Penyebab Bayi Sulit Tidur

 

GayaKeren.id – Matanya tak kunjung terpejam, padahal dia sudah harus tidur. Kenali penyebab bayi sulit tidur. Bayi perlu tidur berkualitas untuk mendukung tumbuh kembangnya.

  1. Demam, meski tidak selalu tanda adanya penyakit, demam bisa berarti gejala adanya infeksi telinga, radang tenggorokan. Bila bayi sering menggosok atau menarik telinganya, pertanda dia mengalami infeksi telinga. Bila bayi enggan menyusu, pertanda dia mengalami radang pada rongga mulutnya.

Atasi dengan:

Beri obat penurun panas atau paracetamol yang diresepkan oleh dokter. Kompres tubuh anak dengan air hangat. Caranya; ukur suhu tubuh bayi, kemudian siapkan air hangat 1°C lebih tinggi dari suhu tubuh bayi. Kemudian kompreslah menggunakan handuk kecil.

  1. Tumbuh gigi pada bayi bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Rasa sakit pada gusi bisa mengganggu tidur bayi.

Atasi dengan:

Pijatlah gusi dengan lembut. Cuci tangan Anda lebih dulu dengan menggunakan air dan sabun pencuci tangan, bukan gel pembersih tangan. Keringkan dengan lap  kertas hingga tangan Anda benar-benar kering.

  1. Kolik, penyebabnya belum diketahui hingga kini. Gejalanya adalah perut kembung dan keras serta biasanya bayi menangis sambil menarik kakinya ke arah perut.   Rasa sakit yang disebabkan oleh kolik ini bisa membuat bayi menangis sepanjang malam dan mengganggu tidurnya.

Atasi dengan:

Gendong bayi dengan posisi telungkup, sangga perutnya dengan tangan Anda. Bungkus bayi seperti membedongnya. Awalnya dia akan menangis keras, tapi akan segera mereda.

Pangku bayi, kemudian goyangkan kedua kaki Anda perlahan, berirama dan terus menerus sampai bayi tertidur.

Berikan ASI terus bila bayi masih mengonsumsi ASI. Bila dia menolak menghisap puting, berikan jari tangan Anda untuk dihisap.

  1. Terlalu banyak rangsang. Bermain “heboh” di siang hari, musik riang yang terus menerus diperdengarkan, lampu kamar yang terang benderang, suara televisi di ruang keluarga yang terdengar sampai ke kamar bayi, merupakan rangsang yang berlebihan sehingga menyulitkan bayi untuk tidur.

Atasi dengan:

Lakukan pijat ringan pada tubuh bayi untuk melancarkan sirkulasi darah. Bersihkan tubuh bayi dengan air hangat, ganti popok dan pakaiannya. Matikan TV, redupkan lampu kamar, putar musik yang sangat lembut.

  1. Perubahan kebiasaan. Bayi sangat peka terhadap perubahan kebiasaan. Bayi yang biasanya tidur bersama Anda, kemudian pindah ke tempat tidurnya sendiri, kemungkinan akan mengalami sulit tidur.

Atasi dengan:

Latih anak untuk tidur di tempat tidurnya sendiri secara bertahap. Awalnya, tidurkan bayi di tempat tidur Anda, kemudian setelah lelap pindahkan ke tempat tidurnya sendiri.  Jika ia bangun dan menangis, tenangkan dengan menepuk-nepuknya dengan lembut untuk memastikan Anda berada di dekatnya.

 

Sumber: ayahbunda.co.id

 

 

Please follow and like us:

Ketahui Penyebab Anak Perempuan Bisa Jadi Tomboi

 

GayaKeren.id – Tomboi adalah istilah yang disematkan pada perempuan yang memiliki sifat atau perilaku yang dianggap masyarakat sebagai peran tipikal gender laki-laki. Seorang wanita yang memiliki sifat ini cenderung menyukai hal-hal yang maskulin serta suka menggunakan pakaian, pekerjaan, dan permainan yang biasa dilakukan laki-laki. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Melansir klikdokter, Menurut sebuah studi dari Child Development, hal ini disebabkan karena meningkatnya kadar testosteron selama masa kehamilan dan pengaruh lingkungan sebelum anak perempuan memasuki masa sekolah. Salah satu temuan studi ini adalah, semakin banyak paparan testosteron yang dialami anak perempuan ketika di dalam di rahim, semakin besar pula kemungkinkan ia akan menjadi tomboi. Kelak ketika ia tumbuh dewasa, ia akan lebih menyukai permainan yang umumnya dimainkan oleh anak laki-laki.

Pengaruh Testosteron

Menggunakan data dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children yang merupakan studi jangka panjang tentang masa kehamilan dan kesehatan anak, para peneliti mengamati 679 anak berusia 18 bulan yang lahir di awal tahun 1990-an. Penelitian ini mengambil sampel darah ibu selama masa kehamilan untuk dianalisis kadar testosteronnya (atau juga disebut hormon laki-laki).

Tidak hanya itu, begitu anak mencapai usia 3,5 tahun, seorang pengasuh melengkapi kuesioner dengan menilai keterlibatan anak dalam berbagai perilaku gender, seperti pemilihan permainan anak berdasarkan gender dan berbagai aktivitas lain. Hasilnya, tingkat testosteron yang tinggi selama masa kehamilan ternyata berpengaruh terhadap tingkat “maskulinitas” anak perempuan.

Seperti dikutip di laman WebMD, Melissa Hines, PhD, peneliti dari City University di London dan rekannya mengatakan, faktor lain seperti pendidikan ibu, saudara laki-laki dan perempuan yang lebih tua atau orang dewasa laki-laki di rumah, serta pandangan orang tua terhadap peran gender tertentu, juga dapat memengaruhi munculnya perilaku tomboi. Namun, para peneliti mengatakan bahwa beberapa faktor tersebut belum diperhitungkan dalam hubungan antara testosteron dan perilaku yang ditemukan dalam penelitian ini.

Peran orang tua

Meski begitu, para periset mengatakan bahwa hubungan antara testosteron dan perilaku anak perempuan dalam penelitian ini hanya menyumbang 2 persen dari varian dalam perilaku gender saat masa prasekolah. Periset juga mengatakan bahwa anak perempuan mungkin sangat rentan terhadap efek testosteron, namun faktor sosial juga dapat berdampak pada perilakunya di kemudian hari.

Lebih jauh lagi penelitian tersebut menyebutkan, dibandingkan dengan anak perempuan, anak laki-laki lebih terdorong dalam berperilaku sesuai tipikal jenis kelamin dan tidak tertarik untuk terlibat dalam perilaku lintas gender. Karena itu, anak perempuan lebih mungkin menunjukkan kecenderungan predisposisi terkait hormon terhadap perilaku peran gender yang lebih berkarakter lewat jenis kelamin lain.

Jika hal ini membuat Anda sebagai orang tua khawatir, ingatlah bahwa saat anak berkembang, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, ia harus melewati tahapan-tahapan baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial. Peran orang tua di sini adalah mempersiapkan si anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Kendala sudah pasti akan dijumpai, seperti misalnya sifat anak yang tomboi. Namun dari sinilah anak belajar untuk berproses.

 

 

 

Please follow and like us:

Membangkitkan Percaya Diri Anak Broken Home

GayaKeren.id – Anak yang kedua orangtuanya bercerai atau broken home dapat berpotensi mengalami gangguan psikis. Salah satunya kurang percaya diri.

Bahkan berdasarkan riset, mereka berisiko lima kali lebih besar mengalami gangguan emosi dan mental. Lalu, apa yang perlu dilakukan orangtua agar anak tidak trauma dan lebih percaya diri??

Menurut Psikolog Anak sekaligus Grapholog, Laksmira Ratna Bayuardi atau Bu Mia, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua.

Jadilah Cermin Yang Positif

Meski sedang terpuruk, ingatlah bahwa ada seorang anak yang melihat Anda sebagai contoh. Anda tidak perlu terus tersenyum atau terlihat bahagia setiap saat. Wajar jika Anda mengalami masa sedih.

Namun, reaksi Anda dalam menyikapinya tentu dapat menjadi cermin bagi anak. Bila Anda cepat bangkit, anak pun akan belajar hal yang sama ketika ia besar.

Berikan Pengertian Pada Anak

Bila anak sudah mengerti, beritahu alasan Anda dan pasangan bercerai. Tidak perlu menutup-nutupi. Jika menyembunyikannya, anak akan berpikir bahwa perceraian kedua orangtua adalah kesalahannya. Ia pun akan cenderung kurang percaya diri. Walaupun Anda sangat dendam atau sakit hati dengan mantan pasangan, hindari menjelekkannya di depan anak.

Bina Hubungan Baik Dengan Mantan Pasangan

Walaupun berat, tetaplah jaga hubungan yang baik dengan mantan pasangan. Berikan waktu luang yang berkualitas antara anak dengan orangtuanya, meski Anda berdua sudah terpisah rumah.

Menghalangi anak bertemu ayah atau ibunya dapat membuat anak merasa ditinggalkan, dan tentunya dapat berimbas pada kepercayaan dirinya.

Monitor Perkembangan Anak di Sekolah

Anak Anda mungkin terlihat bahagia dan tidak terpengaruh pada perceraian orangtuanya. Namun, selalu monitor perkembangan dirinya. Bisa jadi anak Anda mengalami tekanan sosial di sekolah karena orangtuanya bercerai.

Meski Anda sibuk bekerja karena baru saja menjadi orang tua tunggal, tetaplah berikan perhatian dan semangat pada anak.

Terkadang, tanpa disadari orang tua menjadi egois dan kurang memperhatikan perkembangan emosi anak. Padahal anak broken home yang sedang bertumbuh membutuhkan perhatian besar. Oleh karena itu, kerja sama kedua orang tua dibutuhkan agar anak dapat tumbuh menjadi orang yang percaya diri.

 

Please follow and like us:

Tantrum Dan Manfaat Positifnya Bagi Anak

GayaKeren.id Apa itu Tantrum ?? Tantrum merupakan ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan  – dan, dalam beberapa kasus – kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang

Tantrum adalah salah satu bentuk yang paling umum dari perilaku bermasalah pada anak-anak tetapi cenderung menurun dalam frekuensi dan intensitas begitu anak tumbuh. Pada balita, tantrum atau amukan dapat dianggap sebagai normal, bahkan sebagai pengukur dari kekuatan pengembangan karakter.

Sementara amukan kadang dilihat sebagai prediktor perilaku anti-sosial pada masa depan, dalam arti lain ia sekadar tanda frustrasi yang berlebihan yang sesuai dengan usia, dan akan berkurang seiring waktu diberi penanganan yang tenang dan konsisten. Namun yang perlu diingat bahwa tekanan luar dan kontrol yang berlebihan dalam membesarkan anak bisa memprovokasi tantrum dan pembibitan pemberontakan.

Menghadapi kondisi tantrum yang sering dialami oleh anak-anak balita merupakan salah satu pengalaman paling menantang dalam proses parenting. Banyak orang tua yang dibuat pusing ketika anak mereka mulai merengek di depan umum.

Namun, percaya atau tidak, tantrum adalah bagian dari bentuk emosi yang paling penting bagi anak balita.

Berikut lima alasan yang memperlihatkan bahwa tantrum yang dialami anak bukanlah hal yang buruk seperti dikutip dari parents.com.

  1. Cara mengeluarkan rasa stres

Air mata mengandung kortisol atau hormon stres. Artinya, ketika kita menangis sebenarnya kita sedang melepaskan stres dari tubuh kita. Air mata juga dikenal dapat menurunkan tekanan darah serta meningkatkan kesehatan emosi seseorang.

Perhatikan ketika tantrum anak Anda sudah berlalu, maka mood anak akan menjadi lebih baik. Akan sangat membantu jika orang tua tidak menginterupsi tantrum anak sampai anak benar-benar mengakhiri perasaan buruk yang sedang dia rasakan.

“Menangis bukanlah rasa sakit, tetapi proses untuk melepaskan rasa sakit,” kata penulis buku Rest, Play, Grow: Making Sense of Preshoolers Deborah MacNamara.

  1. Menangis bisa membantu anak untuk belajar

Ada seorang anak berumur lima tahun bermain lego dengan menyusunnya menjadi sebuah bangunan. Namun, tiba-tiba dia menangis karena dia tidak bisa membentuknya seperti yang dia mau. Setelah beberapa saat mengalami proses tantrum, akhirnya dia duduk kembali dan memperbaiki bentuk bangunan tersebut.

Tantrum adalah proses bagi anak untuk mengekspresikan rasa frustasinya. Dengan begitu, mereka bisa membersihkan pikirannya untuk belajar hal yang baru.  Bagi anak, proses belajar terjadi secara alami seperti halnya bernapas.

Tantrum yang terjadi ketika itu dikarenakan mereka tidak bisa berkonsentrasi. Percayalah, proses belajar anak merupakan gabungan dari rasa relaks dan sedih.

  1. Tantrum membantu anak tidur lebih baik

Kebanyakan orang tua berpikir pendekatan terbaik dari tantrum adalah dengan menghindarinya. Hal itu membuat anak memuncak emosinya ketika otaknya sedang beristirahat dan terus terbangun karena mereka merasa stres. Namun, ketika kita membiarkan anak meluapkan emosinya ketika dia sedang aktif bermain, maka drama sebelum tidur tidak akan terjadi.

  1. Berkata ‘tidak’ adalah hal yang baik

Berkata ‘tidak’ berarti Anda memberikan batasan kepada anak, mana hal yang dapat diterima dan tidak. Terkadang, para orang tua berusaha mati-matian tidak berkata ‘tidak’ hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Padahal kita bisa menghadapinya dengan rasa cinta, empati, atau pelukan. Berkata ‘tidak’ berarti Anda tidak takut untuk menghadapi kekacauan dan bagian yang paling mnguras emosi dalam masa parenting.

  1. Anak merasa aman untuk mengatakan perasaannya

Tidak semua anak memanipulasi orang tuanya dengan menggunakan trik tantrum untuk mendapatkan apa yang dia mau. Banyak juga anak-anak yang menerima larangan-larangan yang Anda terapkan. Kalaupun anak Anda tidak bisa menerimanya, rengekan itu hanya bagian dari ekspresi dari perasaannya. Namun, Anda tetap bisa mempertahankan kata ‘tidak’ Anda dan berempati dengan kesedihannya. Berikan respons kasih sayang ketika anak mulai meledakkan emosinya sehingga anak akan merasakan kenyamanan meski dia sudah menangis dan membuat kehebohan.

 

Please follow and like us:

Pentingnya Home Education Dalam Tumbuh Kembang Anak

GayaKeren.id – Pendidikan rumah atau home education, adalah milik seluruh keluarga tidak hanya bagi homeschoolers tapi juga bagi keluarga yang berjalur sekolah formal. Home education sangat penting bahkan lebih penting karena dari rumah anak tumbuh bersama keluarga menerapkan nilai­nilai di dalm keluarga, menerapkan dan melatih soft skills mereka seperti bagaimana mengolah emosi, bagaimana bersikap sopan dan santun, menghargai satu sama lain, tolong menolong, mengembangkan empati, mendengarkan orang lain serta mampu berkomunikasi dengan baik dan berkontribusi positif bagi lingkungannya.

Bagaimanakah menerapkan home education yang tepat atau cocok bagi keluarga ?

Psikolog Anak sekaligus Grapholog, Laksmira Ratna Bayuardi, menyampaikan bahwa ada beberapa langkah yang harus dilakukan orang tua untuk bisa menerapkan home education pada anak, diantaranya :

  • Awali dan sepakati dengan berkompromi dengan pasangan sejak anak belum lahir atau paling tidak sejak anak berusia dibawah 1 tahun
  • Tetapkan dan terapkan oleh seluruh anggota keluarga nilai­nilai, konsekuensi dan peraturan yang ingin diterapkan dalam keluarga, kemudian sosialisasikan dengan keluarga besar agar tidak terjadi kesalah pahaman atau miskomunikasi
  • Pelajari, kumpulkan informasi serta membuka diri untuk ragam alternatif pendidikan anak untuk mengurangi ketegangan orangtua dalam mendampingi perkembangan belajar anak serta memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak untuk dapat berkreasi sesuai minat dan kecenderungannya
  • Observasi

Observasi

Observasi adalah suatu kegiatan melihat, memperhatikan dan dokumentasi. Observasi membutuhkan kemampuan untuk memdengarkan, menyimak dengan seksama, mengamati kemudian mendokumentasikan kegiatan atau aktifitas pada saat itu lalu menterjemahkannya menggunakan informasi­informasi dan pengetahuan dalam perkembangan yang kita miliki dan dipahami, tujuannya adalah untuk dapat mengidentifikasi serta mendukung kekuatan, kebutuhan dan perkembangan anak kita sesuai minat dan kecenderungannya.

Laksmira menjelaskan, Observasi pada anak usia dini sangat berguna untuk membantu anda menentukan seperti apa metode pendidikan yang lebih cocok atau tepat bagi anak anda sejak dini yang mana berkaitan erat pada perjalanan pendidikan anak anada dikemudian hari.

Bentuk dari observasi ada banyak ragamnya dan dapat anda pilih atau sesuaikan dengan kemampuan dan kenyamanan anda, seperti : Kolase foto, Checklist perkembangan, Rekam video/audio, Cerita, Obervasi anecdotal.

Laksmira, yang biasa disapa Bu Mia atau Bunda Mia juga mengingatkan bahwa dalam observasi adalah penting untuk selalu mencantumkan :

  • Nama dan usia anak
  • Waktu kegiatan dan waktu observasi
  • Bagaimana situasi dan kondisi saat kegiatan berlangsung
  • Berkomunikasi dua arah dengan anak dan bukn mendikte ataupun intimidasi, biarkan anak merasa nyaman dalam mengemukakan pendapatnya dan apa yang dirasakannya
  • Terjemahkan secara singkat namun jelas apa yang baru saja anda lihat dan anda dengar
  • Identifikasi kekuatan-­kekuatan anak, minat, kebutuhan, kemampuan dalam perkembangannya, kondisi emosi anak saat itu serta energinya.

Bunda Mia menambahkan ada dua hal dalam penulisan dokumentasi observasi, yaitu :

  • Objektif ; mencatat yang dilihat dan didengar
  • Subjektif ; mencatat yang anda pikir tentang yang dirasakan oleh anak saat itu.

Tools Atau Alat Observasi Rumah

Alat bantu dalam melakukan observasi dirumah adalah informasi pengetahuan yang perlu kita miliki dan perlu terus digali, seperti :

  • Informasi pengetahuan dalam bentuk daftar atau list perkembangan fisik pada umumnya sesuai referensi dari dokter
  • Informasi pengetahuan pencapaian perkembamgan secara psikologis yang bisa berupa daftar atau list termasuk memahami gaya belajar anak dan multiple intelligence atau kecerdasan majemuk, yang bisa dipelajari dari berbagai sumber baik seminar atau workshop yang diikuti maupun dari profesional secara personal, sebagai cara orangtua terus menggali dan belajar
  • Informasi pengetahuan grafologi kaitannya dalam parenting atau pola asuh yang juga dapat dipelajari dari berbagai sumber grafologi terpecaya. Karena interpretasi grafologi sangat erat berkaitan dengan psikologi namun melalui sudut pandang atau observasi yang berbeda sehingga dapat sangat membantu orangtua dalam memahami perkembangan anak dan keluarga.

Hal yang tak kalah penting, masih menurut Bunda Mia adalah untuk selalu melakukan observasi perkembangan anak dirumah dan diluar rumah.

“Lembaga pendidikan diluar rumah adalah penunjang dan kepanjangan tangan dari orangtua sebagai pendidik utama seorang anak bukan sebaliknya dan bukan pula pengganti. Rumah adalah sekolah pertama dan utama bagi anak dan keluarga”, Tutup Laksmira.

Semangat Belajar ya anak-anak Indonesia !

Sumber : Laksmira Ratna Bayuardi

Editor :  Roberto Namangge

 

Please follow and like us:

Bunda Kini Punya Buku Panduan Edukasi Gizi

GayaKeren.id. Kecukupan gizi masyarakat Indonesia dapat dikatakan masih memprihatinkan dimana Indonesia merupakan salah satu dari 17 negara di dunia yang memiliki tiga masalah gizi di waktu bersamaan, yaitu stunting (pendek), wasting (terlalu kurus), dan obesitas (terlalu gemuk).

“Belum lagi angka kematian ibu karena melahirkan yang masih tinggi, menuntut adanya perhatian dari seluruh pihak untuk mengedukasi masyarakat khususnya Bunda dalam mendapatkan gizi yang seimbang,” jelas Prof. Dr. Hardinsyah, MS selaku Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB.

Menjawab tantangan tersebut, bertepatan dengan perayaan International Women’s Day Kelompok Kerja Jurnalis Penulis Kesehatan (K2JPK) meluncurkan buku perdananya berjudul Jurnal Program Nutritalk: Tumbuh Kembang Optimal Ciptakan Pemimpin Andal, yang merupakan kumpulan materi edukasi dari program Nutritalk yang diselenggarakan Sarihusada sejak tahun 2010.

Jurnal Program Nutritalk menyajikan ulasan lengkap seputar gizi awal kehidupan mulai dari persiapan kehamilan Bunda, masa kehamilan dan menyusui, hingga gizi dan stimulasi untuk si Kecil dalam upaya perkembangan fisik-motorik, kognitif, bahasa, dan sosial emosional.

Tidak hanya dari perspektif gizi maupun kesehatan, ulasan psikologis dan pendidikan juga turut disajikan agar dapat diaplikasikan oleh para Bunda demi menciptakan pemimpin andal. Meski dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti pembaca awam, kredibilitas data yang disajikan tetap terjaga karena isi buku divalidasi kembali melalui wawancara dengan para pakar dan diulas oleh editor ahli.

Ulasan mendalam akan kebutuhan gizi serta pentingnya gizi bagi Bunda dan tumbuh kembang optimal sejak awal kehidupan si Kecil menjadikan Jurnal Program Nutritalk sebagai hadiah berharga bagi para Bunda.

Ulasan mendalam akan kebutuhan gizi serta pentingnya gizi bagi Bunda dan tumbuh kembang optimal sejak awal kehidupan si Kecil menjadikan Jurnal Program Nutritalk sebagai hadiah berharga bagi para Bunda.

“Meluncurkan Jurnal Program Nutritalk di International Women’s Day kami rasa adalah hal tepat sebagai bentuk dukungan dan apresiasi kami kepada para Bunda. Sebagai perusahaan yang peduli terhadap kesejahteraan wanita sebagai nilai utama kami melalui berbagai kebijakan perusahaan yang memberi manfaat lebih bagi karyawan perempuan seperti cuti melahirkan 6 bulan, Sarihusada mewujudkan nilai tersebut melalui Jurnal Program Nutritalk yang sarat manfaat untuk para wanita Indonesia,” tutur Arif Mujahidin, Communications Director Danone Indonesia

Please follow and like us: