AZD7442 Secara Signifikan Melindungi Dari gejala COVID-19

GayaKeren.id – Hasil terperinci dari uji klinik profilaksis (pencegahan) pra-paparan PROVENT Fase III menunjukkan bahwa AZD7442 (tixagevimab dan cilgavimab) mengurangi risiko pengembangan gejala COVID-19 sebesar 77% dalam analisis primer dan sebesar 83% dalam analisis tindak lanjut enam bulan, dibandingkan dengan plasebo. Tidak ada kasus penyakit parah atau kematian terkait COVID-19 pada kelompok AZD7442 selama tindak lanjut pemantuan enam bulan.1

Lebih dari dari 75% peserta penelitian PROVENT ini memiliki riwayat penyakit penyerta yang menempatkan mereka pada risiko tinggi untuk menderita COVID-19 yang parah. Terutama jika peserta tersebut terinfeksi, termasuk orang-orang yang kekebalannya terganggu serta mereka yang kemungkinkan memiliki respons kekebalan yang tidak memadai terhadap vaksinasi.1

Data farmakokinetik tambahan menunjukkan, konsentrasi AZD7442 meningkat secara stabil di dalam serum selama enam bulan setelah pemberian. Hal ini mendukung pernyataan bahwa dosis tunggal dapat memberikan perlindungan jangka panjang terhadap COVID-19 yang berlangsung setidaknya enam bulan.

Data tersebut dipublikasikan 20 April 2022 dalam New England Journal of Medicine.

Myron J. Levin, MD, Profesor Pediatri dan Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Colorado, AS dan peneliti utama PROVENT, mengungkapkan “Meskipun vaksin COVID-19 sangat efektif dalam mengurangi rawat inap dan kematian, lonjakan kasus terus meningkat dan banyak individu yang berisiko tinggi, termasuk individu dengan gangguan kekebalan serta mereka yang tidak dapat divaksinasi. Data penting yang diterbitkan New England Journal of Medicine ini memberikan keyakinan bahwa satu dosis AZD7442 intramuskular dapat memberikan perlindungan jangka panjang bagi populasi yang rentan. Selain itu, AZD7442 telah terbukti menetralkan BA.2, varian dominan COVID-19 yang beredar saat ini.”

Sementara itu, Mene Pangalos, Executive Vice President, BioPharmaceuticals R&D, AstraZeneca, mengatakan: “Data ini memperkuat banyaknya bukti yang mendukung penggunaan AZD7442 untuk membantu mencegah COVID-19 yang bergejala dan parah, terutama bagi individu yang tidak dapat merespons vaksin secara memadai dan membutuhkan proteksi tambahan”.

Dalam analisis efikasi primer, dosis tunggal 300mg intramuskular (IM) AZD7442 mengurangi risiko terjadinya COVID-19 bergejala dibandingkan dengan plasebo sebesar 77% (95% confidence interval [CI] 46, 90; p<0,001) pada median pemantauan 83 hari. COVID-19 bergejala terjadi pada 8/3441 (0,2%) kelompok AZD7442 dan 17/1731 (1,0%) kelompok plasebo.1

Selanjutnya, analisis pemantauan yang diperpanjang menunjukkan adanya penurunan yang lebih besar dalam insiden COVID-19 pada kelompok AZD7442 dengan pengurangan risiko relatif 83% (95% CI 66, 91) dibandingkan dengan plasebo pada rata-rata median pemantauan sampai 196 hari. COVID-19 bergejala terjadi pada 11/3441 (0,3%) kelompok AZD7442 dan 31/1731 (1,8%) kelompok plasebo. Khasiat ini ditemukan konsisten di seluruh subkelompok peserta penelitian yang dievaluasi.

Berdasarkan analisis tindak lanjut pemantauan selama enam bulan, tidak ada kasus COVID-19 yang parah maupun kritis, kematian terkait COVID-19, atau rawat inap di kelompok AZD7442. Sementara, terdapat lima kasus penyakit parah atau kritis, tujuh rawat inap dan dua kematian terkait COVID-19 pada kelompok plasebo.1

AZD7442 umumnya ditoleransi dengan baik dalam PROVENT, dan tidak ada masalah keamanan yang diidentifikasi pada analisis primer atau yang berlangsung selama enam bulan. Efek samping timbul pada tingkat yang sama di kelompok AZD7442 maupun plasebo, dan yang paling umum adalah reaksi di tempat suntikan. Secara rinci, terjadi pada 2,4% peserta dalam kelompok AZD7442 dan 2,1% peserta dalam kelompok plasebo.1

Sekitar 2% dari populasi global dianggap memiliki risiko lebih tinggi mengalami respon yang kurang optimal terhadap vaksinasi COVID-19 dan secara khusus dapat mengambil manfaat dari profilaksis pra-pajanan dengan AZD7442.2,3 Populasi tersebut mencakup orang-orang yang mengalami gangguan kekebalan, seperti mereka yang menderita kanker atau pasien transplantasi atau siapa pun yang menggunakan obat imunosupresif. Orang yang berisiko tinggi terpapar virus SARS-CoV-2 juga dapat memperoleh manfaat dari perlindungan dengan AZD7442.4–8

AstraZeneca sebelumnya mengumumkan hasil positif tingkat tinggi dari uji klinik TACKLE Phase III dalam pengobatan COVID-19 ringan hingga sedang. Hasil lengkap sedang dipresentasikan di Kongres Mikrobiologi Klinis & Penyakit Menular Eropa (ECCMID) dan telah diajukan untuk dipublikasikan dalam jurnal medis peer-reviewed.

Inovasi Sebagai Kunci Keberhasilan Pencegahan Penyebaran Dengue di Tengah Beban Ganda Endemi Dengue dan Pandemi COVID-19

GayaKeren.id – PT. Takeda Indonesia menyelenggarakan Diskusi Media guna meningkatkan kesadaran publik dalam mengantisipasi dan mencegah penyebaran dengue. Menggandeng Kementerian Kesehatan Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Komunitas Dengue Indonesia, PT Takeda indonesia berkomitmen untuk bersama memberikan edukasi tentang bahaya penyakit demam berdarah dan juga upaya pencegahan yang bisa dilakukan demi meningkatkan perlindungan diri terhadap bahaya dengue.

Andreas Gutknecht, General Manager PT Takeda Indonesia mengatakan “Penurunan kasus COVID-19 menjadi saat untuk kita melihat kembali dengue, penyakit yang bisa menyebabkan sakit parah, penyebaran yang cepat melalui nyamuk pembawa virus dengue; dan saat ini  belum ada pengobatan spesifik untuk dengue. Di Takeda, kami berkomitmen untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya dengue dan juga pentingnya pencegahan yang inovatif untuk melindungi masyarakat luas yang berisiko terkena dengue.”

Pada kesempatan ini, Takeda Indonesia juga mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam upaya waspada dengue dengan melakukan posting foto Jentik Jari, yang menandakan bahwa kesadaran akan bahaya dengue perlu ditingkatkan, dan bahwa dengue ada di sekitar kita. 

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) jumlah kasus dengue sejauh ini masih tergolong tinggi dengan jumlah kasus dengue di Indonesia dari awal tahun hingga bulan 12 April 2022 mencapai 32.213 kasus dan jumlah meninggal dunia mencapai 323 orang.[1] Sementara itu, jumlah kasus pada tahun 2021 mencapai 73.518 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 705 kasus.[1] Oleh karena itu, kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit dengue di lingkungan sekitar mereka menjadi bagian penting dari upaya mitigasi penyakit ini secara luas.

“Pada musim penghujan seperti sekarang ini, dengue menjadi penyakit yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Kami sangat mendorong partisipasi dan kolaborasi semua pihak dalam mencegah dan menangani endemi demam berdarah di Indonesia. Karena itu, kami mengapresiasi Takeda Indonesia atas partisipasinya dalam mengingatkan kembali serta mengedukasi masyarakat kita mengenai dengue serta upaya preventif yang akan dilakukan.”  ungkapdr. Asik Surya, MPPM, Koordinator Substansi Arbovirosis, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RepubIik Indonesia.

Pemerintah telah menargetkan penurunan angka kematian akibat dengue menjadi 0,5% pada 2025 dari 0,9% di tahun 2021.[1,2] Pemerintah terus melanjutkan kampanye pencegahan dengue melalui program 3M plus – Menguras, Menutup, Mendaur Ulang berikut berbagai kegiatan pencegahan lainnya seperti memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat di pintu dan ventilasi serta memberikan larvasida di tempat penampungan air. Namun demikian, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat di tengah pandemi seperti saat ini adalah membedakan gejala penularan COVID-19 dan Dengue. 

Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan “Gejala dengue sangatlah mirip dengan gejala COVID-19, yaitu seperti demam tinggi,  nyeri di sejumlah bagian tubuh, lesu, dan muncul ruam. Sehingga orang tua memiliki peran yang penting dalam mencermati dan mengenali beberapa tanda bahaya dengue. Selain itu, kita bisa melakukan pemeriksaan darah sehingga ada konfirmasi diagnosa bahwa ini adalah demam dengue.”

Di kesempatan yang sama, hal senada juga diungkapkan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) selaku Ketua Komunitas Dengue Indonesia. Menurut beliau pandemi COVID-19 belum usai, sehingga ini menjadi double burden, dimana ada dua masalah infeksi yang hadir pada waktu bersamaan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua untuk lebih pintar dalam mencegah demam berdarah. “Maka sinergi seluruh kalangan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang bahaya dan pencegahan demam berdarah menjadi penting. Setiap anggota keluarga diharapkan dapat mengenali jenis nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue. Terlebih lagi upaya pencegahan Demam Berdarah tidak hanya 3M plus tetapi juga inovasi pencegahan lain seperti dengan vaksinasi serta upaya untuk mendorong seluruh kalangan masyarakat untuk lebih waspada dan lebih pintar dalam mencegah demam berdarah,” ungkapnya.

Sejauh ini, Pemerintah telah memetakan penanganan dengue melalui Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang berfokus pada 6 langkah strategis. Salah satu langkah strategis yang dikedepankan Pemerintah adalah inovasi karena merupakan kunci keberhasilan dalam  upaya pencegahan penyebaran dengue. Inovasi pencegahan ini termasuk pengembangan vaksin dengue yang tentunya aman dan dapat melindungi populasi anak dan juga dewasa yang berisiko terhadap dengue diakibatkan empat stereotipe dengue, tanpa melihat riwayat dengue sebelumnya. Hal ini juga harus sesuai dengan rekomendasi WHO bahwa ketersediaan vaksin dengue bisa mendorong keberhasilan pengendalian penyakit tersebut.[3]

“Vaksinasi merupakan salah satu inovasi dalam strategi pencegahan penyebaran dengue yang sangat mungkin dilakukan di masa depan karena masyarakat secara luas sudah terbiasa dengan pelaksanaan vaksinasi. Hal ini tidak terlepas dari program vaksinasi COVID-19 yang telah diselenggarakan sebanyak tiga kali secara gratis oleh Pemerintah, kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi sudah sangat baik. Karena itu, kami berharap opsi untuk vaksinasi dengue bisa menjadi semakin luas dan angka kasus Dengue maupun kematian akibat dengue dapat turun sejalan dengan target Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025,” tambah Dr. Asik Surya, MPPM.

Inovasi Sebagai Kunci Keberhasilan Pencegahan Penyebaran Dengue di Tengah Pandemi COVID-19

GayaKeren.id – PT. Takeda Indonesia menyelenggarakan Diskusi Media guna meningkatkan kesadaran publik dalam mengantisipasi dan mencegah penyebaran dengue. Menggandeng Kementerian Kesehatan Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Komunitas Dengue Indonesia, PT Takeda indonesia berkomitmen untuk bersama memberikan edukasi tentang bahaya penyakit demam berdarah dan juga upaya pencegahan yang bisa dilakukan demi meningkatkan perlindungan diri terhadap bahaya dengue.

Andreas Gutknecht, General Manager PT Takeda Indonesia mengatakan “Penurunan kasus COVID-19 menjadi saat untuk kita melihat kembali dengue, penyakit yang bisa menyebabkan sakit parah, penyebaran yang cepat melalui nyamuk pembawa virus dengue; dan saat ini  belum ada pengobatan spesifik untuk dengue. Di Takeda, kami berkomitmen untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya dengue dan juga pentingnya pencegahan yang inovatif untuk melindungi masyarakat luas yang berisiko terkena dengue.”

Pada kesempatan ini, Takeda Indonesia juga mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam upaya waspada dengue dengan melakukan posting foto Jentik Jari, yang menandakan bahwa kesadaran akan bahaya dengue perlu ditingkatkan, dan bahwa dengue ada di sekitar kita. 

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) jumlah kasus dengue sejauh ini masih tergolong tinggi dengan jumlah kasus dengue di Indonesia dari awal tahun hingga bulan 12 April 2022 mencapai 32.213 kasus dan jumlah meninggal dunia mencapai 323 orang.[1] Sementara itu, jumlah kasus pada tahun 2021 mencapai 73.518 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 705 kasus.[1] Oleh karena itu, kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit dengue di lingkungan sekitar mereka menjadi bagian penting dari upaya mitigasi penyakit ini secara luas.

“Pada musim penghujan seperti sekarang ini, dengue menjadi penyakit yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Kami sangat mendorong partisipasi dan kolaborasi semua pihak dalam mencegah dan menangani endemi demam berdarah di Indonesia. Karena itu, kami mengapresiasi Takeda Indonesia atas partisipasinya dalam mengingatkan kembali serta mengedukasi masyarakat kita mengenai dengue serta upaya preventif yang akan dilakukan.”  ungkapdr. Asik Surya, MPPM, Koordinator Substansi Arbovirosis, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RepubIik Indonesia.

Pemerintah telah menargetkan penurunan angka kematian akibat dengue menjadi 0,5% pada 2025 dari 0,9% di tahun 2021.[1,2] Pemerintah terus melanjutkan kampanye pencegahan dengue melalui program 3M plus – Menguras, Menutup, Mendaur Ulang berikut berbagai kegiatan pencegahan lainnya seperti memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat di pintu dan ventilasi serta memberikan larvasida di tempat penampungan air. Namun demikian, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat di tengah pandemi seperti saat ini adalah membedakan gejala penularan COVID-19 dan Dengue. 

Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan “Gejala dengue sangatlah mirip dengan gejala COVID-19, yaitu seperti demam tinggi,  nyeri di sejumlah bagian tubuh, lesu, dan muncul ruam. Sehingga orang tua memiliki peran yang penting dalam mencermati dan mengenali beberapa tanda bahaya dengue. Selain itu, kita bisa melakukan pemeriksaan darah sehingga ada konfirmasi diagnosa bahwa ini adalah demam dengue.”

Di kesempatan yang sama, hal senada juga diungkapkan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) selaku Ketua Komunitas Dengue Indonesia. Menurut beliau pandemi COVID-19 belum usai, sehingga ini menjadi double burden, dimana ada dua masalah infeksi yang hadir pada waktu bersamaan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua untuk lebih pintar dalam mencegah demam berdarah. “Maka sinergi seluruh kalangan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang bahaya dan pencegahan demam berdarah menjadi penting. Setiap anggota keluarga diharapkan dapat mengenali jenis nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue. Terlebih lagi upaya pencegahan Demam Berdarah tidak hanya 3M plus tetapi juga inovasi pencegahan lain seperti dengan vaksinasi serta upaya untuk mendorong seluruh kalangan masyarakat untuk lebih waspada dan lebih pintar dalam mencegah demam berdarah,” ungkapnya.

Sejauh ini, Pemerintah telah memetakan penanganan dengue melalui Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang berfokus pada 6 langkah strategis. Salah satu langkah strategis yang dikedepankan Pemerintah adalah inovasi karena merupakan kunci keberhasilan dalam  upaya pencegahan penyebaran dengue. Inovasi pencegahan ini termasuk pengembangan vaksin dengue yang tentunya aman dan dapat melindungi populasi anak dan juga dewasa yang berisiko terhadap dengue diakibatkan empat stereotipe dengue, tanpa melihat riwayat dengue sebelumnya. Hal ini juga harus sesuai dengan rekomendasi WHO bahwa ketersediaan vaksin dengue bisa mendorong keberhasilan pengendalian penyakit tersebut.[3]

“Vaksinasi merupakan salah satu inovasi dalam strategi pencegahan penyebaran dengue yang sangat mungkin dilakukan di masa depan karena masyarakat secara luas sudah terbiasa dengan pelaksanaan vaksinasi. Hal ini tidak terlepas dari program vaksinasi COVID-19 yang telah diselenggarakan sebanyak tiga kali secara gratis oleh Pemerintah, kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi sudah sangat baik. Karena itu, kami berharap opsi untuk vaksinasi dengue bisa menjadi semakin luas dan angka kasus Dengue maupun kematian akibat dengue dapat turun sejalan dengan target Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025,” tambah Dr. Asik Surya, MPPM.

Trik Jitu Atasi Dampak Fisik dan Mental Akibat “Long COVID-19”

GayaKeren.id – Good Doctor Technology Indonesia (Good Doctor) kembali mengadakan acara Good Talk, Sabtu (11/9) sebagai bagian dari rangkaian Good Talk Series, berkolaborasi dengan Hippindo, Sentra Vaksinasi Serviam, dan Personal Growth. Dalam acara ini, para ahli di bidangnya akan memberikan informasi, edukasi, serta tips dan trik yang relevan dengan isu kesehatan yang sedang marak diperbincangkan. Diselenggarakan lewat platform Instagram Live, acara Good Talk hari ini membahas mengenai Long COVID-19 serta tips dan trik untuk mengatasi dampak fisik dan mental yang diakibatkannya. Untuk membahas hal tersebut, Good Doctor telah mengundang para ahli di bidangnya, di antaranya dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD atau akrab disapa dr. Jeff, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Good Doctor, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog Klinis, CEO & Founder Personal Growth, dan Svida Alisjahbana CEO GCM Group sekaligus perwakilan dari HIPPINDO dan juga Sentra Vaksinasi Serviam sebagai moderator.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebanyakan kasus infeksi COVID-19 akan pulih dan kembali sehat dalam jangka waktu beberapa minggu. Beberapa kasus dapat menunjukkan gejala yang berlangsung lebih lama atau bahkan berbulan-bulan setelah dinyatakan negatif, dan kondisi ini disebut sebagai Long COVID-19. Sebanyak 5-20% pasien COVID-19 mengalami Long COVID-19 lebih dari 4 minggu, diperkirakan 1 tiap 10 pasien COVID-19 dapat mengalaminya hingga lebih dari 12 minggu. Walaupun penderita tidak menularkan virus pada tahap ini, beberapa pasien mengalami komplikasi medis yang mungkin mengakibatkan efek kesehatan yang berkepanjangan.

dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD mengatakan, “Long COVID-19 adalah apabila setelah empat pekan sejak mulai merasakan gejala COVID-19 sampai dinyatakan negatif, masih timbul gejala sisa. Gejala ini dapat berupa sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan. Meskipun gejala Long COVID-19 ini bisa diatasi secara medis, pasien COVID-19 perlu tetap selalu waspada. Apabila mengalami Long COVID-19, pasien harus lebih hati-hati dalam melakukan kegiatan sehari-hari, namun bukan berarti berhenti sepenuhnya. Pasien harus mengatur kegiatan mereka agar tidak terlalu kelelahan, melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan, dan lakukan kegiatan fisik dengan teratur agar otot-otot tetap bekerja. Apabila gejala semakin memburuk, segera hubungi dokter.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa Long COVID-19 ini juga dapat mempengaruhi keadaan psikologis penderitanya, terutama karena mereka merasa frustasi tidak dapat kembali ke keadaan sehat seperti semula dalam waktu yang singkat. Beberapa penderita mungkin saja mengalami kesulitan dalam melakukan hal-hal yang dulu sangat mudah mereka lakukan, seperti naik tangga, berjalan jauh, atau berolahraga. Sebuah studi yang dipublikasikan di The Lancet pada April 2021 menemukan bahwa sepertiga pasien COVID-19 telah didiagnosis dengan gejala neurologis atau psikologis, termasuk kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan psikosis, dalam 6 bulan setelah mereka tertular COVID-19.

Menjelaskan lebih jauh mengenai hal ini, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog Klinis, CEO & Founder Personal Growth dan Sahabat Sentra Vaksinasi Serviam mengatakan, “Kesehatan mental perlu diperhatikan apabila seseorang mengalami Long COVID-19, apalagi karena mereka akan merasakan frustasi karena gejala penyakit masih dirasakan walaupun mereka sudah dinyatakan sembuh. Dalam perjalanan untuk sembuh dari Long COVID-19, para pasien harus mengerti bahwa ini merupakan sebuah proses. Akan ada hari-hari dimana gejala terasa lebih berat dibandingkan hari lainnya. Dalam kondisi seperti ini, support system dari keluarga dan teman dapat membantu. Selain itu, dengan menciptakan rutinitas yang baik dan tetap aktif, dapat memicu endorfin dan juga meningkatkan mood.”

Bagi para penderita Long COVID-19, konsultasi dengan ahli akan dapat membantu pemulihan fisik dan mental. Dalam platform Good Doctor, telah disediakan layanan untuk konsultasi dengan dokter dan juga psikolog secara online, maka pasien tidak perlu ke luar rumah dan kembali terekspos risiko paparan virus.

dr. Adhiatma Gunawan, Head of Medical Good Doctor mengatakan, “Good Doctor selalu berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19 melalui berbagai inovasi dan program kami. Para pasien Long COVID-19 bisa berkonsultasi seputar kesehatan fisik dan mental dengan mitra dokter dan psikolog Good Doctor melalui Klinik Lawan Covid-19 dan dapatkan juga informasi lengkap seputar COVID-19 mulai dari artikel Kesehatan terkini, vaksinasi COVID-19, tes COVID-19, vitamin dan obat, serta konsultasi dengan dokter di COVID-19 Care Center, melalui Aplikasi Good Doctor. Untuk mereka yang belum melakukan vaksinasi juga dapat mendaftarkan diri melalui aplikasi Good Doctor.” tutupnya.

Pemerintah Menurunkan Tarif Pemeriksaan RDT Antigen

GayaKeren.id – Kementerian Kesehatan menurunkan harga pemeriksaan RDT-Antigen di fasilitas pelayanan kesehatan turun jadi Rp 99.000 untuk Pulau Jawa dan Bali serta Rp 109.000 untuk luar Pulau Jawa dan Bali. Kebijakan ini berlaku mulai 1 September 2021.

Penetapan batasan tarif tertinggi ini berdasarkan hasil evaluasi pemerintah dengan mempertimbangkan komponen jasa pelayanan/SDM, komponen reagen dan bahan habis pakai (BHP), komponen biaya administrasi, Overhead dan komponen biaya lainnya yang kita sesuaikan dengan kondisi saat ini.

Harapannya dengan harga yang lebih terjangkau dapat meningkatkan pengujian (testing) kasus COVID-19 sebagai bagian dari kegiatan memutus mata rantai penularan COVID-19.

Besaran tarif tertinggi hanya berlaku untuk masyarakat yang melakukan pemeriksaan RDT Antigen atas permintaan sendiri dan tidak berlaku untuk kegiatan contact tracing atau rujukan kasus ke RS yang penyelenggaraannya mendapatkan bantuan pemeriksaan RDT-Ag dari pemerintah.

Kebijakan ini berlaku bagi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang menyediakan fasilitas pemeriksaan RDT-Antigen. Kemenkes menghimbau Dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota harus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pemberlakuan pelaksanaan batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan RDT-Antigen.

Satu juta dosis Vaksin COVID-19 AstraZeneca kembali tiba di Indonesia

GayaKeren.idSejumlah 1.086.900 dosis Vaksin COVID19 AstraZeneca telah kembali dikirimkan ke Indonesia pada Jumat, 27 Agustus 2021 sebagai bagian dari perjanjian bilateral AstraZeneca dengan pemerintah Indonesia. Hingga hari ini, sebanyak 18,2 juta dosis vaksin AstraZeneca melalui skema bilateral, COVAX, dan donasi dari negara lain tiba di Indonesia.

AstraZeneca terus memasok vaksin secara nirlaba selama masa pandemi, sebagai bagian dari komitmen untuk memberikan akses vaksin yang luas dan merata di seluruh dunia.


Sewhan Chon, President Director, AstraZeneca Indonesia, mengatakan: “Pengiriman jutaan vaksin dari AstraZeneca bulan ini merepresentasikan kolaborasi berkelanjutan kami dengan pemerintah Indonesia dalam memerangi pandemi dan menekan dampak yang ditimbulkannya. Dengan memasok lebih dari 18 juta dosis vaksin hingga saat ini secara nirlaba, kami terus mendukung percepatan Program Vaksinasi Nasional untuk melindungi setiap orang di Indonesia yang memenuhi persyaratan vaksinasi.”


Sejak peluncuran pertama di dunia di awal tahun 2021, vaksin ini telah membantu mencegah ratusan ribu rawat inap dan membantu menyelamatkan puluhan ribu jiwa.


Vaksin COVID19 AstraZeneca memiliki efektivitas sekitar 8090% dalam mencegah penyakit parah dan rawat inap akibat COVID19 di seluruh kelompok usia dewasa.2,3 Vaksin ini efektif terhadap variants of concern atau varian virus yang diidentifikasi WHO sebagai varian yang memerlukan perhatian khusus, termasuk varian Beta dan Delta yang saat ini tengah menyebar. 


Vaksin COVID19 AstraZeneca telah terbukti dapat ditoleransi dengan baik secara umum. Kejadian sindroma trombosis dengan trombositopenia (TTS), sebuah gangguan pembekuan darah yang sangat langka, telah dilaporkan pada sejumlah kecil orang yang menerima vaksin dosis pertama dalam jangka waktu 14 hari, dan kemudian angka tersebut berkurang pada populasi umum setelah menerima dosis kedua.


Hingga saat ini, 1 miliar dosis vaksin AstraZeneca telah didistribusikan kepada lebih dari 170 negara di seluruh dunia, dan lebih dari dua pertiga dosis ini telah dikirimkan kepada negaranegara berpenghasilan menengah ke bawah. Lebih dari 113 juta dosis telah didistribusikan melalui COVAX. AstraZeneca adalah perusahaan farmasi global pertama yang bergabung dengan COVAX pada Juni 2020 dan terus memasok vaksin COVID19 kepada seluruh dunia ecara nirlaba selama masa pandemi melalui COVAX, disertai dengan pengiriman langsung
ke pemerintah.


Vaksin COVID-19 AstraZeneca, (ChAdOx1-S [Recombinant]), sebelumnya AZD1222, ditemukan bersama oleh Universitas Oxford dan perusahaan spin-outnya, Vaccitech. Vaksin ini menggunakan vektor virus simpanse yang tidak bereplikasi berdasarkan versi yang dilemahkan dari virus flu biasa (adenovirus) yang menyebabkan infeksi pada simpanse dan mengandung materi genetik dari protein spike virus SARS-CoV-2. Setelah vaksinasi, diproduksilah protein permukaan spike yang akan mempersiapkan sistem kekebalan untuk menyerang virus SARS-CoV-2 jika kemudian menginfeksi tubuh.

Penggunaan GeNose C19 di Industri Perhotelan Mampu Tingkatkan Kepercayaan Pengunjung

GayaKeren.id – Pariwisata merupakan sektor yang terdampak paling besar pada saat pandemi, termasuk pula industri perhotelan. Berdasarkan data, tingkat okupansi hotel di seluruh Indonesia hanya berada pada 33 persen selama Januari – Juni 2021. Situasi tersebut menjadikan para pengusaha hotel perlu untuk melakukan strategi yang adaptif dan inovatif agar dapat menciptakan keselamatan dan keamanan bagi para tamu hotel serta mengembalikan kepercayaan pengunjung.

Toat Edy Wijaya selaku GM Novotel Solo mengatakan bahwa salah satu yang dilakukan oleh Accor Group untuk menciptakan keselamatan, keamanan dan kesehatan pengunjung adalah dengan memastikan screening yang ketat pada tamu hotel; antara lain dengan mewajibkan tamu untuk menunjukan hasil tes antigen atau PCR negative, serta menyediakan GeNose C19 yang dapat digunakan oleh tamu dan karyawan hotel.  

Saat ini, GeNose C19 telah digunakan di beberapa hotel dalam manajemen Accor Group, terutama di Jawa Tengah, dan mampu memberikan screening yang cepat dan akurat bagi pengunjung, sejalan dengan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety dan Environment) yang dianjurkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Kuwat Triyana selaku Ketua tim pengembang Genose C19 mengatakan “GeNose C19 dapat membantu dalam screening yang cepat dan efektif, terutama pada industri perhotelan. Saat ini, pihak peneliti juga telah secara terus menerus melakukan pembaruan data agar dapat lebih akurat dalam mendeteksi varian baru COVID-19. Selain itu, kami juga selalu memastikan pelaksanaan pelatihan Sumber daya Manusia (SDM) lapangan agar bisa menginterpretasikan data dengan tepat.”

Pengunaan GeNose C19 pada industri perhotelan merupakan salah satu langkah yang dapat digunakan untuk menyediakan kapabilitas sanitasi dan kesehatan bagi tamu yang datang. Terlebih, penggunaan GeNose C19 bagi karyawan hotel bisa memastikan bahwa hotel menempatkan kesehatan dan keselamatan pengunjung sebagai prioritas dengan memastikan karyawan yang saat itu bertugas berada dalam keadaan sehat.

“Berdasarkan penggunaan harian, GeNose C19 mampu memberikan akurasi yang baik. Genose C19 digunakan sebagai syarat untuk setiap tamu yg akan check in, tamu yg tidak membawa hasil rapid test antigen, PCR ataupun Genose C19, mereka harus dipastikan melakukan test sebelum check in. Hasil negatif tidak akan diperkenankan check in. Diharapkan  kepercayaan dan jumlah pengunjung bisa kembali pulih dengan pemberlakukan proses screening yang baik, ditambah pelaksanaan protokol 6M yang dilakukan oleh tamu dan karyawan.” Tutup Toat.

Hari Kemanusiaan Sedunia: Memperkuat Efektivitas Dukungan Bagi Masyarakat Rentan di Indonesia

GayaKeren.idPandemi Covid19 berdampak terhadap penurunan kualitas hidup, khususnya kaum rentan. Survei internal Yayasan CARE Peduli (YCP) menunjukkan, kaum perempuan menjadi kelompok kaum rentan yang paling mengalami dampak negatif pandemi Covid19.

Bonaria Siahaan, CEO Yayasan CARE Peduli menyatakan, “Memasuki tahun kedua pandemi, kerja kemanusiaan kita justru terus bertambah. Gelombang demi gelombang Covid19 menghadang, sementara bencana alam dan risiko perubahan iklim terhadap kemiskinan dan ketahanan hidup tetap berdatangan. Secara umum, perempuan bernasib lebih buruk daripada lakilaki karena beban tanggung jawab yang meningkat dan berlipat ketika ada pembatasan mobilitas dan kebijakan tinggal di rumah (stay at home) diberlakukan.

Di samping pandemi, beragam bencana alam juga tetap terjadi akibat krisis perubahan iklim. Indonesia pun mengalami berbagai bencana alam sepanjang masa pandemi ini. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan pada JanuariJuli 2021 saja ada 1.638 kejadian bencana yang berdampak pada 5,6 juta orang. 499 orang wafat dan 69 hilang akibat banjir, kebakaran hutan dan lahan, longsor, angin puting beliung, maupun gempa. Adapun pada 2020 terjadi 4.650 bencana yang berdampak pada 6,8 juta jiwa, menghilangkan nyawa 418 orang, serta membawa kerugian material yang sangat besar.

Memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia pada 19 Agustus, YCP mengajak semua pihak sebagai warga negara untuk mengambil peran penting. Pertama, kita wajib melaksanakan protokol kesehatan ketat untuk menghindari penularan baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain, sehingga dapat menghindarkan terjadinya lonjakan kasus. Kedua, kita perlu lebih peka dan dapat membantu orang terdekat yang memerlukan, baik itu anggota keluarga maupun tetangga di lingkungan sekitar. Ketiga, kita dapat melawan misinformasi dengan membantu
memberikan informasi yang benar dan edukasi kepada masyarakat soal pandemi. Keempat, kita bisa memilih berdonasi baik secara langsung kepada yang membutuhkan atau melalui lembagalembaga sosial dan kemanusiaan.

Alissa Wahid, Direktur Nasional Gusdurian Network Indonesia (GNI), menyampaikan pemikirannya di selasela diskusi,Semangat kemanusiaan ada di hati, pikiran, dan dituangkan dalam aksi nyata kita bersama. Kesigapan, kecekatan, dan gotong royong memegang peran kunci dalam memperkuat efektivitas dukungan kita bagi masyarakat rentan di Indonesia. Kelompok perempuan rentan di bawah garis kemiskinan patut diberikan perhatian dan bantuan nyata yang dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik dan berkelanjutan. Dengan beban tanggungjawab yang berat dan berlipat di masa pandemi, keberhasilan kita dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan rentan dapat secara signifikan membantu juga meringankan kesulitan bagi seluruh anggota keluarganya. Sebesar itulah pengaruh perempuan bagi pasangan dan anakanaknya.”

“Pemerintah bekerja keras tanpa henti untuk menanggulangi bencana termasuk pandemi Covid19. Kunci utama penanganan bencana dan operasi tanggap darurat adalah kajian data yang lengkap dan akurat terkait kelompok rentan terdampak. Kami memberikan apresiasi kepada Yayasan CARE Peduli yang selama ini telah melakukan fokus respons kepada kelompok rentan terutama perempuan, dimana dalam kelompok ini juga termasuk ibu hamil, ibu menyusui, juga kelompok rentan balita, lansia dan penyandang disabilitas.” ungkap Nelwan Harahap, Asisten Deputi Kedaruratan dan Manajemen Pasca Bencana, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Yayasan Care Peduli telah mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan di tanah air, baik dalam penanganan bencana maupun Covid19. Selain penanganan bencana alam, sejak awal pandemi di tahun 2020, serangkaian kegiatan telah dilakukan untuk membantu masyarakat dan pemerintah daerah di Serang, Purwakarta, Sukabumi, Palu, Sigi, Donggala, Bone, Mamuju, dan Majene.

Pangarso Suryotomo, Plt. Direktur Kesiapsiagaan Kedeputian Pencegahan BNPB menyatakan, “BNPB mendukung dan menyambut baik atas segala daya dan upaya yang dilakukan Yayasan CARE Indonesia dalam ketangguhan membantu penanggulangan pandemi Covid19 dan bencana alam yang terjadi di Indonesia. Keselarasan dengan misi BNPB dalam aksi nyata yang dilakukan bagi kelompok rentan, ditunjang dengan keterlibatan dan keahlian dalam mitigasi risiko bencana, turut memperkuat efektivitas bangsa ini dalam mengatasi pandemi berkepanjangan.”

Merespon pandemi Covid19, dengan total penerima manfaat lebih dari 161 ribu orang di periode Maret 2020 hingga pertengahan 2021, terdapat lebih dari 50% diberikan kepada kelompok rentan perempuan, yaitu 80,962 orang, “Kami memiliki jaringan kuat hingga di tingkat akar rumput dalam mengimplementasikan programprogram kemanusiaan, terutama bagi kelompok perempuan rentan di seluruh wilayah Indonesia. Program yang kami jalankan mencakup program unggulan yang didukung oleh donatur individu maupun institusi,” jelas Bonaria.


Bentuk bantuan YCP untuk membantu program pemerintah antara lain : Program WASH yang menyediakan materi komunikasi risiko, fasilitas cuci tangan, masker, sabun tangan dan pembersih. Di Majene dan Mamuju paska gempa Palu, YCP membangun kamar mandi khusus ramah perempuan, anak, dan penyandang disabilitas yang berlokasi dekat dari tempat penampungan korban gempa. Program Menjamin Ketahanan Pangan yakni bantuan kepada kelompok rentan dalam bentuk voucher makanan, voucher tunai dan akses ke pertanian dan budidaya ikan air tawar. Ketiga, program Uang untuk Bekerja dan Mata Pencaharian Alternatif, dimana YCP memberikan bantuan kepada masyarakat desa melalui skema cashforwork yang berfokus pada pembangunan infrastruktur desa di NTT. Di Sukabumi dan Purwakarta, YCP  menyediakan modal, pelatihan dan uang tunai bagi pekerja garmen perempuan yang diPHK untuk membuat pola, memproduksi dan menjual masker ke Dinas Kesehatan Kabupaten setempat dan masyarakat.

Di Serang, YCP menyediakan tendatenda bertekanan negatif khusus bagi perempuan terpapar Covid19 yang sedang hamil dan untuk bersalin di Puskesmas, serta tempat dan kebutuhan isolasi mandiri berbasis masyarakat di desadesa yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan. Selain itu, dukungan diberikan dalam bentuk penyaluran paket alat pelindung khusus (APD), vitamin, susu, dan pembersih tangan bagi petugas kesehatan di Puskesmas, serta paket isolasi mandiri berbasis masyarakat utamanya bagi perempuan, lansia, serta anakanak di desadesa yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan.

Hari Kemanusiaan Sedunia menjadi momentum dan pengingat bagi kita semua bahwa dengan berbagai bencana di tengah pandemi yang menelan banyak korban dan melumpuhkan kehidupan manusia, tanggung jawab memelihara dan menumbuhkan kemanusiaan ada di pundak kita semua, baik secara kolektif maupun individual. Apalagi saat ini dunia memiliki tantangan terkait perubahan iklim yang berdampak pada kemiskinan, Yayasan CARE Peduli turut serta dalam aksi mitigasi risiko dan adaptasi atas perubahan iklim dalam solidaritas untuk masyarakat rentan yang paling membutuhkan.” tutup Bonaria.

 

 

 

WOW! Ini Manfaat Air Kelapa Untuk Hadapi Pandemi

GayaKeren.id – Kehadiran musim kemarau diiringi gelombang kedua virus corona (SARS-CoV-2) dengan berbagai varian baru yang masih mengancam kita menjadikan segala upaya menjaga sistem kekebalan tubuh kita menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Dr. Jenna Macciochi, ahli imunologi dan penulis Immunity: The Science of Staying Well menulis bahwa sistem kekebalan tubuh kita adalah garis pertahanan pertama melawan infeksi dan penyakit. “Meskipun secara ilmiah tidak ada cara untuk meningkatkan kekebalan Anda, ada perubahan gaya hidup tertentu yang dapat Anda terapkan untuk menjaga keseimbangan sistem kekebalan tubuh—yang dapat merespons infeksi dengan tepat dan menyembuhkan serta memperbaiki kerusakan yang mungkin terjadi dalam prosesnya,” tulis Dr. Jenna Macciochi.

Salah satu alternatif gaya hidup yang semakin disukai masyarakat salah satunya adalah dengan mengonsumsi air kelapa. Sebagai minuman yang telah dikonsumsi sejak dahulu kala di Indonesia, air kelapa memang memiliki cita rasa yang enak, menyegarkan dan ternyata juga memiliki beberapa khasiat. Selain itu, air kelapa ternyata juga memiliki kandungan beberapa nutrisi penting, termasuk mineral yang seringkali tidak cukup dikonsumsi kebanyakan orang.

Prof. Dr. dr. Purwantyastuti, MSc, SpFK, pakar farmakologi dari Universitas Indonesia menjelaskan khasiat utama air kelapa adalah mengatasi dehidrasi atau kekurangan cairan di dalam tubuh. “Tubuh yang kekurangan cairan dengan sendirinya menjadi tidak sehat. Kekurangan cairan otomatis akan menimbulkan masalah pada reaksi-reaksi kimia di semua sistem tubuh, termasuk sistem imun. Rasanya yang lezat dan menyegarkan, membuat air kelapa mudah diminum orang yang sedang sakit, otomatis cairan tubuhnya kembali dan mendorong pemulihannya. Hal ini mungkin yang menyebabkan orang menghubungkan air kelapa dengan kekebalan tubuh,” ungkap Prof. Tuti.

Di dalam tubuh, air kelapa dan cairan tubuh lainnya menjadi bagian dari darah yang berfungsi membawa oksigen ke sel-sel tubuh, yang diperlukan sistem kekebalan dan sistem-sistem lainnya di dalam tubuh agar berfungsi dengan baik. Selain itu, cairan yang cukup di dalam tubuh juga diperlukan agar sistem dalam tubuh dapat bekerja dengan baik dalam menghilangkan racun dari tubuh, jadi minum lebih banyak dapat membantu mencegah racun yang menumpuk dan berdampak negatif pada sistem tubuh termasuk sistem imun. Jika kita mengalami dehidrasi, seluruh sistem tubuh akan terganggu. Konsumsi cairan yang cukup dan tepat, termasuk air kelapa, bersama dengan nutrisi dan tidur yang cukup, merupakan komponen penting yang diperlukan oleh sistem kekebalan tubuh yang sehat.

“Hal ini juga yang dipraktikkan di pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional itu di setiap tempat dan di setiap negara penggunaannya mungkin berbeda-beda. Namun di beberapa tempat di Indonesia, yang saya tahu, ada kepercayaan untuk minum air kelapa pada saat diare. Praktik ini bisa tepat bila tujuannya memang mengganti cairan yang hilang. Lalu ada juga yang mengonsumsinya saat demam. Untuk apa? Salah satu cara menurunkan demam adalah rehidrasi atau mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Jangan sampai orang demam berada dalam kondisi dehidrasi, karena dehidrasi sendiri akan memperparah demam. Jadi berdasarkan local wisdom, ternyata air kelapa digunakan manfaatnya untuk mengatasi dehidrasi,” papar Prof. Tuti.

Masih terkait dengan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan cairan. Air kelapa merupakan minuman yang baik untuk memulihkan hidrasi dan mengisi kembali elektrolit yang hilang selama berolahraga. Elektrolit adalah mineral yang memainkan beberapa peran penting dalam tubuh Anda, termasuk menjaga keseimbangan cairan yang tepat. Beberapa elektrolit vital termasuk kalium, magnesium, natrium, dan kalsium yang semuanya merupakan kandungan air kelapa. Beberapa penelitian lainnya menemukan bahwa air kelapa mungkin lebih bermanfaat daripada minuman berenergi untuk mendapatkan cairan kembali setelah berolahraga.

Selain manis dan menghidrasi secara alami, air kelapa juga bisa melengkapi asupan beberapa nutrisi penting, termasuk mineral yang seringkali tidak dikonsumsi dalam kadar yang cukup. 5% dari kandungan air kelapa merupakan sumber alami dari beberapa mineral penting.

Air kelapa isinya tentu tidak sama antara satu butir dengan lainnya, tetapi rata-rata isinya dapat diperkirakan sekitar 100 cc. Untuk per gelas 200 cc, umumnya kandungannya berisi karbohidrat sekitar 7.5 gram/gelas, sedikit protein yaitu sekitar 1.5 – 2  gram/gelas dan sedikit lemak hanya 0.5 gram/gelas. Jumlah kandungan energinya 20-30 Kcal/100 cc atau 40-60 Kcal/gelas.

“Selebihnya terdapat kandungan mineral alami berupa Kalium dengan kadar 5-13% dari kebutuhan perhari (Daily Value = DV) per gelas, Natrium dengan kadar 7-11% DV per gelas, Magnesium 7-14% DV per gelas, Mangan 7% DV per gelas, Calcium dengan kadar 2-4% DV per gelas, lalu Selenium dan Zinc masing-masing kadarnya sekitar 1% DV per gelas. Selain itu, kadar Vitamin C sekitar 3% DV dan Vit B sekitar 1%- 5% DV. Persentase Daily Value (DV) adalah persentase jumlah nutrisi per ukuran saji (misal per gelas) jika dibandingkan dengan kebutuhan seseorang dalam sehari,” ungkap Prof. Tuti.

Air kelapa alami memiliki cita rasa sedikit manis yang halus dan menyegarkan. Ini juga cukup rendah kalori dan karbohidrat memang segar jika diminum langsung dari buahnya. Namun, jika tidak dapat mengisi lemari es dengan kelapa segar, kita bisa juga mengonsumsi air kelapa dalam kemasan. Pastikan untuk membaca bahan-bahannya untuk memverifikasi bahwa Anda mendapatkan air kelapa asli dan tidak mengandung tambahan gula atau bahan pengawet.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara mengonsumsi air kelapa dengan tepat?

“Sebenarnya tidak ada cara meminum secara khusus, tetapi mesti diingat bahwa meskipun berfungsi mengatasi dehidrasi, sebaiknya jangan sampai air kelapa digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan air dalam sehari (8-10 gelas). Jika diminum tiap hari sebaiknya dibatasi secukupnya saja, misal satu-dua gelas, karena kandungan Kalium dapat menjadi masalah bila total Kalium di dalam tubuh kadarnya terlalu tinggi, karena zat ini akan didapat juga dari makanan. Kalium yang terlalu tinggi dapat mengganggu fungsi jantung. Namun jangan khawatir, selama diminum tidak berlebihan, air kelapa tidak akan menimbulkan masalah kesehatan,” ungkap Prof. Tuti lagi.

Fitur Telekonsultasi Dokter Pribadi Alodokter Siap Dampingi Pasien COVID-19

GayaKeren.id Keputusan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah yang telah berlangsung hingga kini, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi penurunan kasus COVID-19 di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, masyarakat dihimbau agar tidak lengah dan tetap taat mengikuti regulasi pemerintah untuk sementara waktu membatasi kegiatan di luar rumah demi menghentikan penyebaran virus corona. Untuk merealisasikan program ini, tentu bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja, namun diperlukan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak untuk saling bersinergi dalam mempercepat penyelesaian pandemi di Indonesia.

Alodokter, sebagai platform layanan kesehatan digital dengan lebih dari 30 juta pengguna, turut berupaya untuk terus meningkatkan pelayanannya terutama di masa sulit seperti ini. Sebagai bentuk kepedulian terhadap pasien COVID-19 dan keluarga yang terdampak, Alodokter menyediakan layanan kesehatan berupa pendampingan dokter pribadi yang telah hadir sejak Mei 2020 lalu. Melalui layanan ini, pasien positif yang menjalani isolasi mandiri dirumah, akan dengan mudah mendapatkan bantuan telekonsultasi dan pengobatan. Dokter yang ditunjuk akan membimbing dan mendukung pemulihan kesehatan pasien secara digital melalui aplikasi.

Terdapat lebih dari 30.000 pasien COVID-19 yang telah memanfaatkan layanan dokter pribadi Alodokter. Saat ini ada 1000 pasien baru setiap harinya yang terdaftar. Selain dokter pribadi, pasien yang terdaftar dalam program KEMENKES berhak mendapatkan paket obat isoman gratis. Diluar itu apabila dibutuhkan, pasien dapat mengakses layanan berbayar berupa konsultasi dengan dokter spesialis yang tersedia 24 jam serta dapat melakukan proses booking tes COVID-19 langsung dari aplikasi Alodokter.

Suci Arumsari selaku Co-Founder dan Director ALODOKTER mengatakan “Kami menyadari betapa sulitnya masyarakat yang terdampak COVID-19 dalam menjalani masa isolasi secara mandiri dirumah, sehingga kami ingin memberikan dukungan untuk membantu pemulihan mereka baik secara fisik dan psikis. Kami juga siap untuk mendukung Kemenkes dalam menyediakan fasilitas layanan kesehatan yang dapat memberikan solusi pengobatan bagi masyarakat. Besar harapan kami program layanan pendampingan dokter pribadi dapat membantu masyarakat untuk melewati masa sulit ini.”

Inisiasi Alodokter dalam memberikan pendampingan dokter pribadi bagi pasien COVID-19 ini memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Salah satunya Ibu Marilyn Purba dan keluarga yang merasakan dampaknya ketika terpapar COVID-19 dan harus menjalani isolasi mandiri dirumah. “Awalnya saya panik ketika hasil tes swab saya dan keluarga positif, dan kami juga sempat kesusahan untuk mencari tempat karantina karena semuanya sudah penuh. Setelah mendapat informasi mengenai program telekonsultasi dokter pribadi dari Alodokter, saya langsung menggunakannya dan merasa sangat terbantu dengan kehadiran dokter yang cepat dan jelas dalam memberikan bimbingan dan pendampingan yang saya butuhkan.”

Danu Darsono seorang karyawan swasta di Jakarta menceritakan pengalamannya dalam menggunakan dokter pribadi. “Ketika saya dan keluarga melakukan test PCR, saya satu-satunya orang dengan hasil tes positif, sementara anggota keluarga saya yang lain negatif. Pada saat itu saya merasa panik dan bingung serta tidak tahu apa yang harus saya lakukan karena saya harus menjalani isoman di rumah yang didalamnya terdapat anggota keluarga lain. Melalui informasi dari teman, saya menggunakan Alodokter untuk mendapatkan telekonsultasi dengan dokter pribadi. Selama isolasi mandiri saya sangat merasa terbantu dengan fitur aplikasi yang mudah diakses dan dokter yang proaktif dalam menjawab pertanyaan saya tentang apa yang harus saya lakukan.

Pasien COVID-19 dapat mengakses platform melalui link registrasi berikut: https://get.alodokter.com/dokter-pribadi-gratis. Program ini memiliki sistem keamanan privasi dengan manajemen terbaik yang dikembangkan oleh Alodokter sehingga pasien tidak perlu khawatir terkait kerahasiaan riwayat kesehatan mereka. Selain itu fitur ini juga memungkinkan dokter untuk terus memantau perkembangan terkini dari kondisi pasien secara berkelanjutan.