IFC Chapter Malang Dan Bank Indonesia Gelar Malang Fashion Week Untuk Ke-3 Kalinya

GayaKeren.id – Malang Fashion Week diadakan untuk yang ketiga kalinya selama 3 hari, 6-8 November 2020, dikota Malang. Seperti  tahun-tahun sebelumnya, Malang Fashion Week tahun ini pun diselenggarakan secara langsung dengan sangat megah dan spectakuler, walau pun dilakukan secara virtual dengan penggunaan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Malang Fashion Week 2020   mengambil tema “Enigmatic” yang member makna ” sulit dimengerti” dan “sebuah Ketidakpastian” ini  merupakan kerjasama pemerintah dan lembanga swasta yang bertujuan memajukan industri Fashion di Kota Malang pada Khususnya serta Indonesia pada umumnya. Dan untuk mempertahankan dan menguatkan predikat kota Malang sebagai kota kreatif di Indonesia yang berstandar global, serta sebagai wahana bersama bagi para pelaku industri kreatif khususnya kolaborasi antara desainer, dengan pengrajin/UMKM, antara desainer muda dengan desainer senior, juga antara desainer lokal dengan desainer nasional maupun Internasional, dalam mendesain dan membuat karya-karya yang luar biasa.

Malang fashion week yang tidak hanya menampilkan presentasi karya dalam bentuk fashion show, tapi juga  menyelenggarakan Webinar Nasional *”Fashion in New Normal era”,  Live IG Fashion Talk dengan desainer inspiratif, Lomba Fashion Illustration, dan Lomba Face Icon.

Diikuti oleh 51 Designers desainer Lokal dan nasional, bahkan desainer Internasional, satu desainer dari Kuala Lumpur Malaysia dan satu Desainer dari Perth Australia. Juga menampilkan 3 Guest Designers yaitu : Ali Charisma  dari Bali; Gregorius Vici dari Semarang; dan Azlan dari  Kuala Lumpur, Malaysia.

Untuk webinar nasional tentang Fashion di Era New Normal,  menghadirkan 3 guest  Speakers yaitu, Andien yang sudah memulai bisnisnya pada bidang fashion, Ane Avantie dan Ali Charisma yang keduanya merupakan Desainer top Indonesia.

Tema Malang Fashion Week kali ini adalah,

“Enigmatic” istilah yang memberi makna ” sulit dimengerti dan “sebuah Ketidakpastian”, dimana makna itu memberi semangat kepada kita untuk terus bertahan dan bangkit  dengan menerapkan prinsip prinsip sustainability agar bisa mempertahankan kelangsungan hidup kita. Tema ini dipilih dan disesuaikan untuk merespon kondisi dunia yang sedang dilanda pandemic COvid-19. Diharapkan para desainer tetap mampu beradaptasi melalui karya-karya yang dihasilkan.

Surabaya Fashion Parade 2020, Viable

GayaKeren.id – Surabaya Fashion Parade (SFP) yang belum lama selesai digelar secara virtual di Surabaya,  7-8 November 2020, merupakan gelaran yang ke-13 kalinya. Di tahun ini, SFP memilih tema Viable yang diambil dari Bahasa Inggris berarti ‘mampu untuk bertahan hidup dalam kondisi tertentu’. Dengan menitikberatkan pada konsep sustainability, arah industri fashion kini bergeser dan sedang mengalami perubahan. Berangkat dari pemanfaatan teknologi yang dinamis ditambah kesadaran industri fashion terhadap green fashion, maka SFP 2020 mengangkat isu ini agar dapat menjadi bagian dalam mengkampanyekan sustainable fashion secara optimal.

Dengan mengangkat tema sustainable fashion, maka dampak buruk dalam produksi fashion dapat ditekan sehingga orang-orang yang terlibat didalamnya dapat menciptakan inovasi-inovasi yang ramah lingkungan. Menghadapi tahun 2020 yang penuh tantangan berupa pandemi Covid-19, kami berkomitmen tetap menyelenggarakan SFP meskipun dengan konsep yang berbeda dan penerapan new normal yang terstandardisasi. Event yang sedianya diadakan tanggal 16-19 April 2020 mundur ke tanggal 7-8 November 2020 dengan ide baru menjadi event virtual fashion parade pertama di Surabaya melalui live streaming Youtube Channel “Surabaya Fashion Parade”.

Perubahan konsep acara ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi tim SFP karena perubahan konsep acara, partisipan, dan kompetisi yang diadakan. Dengan memberikan kesempatan untuk desainer tetap berkarya di tengah pandemi, kami percaya SFP tahun ini akan membawa pengalaman baru bagi industri fashion Surabaya dan semua yang terlibat didalamnya.

Beberapa desainer yang bergabung antara lain: Deden Siswanto, Alben Ayub Andal, Aldre, Dibya, dan beberapa desainer lain yang tergabung dalam IFC Surabaya. Sementara itu untuk kompetisi yang digelar antara lain Surabaya Model Search 2020 dan Surabaya Fashion Designer Award 2020.

 

Fashion Muslim dan Sustainable Fashion Konsisten Hingga Penutupan Modest Fashion ISEF 2020

GayaKeren.id – Perhelatan Modest Fashion ISEF 2020 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC) sebagai rangkaian kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang berlangsung sejak tanggal 28 Oktober 2020 telah memasuki hari terakhir penyelenggaraan.

Untuk memperkenalkan dan menggaungkan produk fesyen muslim Indonesia ke skala global, dalam ajang Modest Fashion ISEF 2020 digelar Virtual Fashion Show yang menampilkan 720 karya dari 164 desainer/brand fesyen muslim Indonesia. Sesuai tema yang diangkat, “Sustainable Fashion, Sustainable Lifestyle”, perhelatan Modest Fashion ISEF 2020 menggaungkan tentang gaya hidup berkelanjutan bagi produsen maupun konsumen fesyen muslim.

Pemanfaatan konten lokal seperti kain tradisional yang dibuat oleh para perajin kain menggunakan bahan ramah lingkungan dan perwarna alam merupakan penerapan konsep sustainable yang banyak dilakukan oleh kreator fesyen muslim dalam membuat karya yang ditampilkan dalam perhelatan ini. Ragam corak yang khas dari kain Nusantara membuat produk fesyen muslim Indonesia memiliki identitas yang berbeda dengan negara lain.

“Sustainable fashion, sustainable lifestyle bukan hanya sekadar tema yang diusung dalam Modest Fashion ISEF 2020. Tapi diharapkan ini menjadi ruh dan semangat bagi pelaku fesyen umumnya dan fesyen muslim khususnya. Karena ini menjawab tantangan dunia masa depan yang InsyaAllah menjadikan kita aman, nyaman, dan bisa berusaha dengan barokah. Dengan semangat dan ruh itu diharapkan secara bisnis dan kreativitas kita bisa menjadi terdepan yang dapat menjadi pusat fesyen muslim dunia yang implikasinya meningkatkan perekonomian Indonesia dan mensejahterakan rakyatnya,” jelas Jetty R Hadi, Vice Chairman of Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC).

Sejak hari pertama sampai hari terakhir ini, Virtual Fashion Show Modest Fashion ISEF 2020 menampilkan ragam gaya busana fesyen muslim, mulai dari syar’i, formal hingga kasual, etnik kontemporer hingga urban dan edgy look dengan memperhatikan konsep sustainable fashion dan mengacu pada Trend Forecasting 2021/2022.

Sebagai pembuka rangkaian Virtual Fashion Show pada hari terakhir ini menampilkan koleksi dari Reborn29 by Syukriah Rusydi, NIKHOL By Nike Kholisoh, Batik Jambi Berkah by Rifdatul Khoiro Accesories by Yannie Handicraft, Agung Bali Collection by Agung Indra dan Fashion Designer by Dibya Hody, AxY by Aldre x Yuliana, Flochic by Eka Rahma Dewi, Sekar Arum Sari by Mia Ridwan, Abee X Naara, Jeny Tjahyawati, Puta Dino Kayangan by Anita Gathmir, dan Syahira Butik by Andriani Pettalolo.

Sesi kedua Virtual Fashion Show menampilkan koleksi dari Elva Fauqo, LDR Limited by Listya X Bags by KABETA by Berkah Novita, Ida Royani : Ulos Sadum Sumut, Titien Soedarsa, Lirik by Iva Lativah, DewiQu by Dewi Roesdji, Sheenaz by Anggie Rachmat, deceusuzan, Yuliana Fitri X Bags by Amyrose De Craft by Tammy, Frida Jelita by Fridanasahida, Batik Kito by Vita Shah, dan Batik Zakia by Siti Zakiyatun.

Dalam Closing Ceremony Modest Fashion ISEF 2020, sebagai penutup ditampilkan Virtual Fashion Show yang mempersembahkan karya dari KALU, Hijab Cinta by Nina Kartarineka X Accesories Beadstown by Rosita, Malam Batik by Theresa Naumi, Lia Mustafa  | Shoes by  Bocorocco, H.Y.S by Hilda Amalia, “C H A R V I” by Febby AntiQue, Bellahasura, Reborn by Chaera Lee, Sanet Sabintang, Creative Batik by Khaleili Nungki, Elly Virgo, CYA by Cahya Tyanthi, dan APIKMEN.

Meski di tengah pandemi Covid-19, namun tidak menyurutkan semangat bersama untuk menyelenggarakan kegiatan Modest Fashion ISEF 2020. “Penyelenggaraan secara virtual ini ternyata membawa berkah tersendiri, yaitu memperluas jangkauan informasi terkait fashion muslim. Jika sebelumnya fokus kegiatan terpusat di Jakarta dengan jumlah peserta terbatas, maka melalui penyelenggaraan virtual ini bisa menjangkau peserta domestik maupun internasional secara lebih luas dan efisien. Seluruh rangkaian kegiatan ini dilakukan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi syariah sektor fesyen muslim yang merupakan salah satu sektor prioritas dalam ekosistem halal value chain. Di samping itu, diharapkan kegiatan ini turut mendorong pemulihan ekonomi terutama bagi sektor UMKM yang terkena dampak ekonomi dari pandemi Covid-19,” papar Diana Yumanita, Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia dalam sambutan yang secara resmi menutup perhelatan Modest Fashion ISEF 2020.

Lebih lanjut, Diana Yumanita memaparkan bahwa potensi pasar fesyen muslim masih terbuka lebar. Namun kompetisi lokal maupun global juga semakin ketat. Oleh karena itu, pelaku fesyen muslim Indonesia harus mampu adaptif menghadapi perubahan, berkreativitas dan berinovasi, meningkatkan produktivitas serta memperkuat brand sehingga mampu memenangkan pasar lokal maupun global. Tantangan ke depan semakin tidak mudah. Para retailer dan brand global mulai terjun menggarap pasar fesyen muslim. Untuk itu, para pelaku industri fesyen tanah air harus mampu meningkatkan kapasitas untuk berkompetisi di panggung global. Sampai jumpa di Modest Fashion ISEF 2021.

Dukung Indonesia Menjadi Pusat Industri Halal Global, Modest Fashion ISEF 2020 Mengakselerasi 325 Pelaku Usaha Fesyen Muslim Indonesia

GayaKeren.id – Dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan. Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, harus menangkap peluang ini dengan mendorong akselerasi percepatan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional sebagai bagian dari transformasi menuju Indonesia maju, dan upaya menjadikan Indonesia sebagai pusat rujukan ekonomi syariah global.

Perhelatan ISEF 2020 menyertakan pelaku usaha syariah di berbagai sektor halal untuk mendukung pengembangan ekosistem industri halal tanah air. Fesyen muslim dinilai sebagai salah satu sektor halal unggulan untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal global. Sejalan dengan target yang dicanangkan oleh Pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia.

Modest Fashion ISEF 2020 dengan tema “Sustainable Fashion, Sustainable Lifestyle” menghadirkan 720 look karya 164 desainer/brand dalam 12 sesi Virtual Fashion Show. Di hari ketiga perhelatan ini kembali menggelar Virtual Fashion Show yang menampilkan koleksi dengan memperhatikan konsep sustainable fashion dan mengacu pada Trend Forecasting 2021/2022 dengan tema “The New Beginning” tentang perubahan pola hidup menghadapi era baru.

Potensi pasar halal diperkirakan terus bertumbuh sampai $3,1 miliar di tahun 2023. Jumlah penduduk muslim dunia mencapai 1,8 miliar atau 24% dari populasi global. Sementara ekspor produk halal Indonesia hanya 3,8% dari total pasar halal dunia. Padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar. Untuk itulah, diperlukan ISEF sebagai ruang kolaborasi yang sinergis di antara pelaku usaha fesyen muslim dan berbagai pihak terkait guna mengakselerasi usaha para UMKM agar dapat berkembang pesat.

Pengusaha Sandiaga Uno yang berkesempatan menghadiri Virtual Fashion Show Modest Fashion ISEF 2020 menyampaikan apresiasi, “Di tengah pandemi dan melambatnya ekonomi, Modest Fashion ISEF menjadi suatu solusi kreatif dan ide yang cemerlang. Konsep kolaborasi yang sustainable dan berkelanjutan adalah yang saling memberdayakan, sehingga para UMKM bisa menjadi rantai nilai halal di setiap usaha-usaha besar. Inilah kesempatan UMKM untuk berkolaborasi dengan ISEF dan pihak pemangku kepentingan, karena pasar domestik kita sangat besar. Dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 270 juta, sekitar 87,18 % adalah penduduk muslim yang haus akan produk yang betul-betul berkualitas.”

 

Modest Fashion ISEF 2020 Peduli Akan Fesyen Yang Etis & Berkelanjutan

GayaKeren.id – Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kepedulian terhadap fesyen etis dan berkelanjutan yang tengah menjadi perhatian global, perhelatan Modest Fashion ISEF 2020 kembali mengusung konsep sustainable fashion seperti tahun sebelumnya. Tema “Sustainable Fashion, Sustainable Lifestyle” diangkat sebagai suatu gerakan dan pesan yang kuat dalam penyelenggaraan Modest Fashion ISEF 2020.

Konsep sustainable fashion menjadi perhatian penting bagi 164 desainer/brand fesyen muslim Indonesia dalam membuat koleksi busana dengan total 720 look yang ditampilkan dalam acara Virtual Fashion Show Modest Fashion ISEF 2020. Konsep sustainable fashion bukan sebatas produk fesyen, namun terkait dengan sustainable lifestyle, yaitu gaya hidup berkelanjutan yang mengacu pada tiga prinsip dasar sustainable: sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Fesyen etis dan berkelanjutan memperhatikan seluruh rantai pasokan dan siklus garmen, meliputi sumber, proses produksi, hingga etika kerja, kesejahteraan tenaga kerja, dan pengelolaan limbah lingkungan. Di Indonesia, fesyen etis sebenarnya sudah lama dipraktekkan oleh para perajin kain Nusantara dengan penggunaan pewarna alam. Kearifan lokal dapat dioptimalkan untuk mengembangkan fesyen etis khas Indonesia yang potensial untuk menarik perhatian pasar global.

Virtual Fashion Show yang digelar pada hari kedua kembali menampilkan koleksi yang menerapkan konsep sustainable fashion dengan menggunakan konten atau sumber daya lokal seperti kain Nusantara, serta pewarnaan alam dan prinsip daur ulang. Seperti koleksi yang ditampilkan pada sesi pembuka rangkaian Virtual Fashion Show pada hari kedua, yaitu My Daily Hijab, ALULA by Aulia Hijri dan sunglasses by wd eyewear, Astri Lestari, Risa Maharani, Jenna & Kaia, Rosie Rahmadi, Get-A by Cut Putri Kausaria X Rorokenes by Syanaz Nadya, QNANZ by Lia Dahlia, Haitwo by Temmi Wahyuni, SHAJNA by Lania Rakhmawati, Iqleem, Eienno by Winarni Widjaja, La Linda Boutique Linda Purnama.

Sesi kedua Virtual Fashion Show menghadirkan parade karya dari ADHY|ALIE Supported by KPw BI Provinsi Sulawesi Selatan, Deeje by Dewi Deeje, Roemah Djoempoetan Srihadi, Aninda Nazmi, House of Distraw by Dini Wiradisastra, RAEGITAZORO, Muthis collections by Midio Sri Dewi, Hannie Hananto, BOLDSESSION by erikaardianto dan accessories by arrajewelry, Pokant Takaq by Novi, dan SANTOON by Pricilla Margie.

Sebagai penutup Virtual Fashion Show pada hari kedua menghadirkan karya dari Hanifa Ramadhanti for MAHESTRI  X Pyo Jewelry – Luthfia Fataty, Lanny Amborowati X  Geulis Leather by Petty Widyanti, LAWE by Adinindyah X  TZEZA by Sami Nainggolan, Vonna Nunucolla by Rahmi Fonna, Defika Hanum | Shoes by UJ Yuna, house of reika by rikareika, L.tru, AZZAR by Sophistix  X  Daun Agel by Faiqotul Himmah, dan eugeneffectes.

“Dalam upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, kita tetap memegang teguh pada nilai-nilai ekonomi syariah yang tentu saja relevan dengan Sustainable Development Goals. Fesyen etis dan berkelanjutan harus menjadi perhatian bersama untuk memastikan tidak adanya dampak bahaya terhadap lingkungan dan menghargai sumber daya manusia untuk kesejahteraan masyarakat jangka panjang. Mari bersama-sama kita menjadi konsumen yang bijak dan produsen yang bertanggung jawab,” papar Diana Yumanita, Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia dalam Fashion Talk Sustainable Fashion sebelum memulai sesi penutup Virtual Fashion Show Modest Fashion ISEF 2020 pada hari kedua.

Dari Arena Catwalk Hari Pertama Modest Fashion ISEF 2020

GayaKeren.id – Pembukaan perhelatan Modest Fashion ISEF 2020 yang digelar secara virtual dengan dihadiri lebih dari 200 orang, pada Rabu (28/10), dengan dihadiri perwakilan Bank Indonesia dari beberapa daerah kerja di Indonesia. Modest Fashion ISEF sendiri menjadi bagian dari kegiatan ISEF yang rutin dilakukan sejak tujuh tahun yang lalu, dengan tujuan mendukung pengembangan ekosistem halal value chain, di mana fesyen muslim merupakan salah satu sektor prioritas di dalamnya.

Event yang dibuka oleh Deputy Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi, ini ditutup dengan peragaan busana. Peragaan busana yang baru pertama kali dilakukan secara virtual live ini, menampilkan koleksi-koleksi sederet nama disainer Indonesia, seperti:

Deden Siswanto, Seeing The Light menjadi tema rancangannya kali ini. Terinspirasi dari cahaya yang mewakili harapan dan kesempatan baru ditengah pandemi. Menggunakan material berupa kain lagosi dari Sulawesi, katun dan tile dengan pemilihan warna cerah seperti merah muda, navy dan soft blue. Diproduksi dalam 6 look dengan style urban dinamis, dan pilihan siluet yang trapesium.

Sementara itu untuk konsep disainnya sendiri, Deden memilih konsep oversizing, patch work dan quilting.

 

INTERIM Clothing by. Dibya Hody dengan karyanya bertema NUSA. NUSA merupakan representasi perubahan yang sangat besar saat menghadapi pandemi ini. Ditengah ketidakpastian dan hilangnya beberapa kesempatan yang dulu ada, dipaksa berpikir dan merenungkan kehidupan selama ini.

Dengan konsep desain bersiluet Asia, Oversizing dengan perpaduan baru yang lebih modern dari sisi penampilan tetapi tetap menggunakan kain tradisional Indonesia yang diolah kembali menjadi busana siap pakai untuk wanita modern Indonesia, yang mandiri, tangguh dan tetap menghargai budaya Indonesia sebagai akar dari harmonisasi kehidupan. Bekerjasama dengan Agung Bali dan Bank Indonesia, bersama melalui koleksi kali ini berusaha membangkitkan harmonisasi dan penghargaan terhadap tradisi yang mungkin sudah ditinggalkan di jaman yang serba cepat dan modern saat ini.

Itang Yunaz Percampuran etnik dan gaya bohemian serta motif dari batik Jambi binaan UMKM Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jambi. Warna merah bata dan hitam yang mendominasi menjadi koleksi Itang Yunasz ready to wear.

Itang Yunasz mempresentasikan 6 koleksinya dengan shilhoutte besar (over size) dan detail kerut serta tangan berbentuk lampion, Dua set tunik dan celana serta dress simpul dengan ornamen tussle yang juga ada di sepatu platform by Nefrin Fadlan dan Bag by Wulan Gandanegara dengan bahan yg sama menambah gaya koleksi ini.

Irna Mutiara koleksi dari kain tradisional Tenun dari daerah di Sulawesi Tenggara, yaitu kain Masa lili dan Wakatobi. Karena proses menenunnya dengan alat tradisional gedogan, sehelai demi sehelai benang, Irna berusaha tidak menyisakan kain perca ketika memproses pembuatannya menjadi sehelai gaun. Jadilah desain dengan konsep zero waste yang selaras dengan konsep tema besar ISEF kali ini; Sustainable Fashion, SustainableLifestyle.

Tentunya desain ini sangat mudah di styling menjadi berbagai macam gaya dan padu padan. Sehingga bisa dikenakan dalam kesempatan kasual mau pun formal.

Neera Alatas. Untuk tema/judul yang diusung adalah “Swarnadwipa” yaitu dalam bahasa Sansekerta Swarnadwipa adalah Pulau Sumatera. Lampung adalah sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera yang memiliki cukup banyak kandungan emas, sehingga mempengaruhi budaya masyarakat khususnya cara pembuatan dan motif kain tradisional Lampung.

Kain tapis merupakan kain etnik suku Lampung yang terbuat dari tenunan benang kapas yang dihias dengan sulaman benang emas atau benang perak yang menjadi simbol kemapanan status sosial, kemewahan dan kemakmuran masyarakat Lampung. Dahulu kain Tapis dipakai oleh kalangan elite suku asli Lampung dari kalangan keluarga pemimpin adat atau pemimpin suku pada upacara adat, kain Tapis memiliki makna dan nilai yang tinggi, sehingga dijadikan persembahan atau hadiah dari raja-raja kepada penguasa.

Warna yang dipadukan adalah warna-warna Bold seperti hitam, emas, biru, krem dan hijau dengan sentuhanan benang berwarna emas dan silver. Bahan yang digunakan yaitu kain tapis, kain tenun, tulle, organza dan lace. Meskipun warna yang digunakan bold namun tetap sesuai dengan Brand DNA Neera Alatas. Detail yang digunakan adalah bebatuan payet mutiara dan swarovski Siluet yang diambil adalah siluet A-line, siluet X dan siluet Y.

 

 

 

 

 

 

Hadirkan 720 Look, Modest Fashion ISEF Digelar Selama 4 Hari

GayaKeren.id – Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) merupakan event tahunan ekonomi dan keuangan syariah terbesar di Indonesia. Penyelenggaraan ISEF merupakan wujud nyata konsistensi upaya Bank Indonesia, KNEKS, dan seluruh kementerian/instansi/lembaga/asosiasi terkait dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah (EKSyar) nasional.

Berbeda dari penyelenggaraan ISEF ditahun-tahun sebelumnya, digelarannya yang ke-7 ini ISEF 2020 diselenggarakan, untuk pertama kalinya dengan konsep virtual platform. Mengangkat tema “Mutual Empowerment in Accelerating Sharia Economic Growth through Promoting Halal Industries for Global Prosperity”, ISEF 2020 akan menjadi kegiatan ekonomi syariah internasional secara virtual pertama yang mengintegrasikan seluruh komponen penggerak EKSyar.

ISEF 2020 kembali menyertakan pelaku usaha syariah untuk mendukung pengembangan ekosistem halal value chain, di mana fesyen muslim merupakan salah satu sektor prioritas di dalamnya. Dengan menggandeng Bank Indonesia, Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC) kembali menyelenggarakan Modest Fashion ISEF sebagai rangkaian kegiatan ISEF 2020 yang digelar pada tanggal 28-31 Oktober 2020. Perhelatan Modest Fashion ISEF 2020 yang mengusung tema “Sustainable Fashion, Sustainable Lifestyle”, secara resmi dibuka oleh Rosmaya Hadi, Deputi Gubernur Bank Indonesia, pada hari ini, tanggal 28 Oktober 2020.

Dalam sambutannya, Rosmaya Hadi memaparkan, “Industri fesyen muslim memiliki peluang yang sangat besar baik di pasar domestik maupun internasional. Bahkan negara non muslim turut mengincar pasar ini, brand global pun tertarik pada fashion muslim. Meski prospek demand ini cukup tinggi, namun kita melihat tantangan ke depan tidak mudah. Dalam berkompetisi, pelaku industri fesyen muslim di tanah air harus semakin kreatif, inovatif, serta cepat menangkap perubahan yang terjadi di era new normal dan digital ini. Namun kami sangat yakini pelaku industri fesyen muslim Indonesia mampu sukses berkompetisi di panggung global dengan bermodalkan kreativitas, inovasi, dan karakterisik lokal yang menjadi corak unik produk fesyen muslim Indonesia.”

Selama empat hari penyelenggaraan Modest Fashion ISEF 2020 akan menghadirkan 12 sesi virtual fashion show, 164 desainer/brand, 720 look, dan 180 model. Dengan mengangkat tema “Sustainable Fashion, Sustainable Lifestyle”  sebagai suatu gerakan dan pesan yang kuat dalam penyelenggaraan Modest Fashion ISEF 2020. Selain itu, koleksi yang ditampilkan mengaplikasikan Trend Forecasting 2021/2022 dengan tema “The New Beginning” tentang perubahan pola hidup menghadapi era baru. Rangkaian Virtual Fashion Show Modest Fashion ISEF 2020 diawali dengan parade koleksi yang ditampilkan dalam Opening Ceremony.

“Konsep sustainable fashion bukan sebatas produk fesyen, namun terkait dengan sustainable lifestyle, yaitu gaya hidup berkelanjutan yang mengacu pada tiga prinsip dasar sustainable: sosial, ekonomi, dan lingkungan. Modest Fashion ISEF 2020 mengajak para partisipan, baik produsen maupun konsumen untuk semakin peduli dalam menjalani gaya hidup berkelanjutan dengan memperhatikan keberlangsungan kehidupan masyarakat, keselarasan lingkungan, dan kesejahteraan bersama,” papar Ali Charisma, National Chairman Indonesian Fashion Chamber.

Kegiatan virtual fashion show akan dilengkapi pula dengan business matching yang mempertemukan desainer dengan buyer. Berbasis virtual, Modest Fashion ISEF 2020 memberikan kesempatan pula kepada 325 brand terpilih untuk mengikuti Digital Trade Show selama tiga bulan (Agustus, September, dan Oktober) yang bekerja sama dengan marketplace BukaLapak dan online media Fimela.com.

6 Koleksi Bernuansa Borneo By Dhyani Prima dalam ISEF 2020

GayaKeren.id – Tampil di sesi kedua pada Fashion Show di event Modest Fashion Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020 yang di selenggarakan secara virtual, Rabu (28/10), pada hari pertama fashion show, perancang busana Dhyani Prima melalui Dhys_dhyani prima mengusung konsep feminim ethnic romantic pada 6 koleksinya.

Menurut Dhyani Prima, dalam Modest Fashion ISEF 2020 ini, selain menunjukkan style feminim romantic sebagai DNA Brand, ia juga memadu padankan unsur ethnic dengan siluet yang sederhana dan elegan. “Saya berharap dengan memadukan style feminim romantic dengan classic ethnic yang timeless, cocok untuk wanita muslimah yang mengutamakan keindahan dan kelembutan dalam kesederhanaan”, ungkapnya. Perpaduan ini hadir dalam The Legacy of Borneo. The Legacy of Borneo sendiri terinspirasi dari keindahan motif Dayak. Salah satu warisan budaya dari Kalimantan (Borneo). Motifnya yang kuat,mencerminkan keindahan dibalik kemandirian dan kelembutan wanita Dayak.

Berikut 3 dari 6 koleksi Dhyani:

terdiri dari : topi, ciput, jilbab,masker, dan sarung tangan
Koleksi ini terdiri dari: clutch, ciput, jilbab,masker, dan sarung tangan
Busana‘The Legacy of Borneo’, ready to wear terdiri dari topi, ciput, jilbab,dan masker.

10 Fashion Disainer Indonesia Di Virtual Fashion Show Mercedes-Benz Fashion Week Russia

GayaKeren.id – Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) merupakan ajang tahunan ekonomi dan keuangan syariah terbesar di Indonesia. Dipenyelenggaran yang ke-7 tahun ini, ISEF melalui sektor fashion bekerjasama dengan Bank Indonesia, Indonesian Fashion Chamber dan Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC) dengan tujuan untuk membantu pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di bidang fesyen agar dapat “naik kelas” dengan “go global”.

Berikut 10 fashion designer yang berkolaborasi dengan 4 brand aksesori untuk menampilkan koleksi modest wear dalam ajang Virtual Fashion Show MERCEDES-BENZ FASHION WEEK RUSSIA pada tanggal 23 Oktober 2020 yang ditayangkan secara virtual melalui lebih dari 100 platform digital, antara lain YouTube ISEF Indonesia:

VIVIZUBEDI, Menampilkan koleksi eksklusif bertema Archipelago series “HUMBANUA” yang menggabungkan kain dari dua daerah, yaitu kain sasirangan khas Borneo dengan motif sarat makna filosofis dan tenun Sumba yang menggambarkan kekuatan dan keramahan masyarakat Sumba. Potongan busana dibuat mengikuti tren padu-padan masa kini.

                                                            

Wignyo & Rorokenes

Wignyo, menampilkan koleksi bertema “Monochrome” dengan menggunakan material tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) motif Houndstooth yang dibuat oleh para perempuan perajin tenun di Sukabumi, Jawa Barat. Motif tenun ini identik dengan warna monokrom yang menciptakan kesan modern sekaligus dinamis sesuai selera pasar global.

rorokenes menampilkan koleksi artisan leather bags dengan tema “Urban Weaving” yang menggunakan material kulit pada motif anyaman gedek (anyaman bambu yang biasa ditemui di pedesaan di Jawa Tengah, digunakan sebagai dinding rumah hingga keranjang). Bahan baku kulit yang digunakan berasal dari pabrik yang telah memiliki sertifikasi ISO resmi dari pemerintah. Sampah atau sisa bahan diupayakan kurang dari 3%, dan sisa bahan yang dapat didaur ulang disumbangkan kepada sesama pengrajin.

                                      

Agung Bali Collection & Bahalap Handicraft

Agung Bali Collection menampilkan koleksi bertema “Weaving Heritage” dengan menuangkan kain tradisional Bali yaitu “Endek Seseh” dan “Endek Ikat” dengan meng-highlight motif heritage dan warna natural hasil pewarna alam yang sesuai dengan pasar Eropa.

Bahalap Handicraft  menampilkan koleksi kalung dan gelang etnik Dayak yang terbuat dari bahan manik cornelin batu alam. Dulu aksesoris Dayak dipakai oleh kalangan bangsawan Dayak untuk acara tertentu. Setelah berkembangnya jaman telah dipakai oleh seluruh kalangan hingga mancanegara. Aksesoris Bahalap dibuat dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga untuk menambah perekonomian keluarga.

                                    

Adhy Alie menampilkan koleksi bertema “Terpikat Ikat” yang menyatukan ragam tenun ikat yang kaya akan warna dan motif yang menarik dengan teknik patchwork. Diwujudkan dalam rancangan modern berupa medium dan long coat.

                                                     

 

Roemah Kebaya Vielga menampilkan koleksi bertema “Dramatic Blossom” dengan mengangkat tradisi busana wanita Indonesia, yaitu modifikasi kebaya. Keunggulannya ornamen bordir bunga yang dikerjakan dengan mesin manual oleh para perempuan pengrajin bordir di Payakumbuh, Sumatera Barat.

                                                                                             

Thiffa Qaisty menampilkan koleksi bertema “DARA” terinspirasi dari kebaya Melayu, Riau, yang dimodifikasi dengan sentuhan modern. Menggunakan tenun Siak dan batik Riau berbahan viscose yang disempurnakan dengan detail beads dan Swarovski serta sulaman tangan. Designer memadukan tenun dan viscose untuk menggabungkan potensi daerah yang ada di Riau. Viscose merupakan salah satu serat ramah lingkungan dan Riau merupakan produsen viscose terbesar di dunia. Dengan mengambil trend forecasting 2020/2021 yaitu SPIRITUALITY dan konsep mix and match menghasilkan look yang berkarakter urban dan futuristic.

 

IR & IR menampilkan koleksi bertema “Matari” yang mengeksplorasi kain tradisional songket Deli dalam busana hasil adaptasi kultur Melayu Deli dengan sentuhan modern dan simplicity.

                                                                                

Ina Priyono akan menampilkan koleksi bertema “Portionate” dengan menggunakan batik tulis Lasem yang setiap motifnya merupakan hasil akulturasi dari budaya Cina dan Jawa serta sentuhan bordir yang diaplikasikan dalam desain yang simple dan elegan.

                                                                   

Defika Hanum & PALA Nusantara

Defika Hanum  menampilkan koleksi bertema “Adventurous” dengan proses pengolahan bahan secara tradisional yang dituangkan dalam busana berkarakter urban, aktif, dan modern. Keunggulannya inovasi batik tulis motif abstrak dengan menggunakan goresan kuas yang dibuat oleh pembatik di Kulon Progo dan Magelang, Jawa Tengah.

PALA Nusantara menampilkan koleksi aksesori berupa jam tangan yang mengeksplorasi inspirasi dari keragaman budaya Nusantara seperti warna, motif, dan simbol kultural yang dikembangkan dalam balutan desain modern, minimalis, sekaligus fungsional.

                                                                       

Anggia & Beadstown

Anggia menampilkan koleksi bertema “Equilibrium” dengan konsep daur ulang. Denim garmen yang reject, cacat, dan over stock dari industri lokal dikombinasi tekstil yang ramah lingkungan seperti katun bambu dan tenun tradisional dengan detail berupa symmetric-asymmetric, teknik manipulasi unfinished, patchwork fabric, dan denim washing technique.

Beadstown menampilkan koleksi aksesoris kalung dan anting yang terinspirasi dari canting (alat untuk membatik). Konsep desainnya adalah bentuk canting, lembaran kain, goresan tinta dari canting, seperti lengkung, titik dan garis dengan style etnik kontemporer, simple, dan dinamis. Bahan yang digunakan adalah kuningan dan tembaga, dengan eksplorasi material dari alat elektronik yang sudah tidak berfungsi lagi, seperti pipa mesin penyejuk ruangan. Semoga langkah kecil ini bisa menjadi bagian dari sustainable fashion.

                           

 

 

 

 

 

 

 

ISEF Dukung Fashion Designer IKRA Indonesia Di Virtual Fashion Show Mercedes-Benz Fashion Week Russia

GayaKeren.id – Penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang telah memasuki tahun ketujuh ini sebagai upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional guna turut mendorong pemulihan ekonomi nasional. ISEF bertujuan mendorong pengembangan ekosistem halal value chain, di mana fesyen muslim merupakan salah satu sektor prioritas di dalamnya. ISEF Sektor Fesyen diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Indonesian Fashion Chamber dan Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC) dengan tujuan untuk membantu pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di bidang fesyen agar dapat “naik kelas” dengan “go global”.

Sebagai rangkaian kegiatannya, ISEF Sektor Fesyen mendukung 10 fashion designer yang berkolaborasi dengan 4 brand aksesori, yang merupakan anggota Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA Indonesia), untuk menampilkan koleksi modest wear dalam ajang Virtual Fashion Show MERCEDES-BENZ FASHION WEEK RUSSIA pada tanggal 23 Oktober 2020 yang ditayangkan secara virtual melalui lebih dari 100 platform digital, antara lain YouTube ISEF Indonesia.

“Indonesia ditargetkan sebagai pusat industri halal global, melalui produk fesyen muslim Indonesia yang merupakan komoditi potensial untuk pasar internasional. Keikutsertaan pelaku usaha fesyen muslim anggota IKRA Indonesia dalam fashion week ini merupakan kesempatan untuk bersaing di kancah internasional dan menembus pasar global. Untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia merupakan tantangan besar bagi kita. Namun, dengan niat yang lurus dan sinergi dengan seluruh stakeholder, insyaAllah bersama-sama kita dapat mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia, khususnya sektor fesyen muslim,” papar M. Anwar Bashori, Kepala Departemen Ekonomi & Keuangan Syariah Bank Indonesia.

Fashion designer dan brand aksesori anggota IKRA Indonesia menghadirkan koleksi Spring Summer 2021 dalam Virtual Fashion Show Mercedes-Benz Fashion Week Russia ini adalah Vivi Zubedi, Wignyo x Rorokenes, Agung Bali Collection x Bahalap, Adhy Alie, Roemah Kebaya Vielga, Thiffa Qaisty, IR & IR, Ina Priyono, Defika Hanum x PALA Nusantara dan Shoes by UJ Yuna, dan Anggia x Beadstown.

“Panggung pekan mode internasional yang diselenggarakan secara virtual ini merupakan kesempatan berharga di masa pandemi. Desainer fesyen dan aksesoris pelaku UMKM di Indonesia dapat menampilkan dan memperkenalkan karyanya di skala global, khususnya pasar Eropa. Kesempatan ini membuka peluang bagi para UMKM di Indonesia untuk merambah pasar ekspor. Diharapkan produk modest wear Indonesia benar-benar dapat diterima di pasar Eropa,” tutur Ali Charisma, National Chairman Indonesian Fashion Chamber.

Dengan berpartisipasi dalam pekan mode kelas internasional ini memberikan kesempatan bagi pelaku usaha fesyen yang memiliki komitmen serta semangat untuk meningkatkan penetrasi produk unggulan usaha syariah sehingga mampu menembus dan bersaing di pasar global.