Pandemi Covid-19 Sudah Berlangsung Setahun, Tetapi Peningkatan Kasus Masih Terjadi

GayaKeren.id – Beberapa waktu terakhir ini, telah terjadi banyak peningkatan kasus Covid -19. Hal ini dikarenakan tingginya mobilitas masyarakat selama libur lebaran. Dimana peningkatan ini diprediksi masih akan terjadi selama beberapa minggu ke depan.

Beberapa daerah pun terlihat mulai kewalahan dalam menangani lonjakan kasus ini seperti yang terjadi di 5 provinsi yang mencatatkan penambahan kasus baru tertinggi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Riau, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau. Pemerintah terus mengingatkan masyarakat untuk melakukan isolasi mandiri setelah kembali dari mudik dan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan khususnya menggunakan masker.

Imbauan ini juga telah banyak dilakukan oleh kalangan aktivis kemanusiaan yang juga melakukan kampanye dan distribusi masker medis yang juga mengingatkan semua pihak tetap waspada atas potensi lonjakan kasus termasuk banyaknya ‘bencana ganda’ dari covid-19 serta potensi gempa, banjir besar dan bencana alam lainnya di 2021 ini. Dimana Indonesia ini merupakan wilayah yang rentan dengan bencana alam.

Potensi bencana ganda yang dihasilkan bencana alam dan bencana pandemi covid-19 ini diprediksi masih akan banyak terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofosika (BMKG) sendiri sudah beberapa kali mengingatkan banyaknya potensi bencana di Indonesia.

Menurut BMKG bencana alam gempa bumi di Indonesia berada dalam tren meningkat pada 2021. Dalam tiga bulan terakhir, rata-rata kejadian gempa bumi mencapai 300 sampai 400 kali setiap bulan.  Pada Januari 2021 terdapat 662 kali aktivitas gempa bumi. Lalu pada Pebruari, ada 526 kali aktivitas gempa bumi.

Dalam rilis BMKG sebulan lalu (23/4/2021) tersebut, data menunjukkan adanya peningkatan tren gempa bumi di Indonesia. Data menunjukkan bahwa terdapat peningkatan potensi atau tren kejadian gempa bumi, baik di Indonesia atau pun dunia secara signifikan.

Berbagai kalangan aktivis kemanusiaan yang banyak menangani bencana alam maupun pandemi berpendapat bahwa persiapan adalah kunci utama mengurangi dampak kerusakan bagi masyarakat.

“Dalam masa pandemi kita sudah menghadapi banyak bencana ganda pandemi dan bencana alam. Gunung Merapi, Semeru, gempa Sulbar, Banjir Kalsel dan banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia mengakselerasi penyebaran covid-19 di banyak daerah. Tak ada jalan lain, stok masker medis secara masif perlu disiapkan Pemerintah dan semua pihak bukan saat bencana. Cadangan besar justru harus kita siapkan sebelum bencana terjadi,” jelas aktivis kemanusiaan Faisal Saimima di Jakarta, Rabu (9/6/2021) ini.

Pria yang juga aktif di Satkornas dan Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor ini menjelaskan bahwa seringkali kalangan aktivis menemui kenyataan kurangnya stok masker medis berkualitas dalam jumlah besar saat terjadinya bencana.

Bukan tanpa alasan ia menyampaikan peringatan tersebut. Faisal yang sudah setahun terakhir melakukan kampanye distribusi puluhan juta masker medis, Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan, serta berbagai bahan pokok kepada masyarakat kerap menemui keprihatinan yang sama.

Dalam kegiatan distribusi lima juta masker medis yang GP Ansor lakukan bersama Aice Group dan Kantor Staf Presiden (KSP) di 20 kota Indonesia, para aktivis membangun gerakan pentahelix yang terdiri dari banyek elemen pemangku kepentingan. Tidak main-main, gerakan ini melibatkan puluhan Pemerintah Daerah, ratusan ormas dan organisasi kampus serta keagamaan, hingga ratusan media massa nasional dan daerah.

“Menangani bencana untuk negeri sebesar kita haruslah dengan menghimpun dukungan semua pihak. Gerakan pentahelix yang kami jalankan bersama Aice Group sudah membuktikan bahwa kombinasi dukungan swasta, pemerintah, dan banyak helix lain telah membantu gerakan Banser Ansor dan Aice dalam menjalankan misi kemanusiaan bersama. Bukan hanya untuk mengurangi dampak bencana fisik, tapi juga mengurangi potensi penularan covid-19,” jelas Faisal.

Gerakan pentahelix ini membagikan jutaan masker medis ke masyarakat bawah yang paling rentan terpapar virus covid-19. Jutaan masker medis SHIELD-Aice ini mereka bagikan ke belasan unsur masyarakat seperti petugas kebersihan, organisasi keagamaan, rumah ibadah, petugas pemakaman, pelajar, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, dan elemen masyarakat kelas bawah lainnya.

Tantangan Maskerisasi di Masyarakat Bawah

Kampanye distribusi 5 juta masker medis SHIELD-Aice yang dijalankan enam bulan sejak Oktober tahun lalu tersebut dijalankan di Jakarta, Bogor, Cirebon, Bandung, Rembang, Semarang, Batang, Surabaya, Ambon, Palembang, Medan, Batam, Yogyakarta, Malang, Lumajang, Denpasar, Makassar, Lampung, Banjarmasin hingga terakhir di Manado.

Masker medis yang didistribusikan dalam kampanye bernama Aice-SHIELD ini memiliki spesikasi tinggi. Masker medis ini memiliki bahan berkualitas tinggi dan diproduksi sendiri oleh Aice Group. Pihak Aice juga menjelaskan bahwa SHIELD sudah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Selain 5 juta masker medis yang didistribusikan ke kalangan masyarakat luas di 20 kabupaten dan kota, Aice juga membagikan 15 juta masker lainnya ke masyarakat lewat jaringan penjual es krim Aice di masyarakat. Semua masker dibagikan secara gratis sebagai sumbangan kemanusiaan dan tidak diperjualbelikan.

Dalam perjalanannya, kampanye distribusi jutaan masker ini menemui banyak hal menarik yang berguna dalam memperbaiki langkah pemerintah dan masyarakat dalam melawan pandemi.

Juru Bicara sekaligus Brand Manager Aice Group sebagai donatur jutaan masker dan juga pemobilisasi ratusan ribu warung Aice yang ikut menyumbangkan 15 juta masker medis ke warga dan konsumen, mengakui berbagai aspek sosial dan budaya yang memengaruhi kesuksesan kampanye masker di masyarakat.

“Kami melihat masyarakat grassroot banyak menyuarakan isu ekonomi dan kesulitan hidup sebagai dampak pandemi. Kombinasi penanganan ekonomi oleh pemerintah, dengan kebutuhan edukasi lewat tiap kearifan lokal agar warga mau membatasi jarak dan memakai masker, membuat kami yakin pentahelix dari tokoh masyarakat, agamawan, budayawan, kepala daerah dan peran media menjadi kunci sukses pencegahan perluasan pandemi,” jelas Sylvana.

Menurut Sylvana, penjelasan dan contoh dari para key opinion leader dan tokoh masyarakat bawah dalam berbagai dimensi meningkatkan kans keberhasilan menekan laju penularan virus tersebut.

Karenanya, ia bersama dengan KSP dan GP Ansor menggunakan jejaring masyarakat bawah yang menggunakan bahasa lokal, ajaran agama, penokohan pemimpin daerah, dan komunikasi publik lewat media massa dan medsos di puluhan kota tersebut.

Problem ekonomi dan sosial budaya tersebut juga diakui Faisal dalam kegiatan GP Ansor di berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, bahasa yang kompak dalam melawan virus ke masyarakat lebih mudah diterima masyarakat.

“Tantangan maskerisasi dalam mencegah korona masih membawa problem klasik sosial kemasyarakatan kita. Meskipun gen kita adalah anak bangsa yang kompak dalam melawan satu musuh kuat, namun peluang pro kontra selalu ada. Nah, gerakan pentahelix ini menunjukkan ke masyarakat bahwa semua menyepakati bahwa disiplin masker diakui oleh semua agama, semua suku, dan lainnya sebagai cara menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat dari virus berbahaya ini,” yakin Faisal.

Dirinya juga menjelaskan bahwa pendekatan multi-dimensi bukan hanya dijalankan pada pelibatan tokoh masyarakat. Dalam konteks isu yang dibangun, kampanye 5 juta masker mengangkat berbagai isu yang relevan di tiap wilayah.

Pertimbangan soal kearifan lokal turut melatarbelakangi dua pendekatan tersebut. Di Cirebon, Semarang dan Rembang, kampanye masker mengangkat soal isu Prokes yang terbaik bagi kalangan kalangan pesantren dan aktifitas keagamaan seperti di masjid.

Namun di Manado dan Ambon, gerakan pentahelix ini menjadikan aktifis pemuda dan rohaniawan gereja setempat sebagai ujung tombak kampanye.

Beda lagi dengan di daerah bencana alam yang terjadi belum lama di Jogjakarta, Lumajang, Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan. Di empat wilayah ini, gerakan pentahelix 5 juta masker, memperkuat pertahanan masyarakat baik yang mengungsi maupun yang terdampak dengan ratusan ribu masker di tiap titik.

Meski demikian, di Malang kampanye masker medis ini menyuarakan soal berbeda. Saat berbagai titik wisata di Malang Raya mulai dibuka untuk umum, Aice dan GP Ansor mengingatkan soal resiko penularan yang cukup besar di klaster pariwisata.

Bersama dengan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah, gerakan 5 juta masker berusaha memberikan bahasa yang mudah, ringan, kontekstual dan disuarakan oleh tokoh di tiap masyarakat itu sendiri.

“Aice Group bersama seluruh elemen pentahelix di dua puluh kota ini menyepakati bahwa kita harus bergerak bersama. Virus ini bisa kita usir dari Nusantara jika kita sepakat dan kompak. Bahasa yang ringan, mudah dimengerti dan ceria dalam membawakan jutaan masker untuk menyelamatkan nyawa masyarakat, selalu menjadi tone komunikasi Aice dan GP Ansor. Ini jadi ikhtiar anak bangsa melawan virus berbahaya ini. Selain itu, Aice tidak berhenti di kampanye ini saja, tetapi akan melanjutkan edukasi dengan cara yang lebih seru, yakni program “Jagoan Sehat Bawa Hadiah Besar.” Program inovatif ini menggabungkan edukasi protokol kesehatan dalam mengingatkan konsumen untuk hidup sehat selama pandemic dan menambah kebahagiaan dari hadiah besar yang didapatkan melalui stik es krim serta masker karakter edisi terbatas,” tutup Sylvana.

Accor Mengumumkan Penandatanganan Mercure Living Putrajaya

GayaKeren.id – Accor bersiap menyambut konsep Mercure Living pertama di Malaysia dengan penandatanganan Mercure Living Putrajaya. Properti dengan 299 kunci ini akan debut pada April 2022, menawarkan pengalaman modern yang menyegarkan bagi mereka yang mencari masa inap lebih lama saat bepergian untuk bisnis atau liburan. Hotel ini bergabung dengan 15 proyek berkomitmen di seluruh Malaysia.

Menampilkan restoran yang buka sepanjang hari, lounge eksekutif, dan koleksi ruang pertemuan, Mercure Living Putrajaya akan menjadi pusat acara dan pertemuan bisnis. Fasilitas rekreasi termasuk kolam renang air asin infinity sepanjang 52 meter, pusat kebugaran, lapangan tenis, dan spa, memastikan waktu istirahat dan pemulihan yang berkualitas dimungkinkan. Para tamu akan merasa seperti di rumah sendiri di suite-suite yang luas dan modern yang mencakup ruang makan dan ruang tamu serta ruang kerja.

Terletak di pusat administrasi Malaysia, Mercure Living Putrajaya akan ditempatkan di dalam kompleks ritel Shaftsburry Putrajaya dan terhubung dengan Alamanda Shopping Mall. Berjarak 30 menit berkendara dari Bandara Internasional Kuala Lumpur dan pusat kota Kuala Lumpur, hotel ini akan menjadi tempat yang sangat baik bagi mereka yang mengunjungi kantor-kantor pemerintah terdekat dan kota Cyberjaya, rumah bagi taman sains yang merupakan bagian integral Koridor Super Multimedia Malaysia.

“Kami sangat senang dapat meluncurkan konsep Mercure Living pertama kami di Malaysia yang akan tiba pada waktu kembalinya perjalanan ketika perbatasan internasional dibuka kembali. Mercure Living Putrajaya akan menawarkan pilihan fasilitas yang menarik bagi mereka yang menginap untuk jangka waktu yang lebih lama dan saya tahu dari pengalaman betapa pentingnya beberapa dari penawaran tersebut saat bepergian. Accor dengan bangga menawarkan portofolio brand extended stay hotel dan penyewaan pribadi yang paling komprehensif di industri, dan kami berkomitmen untuk memperluas lebih jauh ke bagian ini untuk menawarkan lebih banyak pilihan kepada tamu setia kami, ”kata Garth Simmons, Chief Executive Officer, Accor, Southeast Asia, Japan and South Korea.

Mercure Living Putrajaya bergabung dengan jaringan Accor yang berkembang dari extended stay hotels, disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan yang tinggal di hotel untuk waktu yang lebih lama, dan yang biasanya memiliki fasilitas yang nyaman seperti dapur kecil dan ruang kerja, serta konsep untuk mendorong rasa kebersamaan yang lebih besar seperti sebagai tempat tinggal bersama. Grup saat ini mengelola lebih dari 50.000 vila, apartemen, dan persewaan pribadi di seluruh dunia.

Ir. Tan Chee Kian, Director of Ulster Waves Sdn. Bhd. (a subsidiary of iKHASAS Sdn Bhd), berkomentar “Kami senang dapat bermitra dengan Accor untuk menata kembali Stellar Putrajaya Hotel sebelumnya dan menawarkan rasa keramahan yang menyegarkan yang merupakan brand Mercure yang terkenal. Kami yakin dengan prospek jangka panjang industri pariwisata setelah krisis kesehatan global dan berharap dapat memanfaatkan skala global Accor untuk menyambut tamu dari seluruh dunia untuk merasakan Mercure Living Putrajaya”.

Accor adalah salah satu operator internasional terkemuka di Malaysia dengan 18 hotel di negara. Konsep Mercure Living baru-baru ini diluncurkan untuk melengkapi 875 properti Mercure di seluruh dunia, dengan penawaran khusus untuk masa inap yang lebih lama.