasi, membantu pengrajin, tapi juga bisa dipakai tanpa merusak nilai kain tersebut. Selain itu ditawarkan juga jasa “jahit tanpa potong” untuk kain dari koleksi pribadi para pelanggan.

Dan membuat masker dengan desain yang bisa dipadankan dengan bestsellers koleksi lama supaya bisa ditawarkan ke semua pelanggan loyal. “Di awal April belum banyak brand lain yang membuat masker premium, maka saya buru-buru post foto 2 desain masker berbordir dipadukan dengan bajunya. Tanggapannya ternyata bagus, maka seminggu berikutnya (pertengahan April) saya launch lagi 7 desain baru. Di minggu terakhir April, pesanan yang masuk alhamdulillah menutup kekurangan omset di awal bulan hingga masih bisa menggaji karyawan.”

Konsep menawarkan produk yang relevan saja, komunikasi personal dengan pelanggan, eksis terus di medsos, dan diskon selected items menjadi strategi marketing untuk untuk ketahanan bisnis sementara ini. “Tetapi semua itu memang terbantu oleh adanya website, karena tanpa itu tidak mungkin saya mendapat kepercayaan secepat ini dari pelanggan baru. Di bulan Juni, masker saya sudah dipesan untuk pelanggan baru di Singapore, Korea, Jerman, London, Filipina, juga sebagai corporate gift salah satu bank di Indonesia,” tutup Riri.

 

Sharing, Tips Bertahan Ditengah Pandemi Ala Desainer IFC

GayaKeren.id – Tidak bisa dipungkiri, merebaknya pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap hampir semua sektor usaha. Dari mulai pengurangan jumlah produksi, pengurangan jumlah jam kerja, hingga pengurangan tenaga kerja, dengan kata lain pemutusan hubungan kerja. Dan banyak pengusaha harus melakukan inovasi agar usahanya tetap bisa bertahan ditengah kesusahan yang dirasakan secara global diseluruh dunia.

Kondisi bisnis yang sulit ini juga dirasakan oleh pelaku usaha di dunia fashion, hal ini terungkap saat Indonesia Fashion Chumber melakukan Sharing Session melalui aplikasi Zoom Meeting pada Senin (22/6). Lima disainer Indonesia dibawah naungan IFC menceritakan bagaimana mereka bertahan dengan melakukan inovasi dengan mengikuti kebutuhan konsumen tanpa mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku saat ini, namun tetap mempertahankan ciri khas karyanya.

Rosie Rahmadi, pemilik brand Gadiza mengungkapkan peran penting dari para mentor dan SDM yang membantunya bertahan. Pada awal masa pandemi, pertama yang dilakukan Creative Director Gadiza adalah membangun mental diri untuk menghadapi kondisi ini, membangun mental tim, kesehatan diri dan semangat. Setelah itu, dimulailah koordinasi dengan tim untuk menyusun strategi untuk bertahan. Strategi pertama yang dilakukan adalah yaitu mulai melakukan aktivasi digital. Aktivasi Digital yang dilakukan diantaranya memaksimalkan media social dan website sebagai sarana untuk penjualan dan branding. Salah satu strategi yang dilakukan untuk menarik orang untuk berbelanja online yaitu menerapkan strategi diskon dan digital marketing. Hal tersebut sekaligus menghindari penumpukan stok berlebih.

Alat Pelindung Diri atau APD yang kemudian menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak bisa melakukan aktifitas kerjanya dari rumah, membuat Rosie terinspirasi untuk mendesain outer yang juga berfungsi sebagai APD. SAZIA OUTER sebagai Outer Pelindung Diri. Dengan desain yang simple, penggunakaan bahan yang ringan dan water repellent. Hanya dalam waktu singkat, Sazia Outer yang awalnya melimpah di Gudang Maison Gadiza habis dan harus memproduksi lagi. Hingga saat ini, Rosie Rahmadi telah mengeluarkan desain Outer Pelindung Diri yang tidak hanya bisa digunakan oleh perempuan tetapi juga laki-laki (Unisex). Permintaan SAZIA OUTER ini didominasi oleh orang yang masih harus beraktivitas di luar, seperti dokter, pekerja kantoran, dan ibu rumah tangga. Kebanyakan pengguna memiliki lebih dari satu SAZIA Outer, karena harus dicuci setiap setelah pakai dan keesokan harinya harus dipakai lagi untuk kembali keluar.

Khairul Fajri, member IFC asal Aceh ini pun terkena imbas diberlakukannya PSBB di Aceh. Pemilik brand lokal, Ija Kroeng yang identik dengan kain sarung etnik Aceh dan pakaian muslim pria milenial ini mengalami penurunan penjualan hingga 99%. Saat WHO menganjurkan masyarakat memakai masker kain sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, permintaan akan masker kainpun meningkat tajam sehingga mengakibatkan kelangkaan masker dan harga yang tidak normal dipasar.

“Sektor bisnis fashion khususnya yang memproduksi sendiri produknya atau minimal memiliki mesin jahit menurut saya, salah satu sektor bisnis yang paling mampu untuk bertahan karna masih bisa memproduksi produk- produk yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan team medis seperti masker dan APD. Di Aceh, tidak semua rumah produksi memiliki mesin jahit sekaligus perlengkapan printing kain. Workshop Ija Kroeng yang memiliki mesin jahit dan peralatan manual printing mengambil kesempatan ini untuk memproduksi masker berlogo brand ija kroeng.” ungkap Khairul Fajri.

Selain menjual langsung masker berlogo brand ija kroeng di media sosial dan di workshop, strategi masketing lainya ialah dengan memproduksi sample masker berlogo instansi atau perusahaan seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan Aceh, Musium Aceh, Aceh Business Club dan lainya yang dianggap memiliki kemungkinan besar untuk memesan masker dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masyarakat.

Secara tidak langsung momen ini sangat membantu untuk menyebarkan informasi tentang brand kita kepada konsumen baru yang selama ini tidak bisa dijangkau, menjaga eksistensi dan menguatkan posisi brand dimata konsumen. Hal ini bisa dilihat dari bertambahanya follower di media sosial yang siknifikan sehingga berefek kepada penjualan bulanan khususnya selama bulan Ramadhan terhadap produk utama seperti kain sarung, celana sarung dan baju  muslim pria.

Setelah dimulainya new normal dimana masyarakat sudah bisa beraktifitas seperti biasa walaupun ada pembatasan pembatasan untuk mencegah kembali penyebaran covid-19. Acara- acara pernikahan di mesjid juga sudah mulai diselenggarakan kembali dengan salah satu syaratnya ialah semua orang wajib memakai masker. Ija kroeng melihat ada peluang dan segera berinovasi lagi memproduksi masker kain bertuliskan nama pasangan pengantin sebagai souvenir, kemudian masker ini akan dibagikan kepada seluruh orang yang akan datang ke acara pernikahan tersebut.

Phillip Iswardhono, Chairma IFC Jogja ini memiliki produk kain lurik yang tersebar sebanyak 75 % database dijakarta, 10% bandung, surabaya medan dan lain 4,5%, Jogya malah paling sedikit yaitu 0,5%.

“Minggu pertama hingga kedua kami tidak mengalami kegugupan/nervous karena masih runing dari PO sebelum pandemic. Mulai merasakan tidak ada order baru setelah minggu ketiga, kemudian muncul ide baru bagaimana caranya untuk tetep jualan. Saya mulai membangun networking kembali, menghubungi database clien-clien yang lain, lewat whatsapp hanya menyapa, kalau dapat alamat dikirim masker sebagai hadiah ke client. Efek positif lainnya merekrut kembali client-client yang udah lama tidak dihubungi,” ungkap Phillip.

Dari jualan masker dengan harga Rp 3500 kain perca, sampai masker seharga Rp 1 jt rupiah dengan bahan kain tenun langka 1 pcs Rp 1 juta, saat ini museum peranakan di Singapore  sudah memesan 1860 pc dengan batik motif-motif peranakan.

Kesulitan untuk mengirim ke luar negeri jangan dihadapi dengan gugup, menyikapi dengan hati-hati dan tidak parno. Sekarang ini tidak mengurangi malah menambah penjahit baru, selain itu untuk tetap eksis memesan pengrajin kain-kain tenun khususnya lurik, untuk tetap beraktifitas.

 

 

 

Masker ChantiQ by Astuti Arindra

GayaKeren.id – Member Indonesia Fashion Chumber  atau disingkat IFC Yogyakarta, Astuti Arindra melaunching koleksi terbarunya yang merupakan masker modis dengan kesan etnik Jawa yang kental. Koleksi masker ini merupakan bentuk dukungan Astuti terhadap penerapan kondisi New Normal di sebagian wilayah Indonesia saat ini setelah hampir 4 bulan Indonesia, terutama Jakarta menjalani masa PSBB untuk memutus matarantai penyebaran virus Covid-19.

ChantiQ memberikan pilihan masker fashion untuk pecinta fashion Indonesia. ChantiQ dengan Astuti Arindra sebagai desainer, berkreasi membuat beberapa model masker fashion. Berikut merupakan hasil karya ChantiQ by Astuti Arindra.

Kendit Genit, berbahan utama kendit yg biasa dipakai wanita Jawa sebagai kemben atau pengikat kain jarik di pinggang. Masker ini berlapis kain katun lembut di bagian dalam sehingga tetap nyaman dipakai. ChantiQ mengangkatnya untuk bisa tampil sebagai pusat perhatian di era new normal seperti sekarang ini.

Love Indonesia & You,terbuat dari bahan kanvas yang dilapisi kain katun lembut di bagian dalam, sehingga nyaman dipakai. Masker “Love Indonesia & You” hadir dalam 3 warna, yaitu hitam, merah, dan putih. Masker ini dapat dikenakan oleh perempuan maupun laki-laki.

Karena saat ini masker menjadi gaya hidup dan identitas, jadi, seperti apa style masker kamu?

Masker Kain Eksklusif Dengan Identitas By Ferry Sunarto

GayaKeren.id – Pandemi Covid-19 secara global berdampak pada banyak sektor bisnis, tak terkecuali industri fashion. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi kreativitas para desainer Indonesia untuk tetap berkarya agar bisnis dapat tetap berjalan.

Desainer Ferry Sunarto turut menghadirkan produk masker kain yang eksklusif sebagai persembahan untuk negeri. “Pandemi ini mempengaruhi semua lini usaha. Tetapi kita tidak boleh patah semangat. Dalam situasi ini tetap ada peluang untuk mengembangkan bisnis dan tangan-tangan terampil di rumah produksi kita masih bisa bekerja. Kita harus yakin pandemi ini akan berlalu. Indonesia harus bangkit, Indonesia harus maju, didukung bangga pakai produk dalam negeri. Dengan kekompakan dan kreativitas, kita bisa menghasilkan sesuatu yang di luar dugaan,” ungkapnya.

Desainer asal Bandung ini membuat masker reversible atau bisa digunakan bolak-balik yang terinspirasi dari kegiatan social distancing selama pandemi Covid-19. Inspirasi tersebut dituangkan dalam desain masker dengan potongan bahan yang terbagi menjadi beberapa bagian yang berjarak, namun dipadukan dengan komposisi teknik jahit khusus sehingga menjadi sesuatu yang harmoni. Bermakna pentingnya kebersamaan dan optimis Indonesia akan pulih dan maju.

Mengangkat identitas Indonesia, ada dua koleksi yang diperkenalkan Ferry Sunarto. Pertama, masker kain berwarna merah putih dengan logo Burung Garuda yang melambangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mengingatkan kita agar lebih mencintai Indonesia. Tersedia dua pilihan warna logo, yaitu merah dan emas. Khusus warna emas untuk kalangan terbatas. Dan koleksi kedua adalah masker kain dengan menggunakan keindahan wastra Nusantara yang telah diakui oleh dunia, yaitu kain batik dalam beragam pilihan motif, mulai dari klasik hingga kontemporer. Kain batik yang digunakan merupakan hasil kerjasama dengan generasi penerus Ondomohen Batik, brand batik Jawa Timur yang berkualitas dan telah berdiri sejak tahun 1952.

“Indonesia kaya akan budaya. Batik sebagai warisan budaya Indonesia yang telah mendapatkan apresiasi dunia harus kita kembangkan bukan hanya sebagai busana, melainkan bermacam produk pendukung fashion, seperti masker. Dengan membuat masker, kami berharap dapat memberikan dampak yang positif terhadap the new normal yang selalu mewajibkan penggunaan masker sebagai protokol kesehatan,” papar Ferry.

Terinspirasi pula oleh pandemi global ini, Ferry terus berinovasi dengan segera meluncurkan sebuah label “Pandemio x ferrysunarto” yang ditujukan untuk kaum urban modern yang sangat mengerti pentingnya menjaga kesehatan dalam memasuki era the new normal. Koleksi ini terdiri dari masker, jaket, dan topi yang akan dirancang fashionable dengan harga yang terjangkau. Serta menggunakan bahan kreasi tekstil Jawa Barat yang memenuhi standar kesehatan, seperti bahan antibakteri dan tahan air. Tentunya kita sangat menunggu koleksi ini segera hadir.

Ferry berharap dalam situasi pandemi ini, muncul kesadaran lebih dari masyarakat untuk menjalani anjuran Pemerintah agar selalu memakai masker di tempat umum, menjaga jarak, dan mencuci tangan, untuk menjaga kesehatan kita dan orang-orang tercinta di sekitar kita.

IFC Jogja, Galih Kearifan Lokal Untuk Masker Hendri Budiman

GayaKeren.id – Hendri Budiman, salah satu member sekaligus pengurus IFC Jogja mengikuti jejak rekan-rekan desainernya yang memproduksi masker yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pelindung diri, tapi juga fashionable. Hal ini dilakukannya bukan sekedar untuk mempertahankan bisnisnya di dunia fashion Indonesia, khususnya Jogja, tapi juga menjawab kebutuhan masker di tengah-tengah masyarakat pada saat ini.

Sejak mengikuti kegiatan di Nasional, terutama Muslim Fashion Festival yang diikutinya setiap tahunnya dan terakhir mengikuti program show di India 2018 yang diselenggarakan oleh Kedutaan Indonesia di India, semakin tertarik Hendri Mugi untuk menghasilkan karya yang identik dengan keberagaman identitas bangsa Indonesia, salah satunya adalah batik berpadan dengan lurik atau tenun. Motif yang identik dengan kekayaan alam dan tradisi Indonesia, dituangkan Hendri dalam keunikan batik yang akhirnya menjadi identitasnya berkarya, sebut saja dengan motif ayam dan motif-motif Flora yang menginspirasinya untuk membubuhkan di helai-helai batik sutranya yang indah, salah satu kesukaannya motif polkadot yang disukainya sejak kecil dan itu terbawa hingga saat ini untuk membubuhkan motif polkadot dibeberapa karya2 batiknya.

Pemilik 3 Ratu Batik di Jogja ini menjualnya begitu eksklusif, kliennya yang kebanyakan bertempat tinggal di Jakarta, masih terus memesan masker unik dan premium karya yang bercirikan Hendri Budiman ini. Salah satu karya yang baru adalah BUNGA dari salah satu seri  motif scarecrow, karena hobby lama kini hidup kembali yaitu berkebun, maka jadilah ide bunga disetiap maskernya yang diperuntukkan bagi wanita yang menyukai keindahan dan lingkungan yang indah dengan harapan segera pandemi ini berlalu. Hendri memahami dan meyakini, setiap ucapan adalah doa, demikianpun setiap karya yang lahir adalah harapan besar yang merupakan bagian doa dari yang membuatnya.

 

Eienno, Masker Stylist Untuk Anak Muda

GayaKeren.id – Pandemi Covid-19 merubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari manusia. Dari mulai kebiasaan bersosialisasi, bertemu, bekerja diluar ruangan, bahkan juga merubah trand fashion dunia. Masker menjadi kebutuhan sehari-hari yang saat ini digunakan semua lapisan masyarakat. Masker saat ini tidak hanya menjadi sebuah kebutuhan dengan alasan kesehatan. Masker sempat menjadi barang yang paling dicari, dan dijual dengan harga yang sangat tidak masuk akal. Tapi kemudian, para disainer mulai memproduksi masker dengan berbagai bentuk, bahan dan corak, tanpa mengesampingkan fungsi masker sebagai bagian dari alat pelindung diri dari pandemi.

Saat ini masker telah menjadi bagian dari fashion yang di ciptakan para disainer, salah satunya Eienno yang melihat dan mencoba membantu menyediakan masker yang sesuai dengan protokoler kesehatan yang ditetapkan untuk masyarakat, namun tetap nyaman dan stylist hingga terlihat keren digunakan anak muda.

Dengan desain bertemakan Nomaden, karena masker ini bisa digunakan dimanapun, Eienno menciptakan masker dari bahan yang nyaman, karena serat halus, tidak mudah iritasi, menyerap keringat dan perawatannya juga mudah. Bisa dicuci dan disetrika sehingga lebih hemat karena bisa dipakai berulang-ulang dan lebih steril. Bentuk dan Cutting-nya nyaman, enak dipakai karena bisa menutup area wajah dengan penuh sehingga bisa memberikan perlindungan yang maksimal. Tampil tetap ceria dan percaya diri meski pada saat masa pandemic.

Karena banyaknya antusias and permintaan, Eienno akan terus berkreasi untuk menciptakan variasi desain desain  yang  bisa diterima dan dibutuhkan di pasar.

Member IFC Semarang, Devy Ros Releas S-APD

GayaKeren.id – Pandemi Corona membuat masyarakat tidak bisa melakukan kegiatan diluar rumah dengan leluasa. Berdiam di dalam rumah, atau, kalau terpaksa keluar rumah pun harus menggunakan pakaian yang dapat melindungi diri kita dari kemungkinan terpapar virus Corona. Keluar rumah dengan menggunakan alat pelindung diri atau APD menjadi kebutuhan saat ini. Baik itu APD berupa masker, sarung tangan mau pun baju. Pastinya, APD yang dimaksud bukan yang diperuntukan bagi para medis.

Salah satu member IFC Semarang, Devy Ros merilis alat pelindung diri yang tidak sekedar melindungi diri kita dari kemungkinan terpapar virus Corona, tapi juga terlihat modis dan stylist. S-APD atau Stylist alat pelindung diri memiliki kegunaan yang mirip dengan APD yang seharusnya hanya digunakan oleh tenaga medis karena mereka membutuhkan banyak APD dalam bertugas. S-APD dibuat menggunakan bahan Nylon Polyester Parasit sehingga benda atau cairan luar tidak menyentuh tubuh penggunanya. S-APD ini memiliki sifat water repellent, anti-dust, sangat ringan serta memiliki hoodie penutup kepala dan banyak kantong untuk menyimpan barang-barang Anda.

S-APD dapat digunakan saat beraktifitas di luar rumah, seperti pergi ke supermarket, ke bank, ke rumah sakit / klinik, atau ke tempat umum lainnya. Selain itu, S-APD juga dapat digunakan untuk berolahraga atau jogging.

Dampak Pandemi Covid-19 “The New Normal” dalam Sektor Industri Fashion

GayaKeren.id – Untuk menghadapi dampak pandemi terhadap industri fashion global, Indonesia Fashion Chamber (IFC) menyelenggarakan bincang-bincang melalui kanal virtual, yaitu IFC Online Talkshow dengan mengangkat tema “The New Normal for Fashion Business and Events” pada tanggal 12 Mei 2020. Diharapkan melalui talkshow ini dapat memberikan inspirasi bagi pelaku industri fashion di tanah air dalam menghadapi dan mengantisipasi selama dan pasca pandemi Covid-19.

Dalam talkshow yang dipandu oleh Ali Charisma (National Chairman IFC) sebagai Host dan Taruna K. Kusmayadi (Advisory Board IFC) sebagai Moderator ini menghadirkan dua narasumber yang berkecimpung di bidang event fashion bergengsi di Hong Kong dan Afrika. Yaitu Janice Lee asal Hong Kong sebagai Partnership Director, Commercial Strategy and Development Informa Market dan Lexy Mojo Eyes asal Nigeria sebagai CEO of Legendary Gold Limited, Organizer of Africa Fashion Reception.

Janice Lee memaparkan bahwa situasi tersebut terjadi di Hong Kong. “Belanja online merupakan solusi di masa pandemi Covid-19. Berbagai brand fashion sangat terbantu dengan menyediakan layanan belanja online. Bahkan banyak program marketing yang ditawarkan, seperti benefit return policy (barang dapat dikembalikan) dengan pengiriman gratis. Tentunya ini bagus untuk menstimulasi orang berbelanja, tapi perlu diperhatikan apakah ini akan sustainable dalam jangka panjang,” papar Janice.

“The new normal” saat ini adalah berada di rumah saja dan aktivitas yang seharusnya dilakukan di luar rumah diubah menjadi serba online. Secara naluriah, manusia adalah makhluk sosial yang tetap membutuhkan keluar rumah untuk berinteraksi langsung dengan lingkungannya. Begitu pula dalam hal belanja. Orang masih membutuhkan mencoba (fitting) baju/sepatu/makeup, menyentuh materialnya, melihat kualitasnya, sebelum membeli. Jadi, the new normal dalam berbelanja online sebenarnya cocok hanya untuk repeat product, barang yang pernah kita beli. Tapi untuk barang baru, masih perlu unsur experience dan human touch.”

Narasumber Lexy Mojo Eyes memaparkan tentang situasi yang terjadi di negerinya, Nigeria yang sekarang telah menjadi “fashion capital” di Afrika. Kemajuannya di bidang fashion telah melebihi Afrika Selatan. Namun saat ini pemerintah Nigeria belum memberi banyak dukungan bagi industri fashion untuk lebih tampil di dunia internasional, karena perhatiannya lebih banyak ke industri perfilman dan musik. Berkaitan dengan pandemi Covid-19, industri fashion di Nigeria masih berjalan sendiri, belum ada program bantuan apapun dari pemerintahnya.

Sementara itu Ali Charisma menegaskan bahwa pengembangan varian produk dengan masker, yang akan menjadi kebutuhan pokok nantinya, menjadi solusi bisnis fashion yang tepat. “Masker masih akan terus dibutuhkan. Desainer bisa membuat masker yang kreatif atau eksklusif dengan fungsi pelindung maupun sebagai aksesori fashion, seiring dengan pakaian yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat pasca pandemi Covid-19. Selain masker, desainer bisa mengembangkan dengan produk homeware (perlengkapan rumah) dan homewear (pakaian untuk di rumah) yang juga banyak dibutuhkan selama pandemi ini,” saran Ali yang mengingatkan bagi desainer tanah air untuk mengutamakan penggunaan tekstil lokal.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan penundaan penyelenggaraan event fashion di berbagai negara, termasuk fashion week yang digelar di kota-kota pusat mode dunia. Seperti yang dipaparkan Lexy, perhelatan event Nigeria Fashion Week yang biasanya melibatkan 50-70 desainer lokal maupun internasional dan event Africa Fashion Reception di Nigeria yang melibatkan desainer dari seluruh Afrika dan didukung oleh African Union dan Unesco, untuk tahun ini harus ditunda sampai tahun depan.

Mengatasi kondisi tersebut, menurut Janice, kini telah bermunculan strategi baru seperti online sourcing platforms yang jauh lebih efisien secara biaya dan waktu bagi semua pihak. Seperti salah satu event yang sedang dipersiapkan yaitu Show Cosmoprof yang akan go digital: digital event for the beauty market. Ada pula InTouch, platform online untuk kegiatan sourcing/pencarian supplier yang sudah berjalan. Melalui platform ini, exhibitor dapat melakukan live presentation/demonstration yang disaksikan oleh buyer. Kemudian buyer dapat langsung mengirim inquiry. Penyelenggara membantu proses tersebut, seperti memfasilitasi meeting perorangan, webinars, dan lainnya. (Terlampir informasi lebih lanjut tentang InTouch).

platform format online akan terus berkembang dinamis mengikuti kebutuhkan para pelaku industri fashion. Ali Charisma menyampaikan konklusi sebagai penutup talkshow ini, “Dengan adanya the new normal, maka kita tidak akan kembali sepenuhnya pada kehidupan di masa sebelum pandemi Covid-19, termasuk dalam bisnis fashion seperti strategi pemasaran dan penjualan. Pelaku industri fashion harus siap dengan tuntutan the new normal, terutama strategi online. Kesiapan strategi online sangat penting supaya dapat survive bahkan berkembang di masa mendatang.”