REVIVAL FASHION FESTIVAL 2020 Inspirasi di Adaptasi Gaya Hidup Baru

GayaKeren.id – Jakarta Fashion Week sebagai fashion week utama di Indonesia menggelar Revival Fashion Festival 2020 untuk para pencinta fashion dan lifestyle. Diselenggarakan pada 7, 8, dan 9 Agustus 2020 di Senayan City, Jakarta, dalam bentuk konten digital, menampilkan fashion show dari desainer dan label Indonesia Fashion Forward, juga alumni Lomba Perancang Mode dan Lomba Perancang Mode Menswear.

Revival Fashion Festival 2020 merupakan bagian dari rangkaian acara Jakarta Fashion Week Series menuju pergelaran Jakarta Fashion Week 2021, yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober tahun ini. Didukungan Lazada, destinasi belanja online produk-produk berkualitas, yang  terus mendukung desainer-desainer Indonesia dan label busana lokal untuk melebarkan sayapnya lewat ajang seperti Revival Fashion Festival 2020. Dengan menghadirkan koleksi desainer RFF 2020 secara live streaming, sehingga konsumen dapat menyaksikan dan membeli karya desainer Indonesia di manapun mereka berada. Karya-karya desainer akan tersedia di laman Style Space Lazada yang terkurasi, agar konsumen yang ingin tampil dengan OOTD terbaik di era gaya hidup baru ini dapat dengan mudah mendapatkan koleksi dari merek-merek fashion terbaik. Di Revival Fashion Festival 2020 kali ini, koleksi terbaru dari tiga merek fashion lokal Sideline, Ghaisani Hijab, dan SVH bisa didapatkan secara eksklusif hanya di Lazada,” kata Monika Rudijono, Chief Marketing Officer Lazada Indonesia.

Selama RFF 2020 berlangsung, booth Lazada juga akan tersedia di Senayan City lantai LG, di mana konsumen dapat langsung membeli koleksi desainer dengan pengalaman Offline to Online (O2O) yang cashless dan mudah. Di booth ini, konsumen bisa membeli barang melalui aplikasi Lazada dan barang dapat langsung diambil di lokasi atau bisa memilih untuk dikirimkan ke rumah. Semua tentunya tetap mengikuti protokol kesehatan sesuai ketentuan pemerintah.

Jangan lewatkan tiga hari penuh inspirasi Revival Fashion Festival 2020, di Senayan City, Jakarta, 7, 8, dan 9 Agustus 2020. Fashion show, talk show, community performance, dan artist performance akan berlangsung mulai pukul 13.30 WIB pada tanggal 7 Agustus 2020, serta mulai pukul 11.30 hingga 20.30 WIB pada 8 dan 9 Agustus 2020.

Buttonscarves Hadir di Cibubur dengan Offline StoreTerbesar di Indonesia

GayaKeren.id – Buttonscarves, merk lifestyle tanah air kini membuka toko terbarunya yang berlokasi di Trans Studio Mall, Cibubur terletak di Lantai 1. Toko Buttonscarves Cibubur telah beroperasi semenjak Juni 2020 dan merupakan offline storeter besar Buttonscarves di seluruh Indonesia yang menawarkan produk terlengkap dan beragam dari Buttonscarves. Hadirnya offline store Buttonscarves Cibubur bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar dan juga menjawab kebutuhan para penggemar Buttonscarves yang sering disebut BSLady.

“Membuka toko Buttonscarves di Cibubur bertujuan untuk membuat produk Buttonscarves lebih mudah diakses semua orang terutama para BSLady. Kota Cibubur sendiri merupakan wilayah yang strategis. Kami berharap kehadiran toko pertama Buttonscarves di Cibubur ini dapat menjangkau lebih banyak pelanggan baru dan tentunya dapat ikut berkontribusi terhadap perkembangan sektor fesyen Indonesia dengan menghadirkan beragam jenis pakaian dan aksesoris.”, ujar Linda Anggrea selaku Creative Director Buttonscarves.

Offline store Cibubur ini mengambil inspirasi desain modern dan minilmalis, dengan luas toko 161m2 setiap pengunjung dapat merasakan pengalaman belanja lebih nyaman dibandingkan toko Buttonscarves lainnya. Selain itu, terdapat juga koleksi Benang Jarum yang menawarkan busana modern, clean cut dan effortless yang dapat menjadi penunjang kebutuhan fashion & lifestyle penggemar Buttonscarves.

Saat ini Buttonscarves telah memiliki 14 offline store yang tersebar di seluruh Indonesia. Selanjutnya Buttonscarves akan terus memperkuat ekspansinya dalam menyediakan produk fashion dan lifestyle bagi para BSLady dan penggemarnya. Buttonscarves juga akan membuka toko di berbagai wilayah di Indonesia seperti; Jakarta, Makssar, Bangka Belitung, danakan membuka toko internasionalpertamanya diMalaysia.

SAHO. E-FEK, Kolaborasi Keren Eko Tjandra dan Fey Kayo

GayaKeren.id – AHO. E-FEK adalah brand fashion kolaborasi antara Eko Tjandra dan Fey Kayo sebagai bentuk perhatian dan kepedulian kami sebagai fashion desaigner yang tergabung dalam INDONESIA FASHION CHAMBER Chapter Jakarta untuk mengajak masyarakat khususnya pecinta fashion Indonesia untuk lebih peduli pada kesehatan, kebersihan dan keamanan tubuhnya selama menjalani aktivitas keseharian mereka di masa new era pandemic corona ini.

                                                                        SAHO sendiri melambangkan Pesona dan Kharisma, Pekerja Keras, Tulus dan Semangat yang besar. Dengan tag line kami “YOUR DAILY NEW NORMAL” sekaligus sebagai visi dan misi kami berdua untuk mengembangkan outfit yang bisadigunakan untuk melindungi kita semuadalam beraktifitas sehari-hari dari terdampak Covid-19. Terinspirasi dari baju APD kemudian kami kembangkan sedemikian rupa dan menggabungkan unsur keamanan dan kebersihan yang di balut dalam fashion sehingga terlihat lebih dinamis, stylist dan fashionable.

“Ada beberapa outfit yang sudah kami produksi diantaranya, jaket, jumpsuit, dan masker dalam beberapa versi yang kami sesuaikan dengan kebutuhan dan life style masyarakat Indonesia khususnya pecinta fashion Indonesia. Kedepannya SAHO. E-FEK akan lebih mengembangkan product daily wear yang lebih kreatif dan inovatif yang akan kami sesuaikan dengan kebutuhan pasar. Kami menyadari dimasa pandemic covid-19 ini semua mengalami dampak yang luar biasa khususnya dunia fashion industry, banyak brand fashion besar yang gulung tikar bahkan sampai tutup akibat dampak corona, tapi kami berdua optimis dengan mengeluarkan koleksi baru kolaborasi kami dalam SAHO. E-FEK bisa di terima di tengah-tengah masyarakat dan membuat kami bertahan sebagai pelaku fashion di dunia fashion industri Indonesia. Kami berdua sangat berharap bahwa SAHO. E-FEK bisa menambah warna diperhelatan fashion industry di Indonesia,” ungkap Eko Tjandra dan Fey Kayo yang disampaikan secara tertulis melalui rilis yang disampaikan ke media, Kamis (16/7).

Dari Final Model Indonesia Fashion Week 2021

GayaKeren.id – Audisi terakhir JFW Model Search sekaligus Grand Final di langsungkan secara terbatas di Fashionlink x #BLCKVNUE, Senayan City, Jakarta sepanjang 1-5 Juli 2020. Audisi ini berlangsung menggunakan sistem yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan mengikuti prosedur pembatasan sosial berskala besar versi transisi yang ditetapkan pemerintah.

Total sebanyak 1345 model mendaftar untuk ajang ini. Sistem pendaftaran yang dilakukan melalui aplikasi hasil kolaborasi dengan Moonlay Technologies ditutup pada tanggal 27 Juni 2020, dan 760 model mendaftar untuk audisi Jakarta. Peserta yang terpilih mendapat panduan khusus untuk mengirimkan sampel video mereka ke Jakarta Fashion Week –video tersebut menjadi dasar dewan juri untuk memutuskan apakah peserta dapat lanjut ke babak audisi fisik.

Menerapkan prosedur kesehatan yang ketat, Jakarta Fashion Week dibantu oleh Bateeq untuk penyediaan masker kain, Duaemed untuk face shield, dan RSGM Yarsi untuk medical gloves dan hand sanitizer. Dewan Juri yang terdiri atas Ai Syarif (Creative AdvisorJakarta Fashion Week), Panca Makmun (senior choreographer), Erwin Suganda (Creative DirectorUBS Gold), Wita Juwita (Ambassador Jakarta Fashion Week), dan Yoland Handoko (celebrity fashion stylist) menetapkan Daffa, Ciquita, Nuzula, Douglas, Rizal, Brayen sebagai pemenang JFW Model Search Jakarta.

Dewan Juri juga menganugrahkan gelar Best of The Bestkepada Rizal (Jakarta) dan Maria (Surabaya).Selain itu, dipilih pula enam model lelaki dan enam model perempuan yang sebagai kandidat Icons Of JFW 2021, termasuk peserta yang telah dipilih dari audisi regionaldi Yogyakarta (Hartono Mall, 8 –9 Februari 2020), Surabaya (Galaxy Mall 3, 15 –16 Februari 2020), Medan (Delipark,29 Februari –1 Maret 2020), dan Bandung (23 Paskal,14 –15 Maret 2020). Mereka adalah Amos(Yogyakarta), Brayen (Jakarta), Ciquita (Jakarta), Daffa (Jakarta), Douglas (Jakarta), Ghea (Bandung),Lung (Surabaya), Nuzula (Jakarta), Maria (Surabaya), Philips (Medan), Rizal (Jakarta), Tina (Yogyakarta). Proses pemilihan Icons of JFW 2021 akan dapat ditonton di web series The Search for JFW 2021 Iconssegera di kanal YouTube resmi Jakarta Fashion Week. Lima orang Face of Indonesia juga telah dipilih untuk mengikuti kompetisi Face of Asia yang akan diselenggarakan secara online untuk tahun ini, yaitu Odree (Bandung), Rayhan (Bandung), Reihana(Surabaya), Fabel (Bandung), dan Yuke (Bandung).

Kimono acharisma by Ali Charisma

GayaKeren.id – Acharisma, yang merupakan second line dari Ali Charisma untuk produk ready to wear. Baik urban maupun resort wear. Brand ini juga focus kepada Sustainable Fashion dengan menggunakan bahan-bahan natural terutama viscose buatan Indonesia . Acharisma akan banyak menggunakan all one size fit all / all size, juga akan banyak menggunakan potongan-potongan zero waste.

Koleksi Perdana ini terinspirasi dari kondisi pandemi,  saat semua orang harus tinggal dirumah untuk melakukan segala aktifitas.  Dengan kimono , yukata dan robe yanga saya design sedemikian rupa sehingga baju-baju ini bisa sangat nyaman di pakai santai rumah dan cukup fashionable / proper untuk zoom meeting dan kegiatan virtual termasuk untuk social media.

Kelebihan dari koleksi pertama ini bahannya sangat lembut sekali sehingga sangat nyaman ketika kita pakai dan bisa Di padupadankan dengan celana atau bisa dijadikan outer baik yang pakai hijab atau tidak. Begitu juga bisa dipakai laki-laki ataupun perempuan .

Proses print dikerjakan dengan batik cap dan hand print / screen print. Dengan kuwalitas yang sangat bagus , packaging yang sangat menarik akan tetapi dengan harga yang sangat terjangkau antara 200.000-700.000 rupiah. Koleksi acharisma ini cocok sekali untuk gift atau hadiah  tidak perlu khawatir dengan ukuran yang kebesaran atau kekecilan.

Jakarta Fashion Week Mengadakan Seleksi Model di Lima Kota

GayaKeren.id –  Jakarta Fashion Week 2021 akan diselenggarakan pada Oktober 2020 mendatang, namun JFW Series – rangkaian acara menuju Jakarta Fashion Week – sudah dimulai di bulan Februari ini, tepatnya rangkaian Jakarta Fashion Week Model Search atau JFW Model Search. Berbeda dari tahun sebelumnya, JFW Model Search tahun ini tidak hanya diadakan di empat kota, tetapi di lima kota besar, termasuk Grand Final di Jakarta.

Audisi pertama akan diadakan di Hartono Mall, Yogyakarta, pada 8 – 9 Februari 2020, disusul audisi tanggal 15 – 16 Februari 2020 di Galaxy Mall 3, Surabaya. Pada tanggal 29 Februari – 1 Maret 2020, audisi akan dilaksanakan di Delipark, Medan, kemudian tanggal 14 – 15 Maret 2020 di 23 Paskal, Bandung. Audisi terakhir sekaligus Grand Final akan berlangsung di Senayan City, Jakarta pada 20 – 22 Maret 2020.

Melihat antusiasme yang tinggi dari para peserta, penyelenggaraan tahun ini didukung oleh UBS Gold, pusat emas model baru dan Make Over, kosmetik ternama Indonesia. Selain berkesempatan ambil bagian di Jakarta Fashion Week, JFW Model Search mencari Face of Indonesia, untuk bertanding di Asia Model Festival 2020, di Seoul, Korea Selatan.

Para pemenang JFW Model Search dari 5 kota juga mendapatkan kesempatan mengikuti proses pemilihan The Search for JFW Icons. Program yang dimulai sejak tahun lalu ini menampilkan 12 kandidat model di sebuah web series. Para model berkompetisi merebut gelar JFW Icons, yang menjadi model kampanye Jakarta Fashion Week 2021.

Yang baru tahun ini, pendaftaran hanya bisa dilakukan melalui aplikasi Jakarta Fashion Week, hasil kolaborasi Jakarta Fashion Week dengan Moonlay Technologies, serta adanya interaksi voting yang dapat dimanfaatkan pencinta fashion mana pun untuk memilih pemenang regional favorit untuk menjadi bagian dari The Search for JFW Icons. Aplikasi JFW yang diluncurkan sejak Oktober 2019 ini tersedia untuk diunduh secara gratis di App Store dan Google Play.

Antisipasi Pandemi, Jakarta Fashion Week Mengaudisi Model Secara Semi-Virtual

GayaKeren.id – Jakarta Fashion Week 2021 akan diselenggarakan pada Oktober 2020 mendatang, namun JFW Series – rangkaian acara menuju Jakarta Fashion Week – sudah dimulai di bulan Februari ini, tepatnya rangkaian Jakarta Fashion Week Model Search atau JFW Model Search.  JFW Model Search adalah salah satu yang paling ditunggu dari rangkaian acara menjelang Jakarta Fashion Week setiap tahun. Diadakan setiap tahun untuk mengaudisi para model yang akan berjalan di panggung Jakarta Fashion Week, audisi ini diselenggarakan hingga ke lima kota besar di Indonesia. Tahun ini, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Jakarta jadi pilihannya.

Jakarta yang menjadi lokasi audisi dengan peminat terbesar, saat ini menyandang status sebagai salah satu episentrum penyebaran virus Corona. Namun, hal ini tidak meredupkan semangat para peserta dan Jakarta Fashion Week untuk terus mencari bakat muda berkualitas. Memanfaatkan teknologi, Preliminary Stage secara semi-virtual diselenggarakan untuk menyaring lebih dari 600 peserta audisi Jakarta yang sudah terdaftar melalui aplikasi Jakarta Fashion Week. Peserta yang terpilih, mendapat panduan dan tautan khusus untuk mengirimkan sampel video mereka ke alamat surel Jakarta Fashion Week.

Dewan juri akan memilih sejumlah peserta yang dinilai berpotensi untuk melakukan audisi langsung di Fashionlink x BLCKVNUE, Senayan City pada 1-5 Juli 2020. Audisi ini akan dilakukan dengan penjadwalan dan prosedur kesehatan yang ketat. Setiap peserta akan dikirimkan instruksi kedatangan, dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak ada lagi pendaftaran di tempat. Pendaftaran model akan ditutup pada tanggal 27 Juni 2020.

Jakarta Fashion Week juga terus menjalin korespondensi dengan pihak penyelenggara Asia Model Festival di Seoul untuk memastikan jadwal dan keamanan peserta Face of Asia nantinya. Selain itu, prosedur untuk penyelenggaraan seleksi lanjutan Icons of JFW 2021 juga akan segera difinalisasikan.

Kolaborasi dengan Madja by Mayaratih, Nafash Rilis Koleksi Terbaru

GayaKeren.id – Memasuki era New Normal setelah lebih kurang 4 bulan masyarakat melakukan hampir semua pekerjaan dari rumah. Meski bekerja kembali dikantor, ada aturan protokol kesehatan yang harus dipatuhi demi mencegah penularan virus Covid-19. Tetap menjaga kesehatan, kebersihan dengan cara rajin mencuci tangan, memakai masker, memakai sarung tangan dan pastinya menjaga jarak aman menjadi kebiasaan baru dalam kehidupan masyarakat.

Kondisi ini menjadi inspirasi bagi Nafash. Kolaborasi antara MADJA by Mayaratih & FENNY SAPTALIA  membuat koleksi yang berjudul NA•FASH. Berasal dari kata Nafas yang Berarti Hidup. Nafas adalah hal utama untuk kelangsungan hidup. Dalam  arti lain, NA.FASH adalah “NEW NORMAL FASHION“.

NA•FASH  terdiri dari tiga koleksi berupa Long Jacket, jumpsuit, dan cape. Yang mana koleksi kami ini menggunakan bahan yang memiliki keunggulan antibacterial and water repellent dengan tujuan untuk menambah perlindungan bagi diri kita. Kemudian, dari segi fashion kami menonjolkan  karakter Casual Street fashion yang bisa dikenakan oleh semua kalangan dengan warna warna pastel antik dan design signature printing berupa kata-kata encouragement / penyemangat untuk mengingatkan dan memberi semangat kepada orang sekeliling kita yang melihatnya.

Pada koleksi Na•Fash kami juga menambahkan koleksi SCARF, FASHION MASK & GLOVES sebagai kelengkapan pelindung diri. Kami berharap koleksi kolaborasi ini bisa menjadi sebuah inspirasi, perubahan, dan semangat baru untuk kita semua bisa bangkit kembali di masa pandemik ini. Dan juga kita semua bisa selalu menjaga keamanan diri namun tetap stylish dalam berpenampilan  menuju “NEW NORMAL LIFE “.

“Kiranya koleksi karya kami ini bisa diterima dengan baik oleh insan fashion tanah air yang menyuarakan semangat dan kebangkitan Indonesia.” Harapan Fenny yang disampaikan dalam rilisnya.

          

Mempertahankan Bisnis Fashion Ditengah Pandemi Ala 2 Disainer IFC

GayaKeren.id – Dunia fashion tanah air menjadi salah satu bidang usaha ekonomi kreatif yang berkembang pesat saat ini. Sayangnya, dikarenakan pandemi Covid-19 yang mewabah diseluruh dunia juga memberikan dampak luar biasa terhadap pelaku usaha di dunia fashion ini. Berbagai event promo baik skala daerah, nasional maupun internasional terpaksa ditunda, atau bahkan dibatalkan yang pastinya juga berimbas terhadap angka penjualan. Tidak sedikit pelaku usaha mengalami stag atau bahkan menutup usahanya karena menurunnya pembelian, begitu juga didunia fashion.

Indonesia Fashion Chumber atau IFC, yang merupakan salah satu wadah bagi desainer Indonesia terus memberikan motivasi bagi para desainer yang berada dibawah naungannya. Salah satunya menyelenggarakan zoom meeting untuk menggantikan jumpa pers untuk merilis dan memperkenalkan karya para desainer, kemudian dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi juga, IFC mengajak desainer-desainer yang menjadi anggotanya untuk membagi cara bertahan ditengah pandemi.

 

Hannie Hananto. Pemilik brand Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto ini menceritakan bahwa, pandemi ini telah merubah perilaku masyarakat. Karena keharusan bekerja dari rumah, sehingga peng-aksesan media sosial untuk segala bentuk kebutuhan menjadi gaya hidup baru. Berbagai transaksi pun dilakukan melalui jejaring media sosial.

“Pada waktu awal sudah tidak kaget, karena infrastruktur yang utama sudah harus dibenahi yaitu dengan merubah system, penjahit ada yang dikerjakan di Sumedang dan Jakarta (jadi tidak sampai mem PHKan). Pada saat itu Brand saya ada Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto berupa kartun-kartun dan polkadot, semuanya serba print-print nan akan ada event di makassar yang cancel. Di masa pandemic ini, karena sudah ada stock produksi dan persiapan yang lumayan ready akhirnya lewat media tiktok bisa teratasi. Tiktok itu mudah dan buat videonya  bisa diedit, selain itu perlu adanya interaksi antara designer dengan customer, agar brand tidak tenggelam, usahakan just say hello kepada pelanggan.”

Kemudian masker mulai langka dipasaran, pertama kali Hannie Hananto mendapat kiriman masker dari mas phillip dan mbak Hendry  Jogyakarta, membuat Hannie Henanto berpikir untuk sendiri membuat sendiri dengan motif sendiri yang sesuai dengan motif hijab dan baju yang diproduksi. Kemudian diposting di media sosial. “Alhamdulilah respon postif. Bagaimana cara kita membentuk “image baru”dari desain kita itu penting, perlu kepekaan dalam membaca apa yang lagi “Hype”, “tambahnya.

Riri Rengganisi, Indische (ready-to-wear kebaya, berdiri sejak 2008) dan Rengganis (ready-to-wear ethnic contemporary womenswear & accessories, berdiri sejak 2017). Memiliki pasar tersendiri dengan desain unik yang mengangkat teknik tradisional bordir tangan yang didesain secara kontemporer. Selain itu, tekstil tradisional Indonesia lainnya seperti batik tulis dan tenun selalu hadir sebagai pelengkap koleksi.

“Strategi pertama yang pasti dilakukan kebanyakan orang ketika itu adalah genjot medsos dan blast WA ke seluruh customer database utk berpromosi, tapi apa yang terjadi? Malah backfire : mereka “curhat” balik karena kondisi mereka pun sedang tidak memungkinkan untuk berbelanja. Maka dari situ saya segera hentikan broadcast ke pelanggan, karena takut terkesan “tidak sensitif” terhadap situasi mereka. Posting foto baju di medsos juga dihentikan. Lalu dari situ saya rubah strategi,” Riri menceritakan langkah awal yang diambilnya.

Kemudian Riri mengevaluasi produknya dengan mempertimbangkan kelayakan ditawarkan pada saat semua orang mengeluhkan kesusahan. Riri memilih fokus di 2 hal, yaitu : Menawarkan jasa jahit dengan konsep tanpa potong, ini membuat pembeli kain bisa dianggap sebagai investasi, membantu pengrajin, tapi juga bisa dipakai tanpa merusak nilai kain tersebut. Selain itu ditawarkan juga jasa “jahit tanpa potong” untuk kain dari koleksi pribadi para pelanggan.

Dan membuat masker dengan desain yang bisa dipadankan dengan bestsellers koleksi lama supaya bisa ditawarkan ke semua pelanggan loyal. “Di awal April belum banyak brand lain yang membuat masker premium, maka saya buru-buru post foto 2 desain masker berbordir dipadukan dengan bajunya. Tanggapannya ternyata bagus, maka seminggu berikutnya (pertengahan April) saya launch lagi 7 desain baru. Di minggu terakhir April, pesanan yang masuk alhamdulillah menutup kekurangan omset di awal bulan hingga masih bisa menggaji karyawan.”

Konsep menawarkan produk yang relevan saja, komunikasi personal dengan pelanggan, eksis terus di medsos, dan diskon selected items menjadi strategi marketing untuk untuk ketahanan bisnis sementara ini. “Tetapi semua itu memang terbantu oleh adanya website, karena tanpa itu tidak mungkin saya mendapat kepercayaan secepat ini dari pelanggan baru. Di bulan Juni, masker saya sudah dipesan untuk pelanggan baru di Singapore, Korea, Jerman, London, Filipina, juga sebagai corporate gift salah satu bank di Indonesia,” tutup Riri.

 

Sharing, Tips Bertahan Ditengah Pandemi Ala Desainer IFC

GayaKeren.id – Tidak bisa dipungkiri, merebaknya pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap hampir semua sektor usaha. Dari mulai pengurangan jumlah produksi, pengurangan jumlah jam kerja, hingga pengurangan tenaga kerja, dengan kata lain pemutusan hubungan kerja. Dan banyak pengusaha harus melakukan inovasi agar usahanya tetap bisa bertahan ditengah kesusahan yang dirasakan secara global diseluruh dunia.

Kondisi bisnis yang sulit ini juga dirasakan oleh pelaku usaha di dunia fashion, hal ini terungkap saat Indonesia Fashion Chumber melakukan Sharing Session melalui aplikasi Zoom Meeting pada Senin (22/6). Lima disainer Indonesia dibawah naungan IFC menceritakan bagaimana mereka bertahan dengan melakukan inovasi dengan mengikuti kebutuhan konsumen tanpa mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku saat ini, namun tetap mempertahankan ciri khas karyanya.

Rosie Rahmadi, pemilik brand Gadiza mengungkapkan peran penting dari para mentor dan SDM yang membantunya bertahan. Pada awal masa pandemi, pertama yang dilakukan Creative Director Gadiza adalah membangun mental diri untuk menghadapi kondisi ini, membangun mental tim, kesehatan diri dan semangat. Setelah itu, dimulailah koordinasi dengan tim untuk menyusun strategi untuk bertahan. Strategi pertama yang dilakukan adalah yaitu mulai melakukan aktivasi digital. Aktivasi Digital yang dilakukan diantaranya memaksimalkan media social dan website sebagai sarana untuk penjualan dan branding. Salah satu strategi yang dilakukan untuk menarik orang untuk berbelanja online yaitu menerapkan strategi diskon dan digital marketing. Hal tersebut sekaligus menghindari penumpukan stok berlebih.

Alat Pelindung Diri atau APD yang kemudian menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak bisa melakukan aktifitas kerjanya dari rumah, membuat Rosie terinspirasi untuk mendesain outer yang juga berfungsi sebagai APD. SAZIA OUTER sebagai Outer Pelindung Diri. Dengan desain yang simple, penggunakaan bahan yang ringan dan water repellent. Hanya dalam waktu singkat, Sazia Outer yang awalnya melimpah di Gudang Maison Gadiza habis dan harus memproduksi lagi. Hingga saat ini, Rosie Rahmadi telah mengeluarkan desain Outer Pelindung Diri yang tidak hanya bisa digunakan oleh perempuan tetapi juga laki-laki (Unisex). Permintaan SAZIA OUTER ini didominasi oleh orang yang masih harus beraktivitas di luar, seperti dokter, pekerja kantoran, dan ibu rumah tangga. Kebanyakan pengguna memiliki lebih dari satu SAZIA Outer, karena harus dicuci setiap setelah pakai dan keesokan harinya harus dipakai lagi untuk kembali keluar.

Khairul Fajri, member IFC asal Aceh ini pun terkena imbas diberlakukannya PSBB di Aceh. Pemilik brand lokal, Ija Kroeng yang identik dengan kain sarung etnik Aceh dan pakaian muslim pria milenial ini mengalami penurunan penjualan hingga 99%. Saat WHO menganjurkan masyarakat memakai masker kain sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, permintaan akan masker kainpun meningkat tajam sehingga mengakibatkan kelangkaan masker dan harga yang tidak normal dipasar.

“Sektor bisnis fashion khususnya yang memproduksi sendiri produknya atau minimal memiliki mesin jahit menurut saya, salah satu sektor bisnis yang paling mampu untuk bertahan karna masih bisa memproduksi produk- produk yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan team medis seperti masker dan APD. Di Aceh, tidak semua rumah produksi memiliki mesin jahit sekaligus perlengkapan printing kain. Workshop Ija Kroeng yang memiliki mesin jahit dan peralatan manual printing mengambil kesempatan ini untuk memproduksi masker berlogo brand ija kroeng.” ungkap Khairul Fajri.

Selain menjual langsung masker berlogo brand ija kroeng di media sosial dan di workshop, strategi masketing lainya ialah dengan memproduksi sample masker berlogo instansi atau perusahaan seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan Aceh, Musium Aceh, Aceh Business Club dan lainya yang dianggap memiliki kemungkinan besar untuk memesan masker dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masyarakat.

Secara tidak langsung momen ini sangat membantu untuk menyebarkan informasi tentang brand kita kepada konsumen baru yang selama ini tidak bisa dijangkau, menjaga eksistensi dan menguatkan posisi brand dimata konsumen. Hal ini bisa dilihat dari bertambahanya follower di media sosial yang siknifikan sehingga berefek kepada penjualan bulanan khususnya selama bulan Ramadhan terhadap produk utama seperti kain sarung, celana sarung dan baju  muslim pria.

Setelah dimulainya new normal dimana masyarakat sudah bisa beraktifitas seperti biasa walaupun ada pembatasan pembatasan untuk mencegah kembali penyebaran covid-19. Acara- acara pernikahan di mesjid juga sudah mulai diselenggarakan kembali dengan salah satu syaratnya ialah semua orang wajib memakai masker. Ija kroeng melihat ada peluang dan segera berinovasi lagi memproduksi masker kain bertuliskan nama pasangan pengantin sebagai souvenir, kemudian masker ini akan dibagikan kepada seluruh orang yang akan datang ke acara pernikahan tersebut.

Phillip Iswardhono, Chairma IFC Jogja ini memiliki produk kain lurik yang tersebar sebanyak 75 % database dijakarta, 10% bandung, surabaya medan dan lain 4,5%, Jogya malah paling sedikit yaitu 0,5%.

“Minggu pertama hingga kedua kami tidak mengalami kegugupan/nervous karena masih runing dari PO sebelum pandemic. Mulai merasakan tidak ada order baru setelah minggu ketiga, kemudian muncul ide baru bagaimana caranya untuk tetep jualan. Saya mulai membangun networking kembali, menghubungi database clien-clien yang lain, lewat whatsapp hanya menyapa, kalau dapat alamat dikirim masker sebagai hadiah ke client. Efek positif lainnya merekrut kembali client-client yang udah lama tidak dihubungi,” ungkap Phillip.

Dari jualan masker dengan harga Rp 3500 kain perca, sampai masker seharga Rp 1 jt rupiah dengan bahan kain tenun langka 1 pcs Rp 1 juta, saat ini museum peranakan di Singapore  sudah memesan 1860 pc dengan batik motif-motif peranakan.

Kesulitan untuk mengirim ke luar negeri jangan dihadapi dengan gugup, menyikapi dengan hati-hati dan tidak parno. Sekarang ini tidak mengurangi malah menambah penjahit baru, selain itu untuk tetap eksis memesan pengrajin kain-kain tenun khususnya lurik, untuk tetap beraktifitas.