GayaKeren.id – Mengambil peran di perhelatan perdana Global Talent Digital, IFC telah menyeleksi lima perancang busana dibawah naunganya melalui sekrangkaian kurasi yang ketat. Kelimanya berasal dari IFC Semarang, Bandung Surabaya dan Jakarta dengan berbagai kreatifitas yang juga terinspirasi dari banyak hal.

Berikut kelima desainer bersama karyanya :

Anggiasari dengan brandnya AM yang memiliki konsep sustainable, menggunakan konsep desain daur ulang. Denim garmen yang reject, cacat dan over stock dari industri lokal dengan kombinasi tekstil yang ramah lingkungan.

Memilih tema Valiance yang terinspirasi dari layar kapal yang menjadi sistem pertahanan, yang melambangkan kekhawatiran manusia akan kemajuan teknologi di masa depan.

Valiance didesign dengan androgini style, dekonstruksi style, sporty casual diperuntukan wanita atau pria dengan usia 20 – 45 tahun dengan non-formal atmosphere. Valiance memiliki trapezoid silhouette, material yang digunakan berupa denim reused, katun bamboo, katun tenun tradisional. Warna yang digunakan adalah hitam, biru tua, abu, burgundy, dan hijau. Detail berupa layer, symmetric-asymmetric, berstruktur, Teknik manipulasi unfinished, shredded, patchwork fabric dan denim washing technique.

Rosie Rahmadi, terinspirasi dari konsep Rahmatan Lil Alamin, Rosie Rahmadi mengusung koleksi “Kalopsia”  pada Global Talent Digital 2020 yang diadakan ole Russia Fashion Council. Ia merupakan satu dari lima desainer Indonesia yang berhasil lolos  kurasi dan ikut serta dalam virtual fashion show acara tersebut. Kalopsia sendiri  diambil dari istilah Yunani yang berarti khayalan di mana segala sesuatu tampak lebih indah dari yang sebenarnya.

“Dan itulah yang saya rasakan tentang fashion. Seperti sebuah delusi yang Indah di depan, tetapi di balik itu semua ada sesuatu yang sangat mendesak untuk mengurangi  konsumerisme berlebihan dan impact limbah fashion yang begitu banyak” Ungkap desainer yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai Desainer of The Year di Bali Fashion Week 2019 ini.

Terilhami dari konsep boneka kertas yang seringkali ia mainkan di masa kecilnya, Kalopsia menggunakan warna warna dengan tone natural dengan bahan utama linen, katun dan viscose, serta tetap konsisten dengan kenyamanan siluet A line & H line sebagai ciri khasnya. Beberapa item makrame sengaja didesain bisa dilepas pasang dengan pakaian lain untuk memberikan kesan yang unik. Koleksi ini terdiri dari beberapa item seperti atasan, tunik, palazzo, outer dan dress yang masing-masing bisa berganti fungsi.

Gregorius Vici. Dengan tema Alluring Heritage, terinspirasi dari limbah bahan batik dari menjadi object mata pencaharian tambahan oleh salah satu keluarga Pengayuh Becak, dimana bahan tersebut biasa di setorkan ke tengkulak di Pasar untuk dijual. Melihat Batik sebagai wastra nusantara yang yang dibuat secara tradisional dengan beragam hias pola batik tertentu menggunakan teknik celup dan malam atau lilin untuk membatik, pengerjaan batik tulis maupun cap tersebut memerlukan waktu yang sangat panjang yakni mulai dari menggambar kemudian menggunakan lilin sebagai sarana membuat gambar serta pencelupan warna yang dilakukan berulang kali sehingga menghasilkan wastra yang mempesona sehingga sampai kain perca nya pun masih memiliki nilai meskipun hanya merupakan potongan saja.

Untuk proses batik yang sedemikian rupa dan membuatnya tetap berharga dan indah, kain perca tersebut diolah lagi menjadi sehelai kain melalui teknik patchwarok sehingga menghasilkan bentuk kain yang baru untuk membuat busana tanpa membuang sisa kain tersebut. Pengolahan sisa kain yang didapat berasal dari para penjaja kain batik bekas yang kehidupannya sehari hari adalah pengayuh becak beserta keluarganya yang memang mengandalkan penghasilan dari kain perca tersebut sebagai kebutuhan hidup mereka seharu hari.

Emmy Thee, Bertemakan Changes atau perubahan yang digambarkan dalam 3 koleksi yang menggunakan potongan kain persegi yang sama [zero waste pattern] menghasilkan 3 look yang berbeda. Kain/ bahan adalah gambar dari esensi yang tidak berubah, sedangkan perubahan 3 look adalah sebuah kondisi di mana esensi diri ini hidup dalam ruang dan waktu yang selalu berubah.

Dengan menggunakan kain wastra karya artisan local sebagai upaya memelihara budaya dan kelangsungan karya dari para artisan local sehingga dapat berkelanjutan/ sustainable. Menggunakan zero waste pattern dalam upaya mengurangi sampah produksi yang akan dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah [TPS]. Dan selanjutnya, saat ini mencoba daur ulang pakaian bekas dan menjadikannya look yang baru sebagai bentuk dari praktek sustainable fashion. Contohnya: jacket denim diubah menjadi rok dan celana jeans dijadikan aplikasi baju. Kami mendaur ulang denim karena denim menghasilkan banyak sampah dalam proses produksi dengan pilihan warna hitam, merah, biru, putih, khaki, coklat.

Aldrie Indrayana. Berkolaborasi dengan Cota Cota Studio, Aldrie membuat ilustrasi yang terinspirasi dari kurangnya privasi di media sosial. Koleksi ini yang akan menjadi koleksi yang upcycled pieces dari koleksi lama, dan item yang ditolak saat tidak lulus dari Quality Control.

Aldrie suka membuat suatu grande dan out of the box, namun karena pandemi sehingga harus menyederhanakan  gagasan awal , Siluet Wearability. Salah satu key pieces adalah neckerchief dan scraf yang terbuat dari limbah kerudung yang bisa dilakukan dengan sangat sederhana dan gampang. “Kami juga membuat jaket yang terinspirasi dari beskap, kemudian ada beberapa batik kami yang capnya terbuat dari limbah kotak sepatu yang kami langsung cap pada kain.” ungkap Aldrie dalam siaran prees tertulisnya.

Seluruh koleksi yang ditampilkan para desainer ini merupakan usaha memanjakan para pecinta fashion Indonesia dengan karya-karya mereka, tapi tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan pemanfaatan limbah.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *