SIMINVEST RESMI JADI SPONSOR UTAMA FESTIVAL MUSIK JAZZ TERTUA DI INDONESIA

GayaKeren.id – SimInvest mempersembahkan The 45th Jazz Goes to Campus yang puncaknya akan diselenggarakan pada Minggu, 13 November 2022 di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. SimInvest, sebagai brand aplikasi investasi saham online dari Sinarmas Sekuritas, resmi menandatangani perjanjian kerja sama sebagai sponsor utama ini pada Kamis (28/7).

SimInvest menganggap ada kesamaan value dan belief dengan Pihak Penyelenggara Jazz Goes to Campus. Dalam hal ini, Jazz Goes To Campus menjadi wadah agar musik jazz lebih dikenal dekat oleh semua kalangan dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Sementara SimInvest ingin menjadi platform investasi terdepan yang mudah, ramah, cerdas, dan aman untuk semua kalangan dari berbagai latar belakang, terutama generasi muda Indonesia.

Komisaris Utama Sinarmas Sekuritas, Ferita Lie mengatakan “Kami percaya musik mampu menghubungkan kita satu sama lain, setelah selama dua tahun kita berjarak karena pandemi. Musik juga punya bahasa universal sebagai gerbang awal memperkenalkan SimInvest yang peduli terhadap literasi keuangan dan investasi kepada Generasi Milenial dan Z. Lebih jauh lagi, festival ini diharapkan mampu berkontribusi pada perekonomian negara melalui wisata hiburan dan edukasi.”

Saat penandatangan perjanjian kerja sama, Tim Jazz Goes to Campus diwakili oleh Marketing Communication Director, Aranda Yogi Nugroho dan Branding and PR Lead Sinarmas Sekuritas, Tami Kartanegara, serta dihadiri oleh beberapa rekan panitia serta tim dari Sinarmas Sekuritas. Kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan kolaborasi yang apik dan berdampak positif bagi semua kalangan.

“Jazz Goes to Campus ke-45 ini lebih spesial karena dapat menghubungkan audiens Millennial dan Gen Z dengan literasi keuangan melalui kolaborasi SimInvest sebagai sponsor utama. Tahun ini adalah pertama kalinya Jazz Goes to Campus mendapat support dari perusahaan perdagangan efek untuk menciptakan Unique Selling Point bagi Jazz Goes to Campus sebagai platform edukasi musik kepada anak muda, tak hanya itu tetapi juga berupa edukasi terkait literasi keuangan melalui hadirnya SimInvest di Jazz Goes to Campus,” ujar Marketing Communication Director Jazz Goes to Campus, Aranda Yogi Nugroho.

Gelaran Jazz Goes To Campus ke-45 ini untuk pertama kalinya diadakan secara offline selama pandemi Covid-19, setelah dua tahun sebelumnya hanya dilangsungkan secara online. Selain acara puncak, JGTC memiliki banyak rangkaian acara lain, meliputi Sarinah Jazz Night, JGTC Roadshow, JGTC Community Night, mulai September hingga November 2022.

Perlu Ada Sinergi Pemerintah dan Industri Musik untuk Dorong Adopsi Teknologi Digital di Indonesia

GayaKeren.id – Akselerasi dan transformasi digital telah mengubah cara orang, termasuk para pelaku industri musik, dalam melakukan pekerjaan, layanan atau usaha. Adopsi teknologi digital menjadi sebuah keniscayaan, seperti yang nyata terlihat dan dirasakan oleh generasi Millenials dan Gen X dalam cara mereka mengakses musik. Pada awalnya, di era analog, akses mendengarkan musik dimungkinkan melalui medium yang berwujud fisik seperti piringan hitam, kaset, dan compact disc. Cara ini kemudian berubah secara perlahan di era Internet of Things(IOT), di mana musik mulai dapat diakses secara digital melalui komputer, baik audio maupun audio-visual, hingga akhirnya, hari ini musik dapat dinikmati melalui streaming secara digital. Resso, aplikasi streaming musik sosial pertama di Indonesia, kembali menggelar ‘Breakfast with Resso’ (BwR) seri ke-enam dengan topik diskusi bagaimana pelaku industri musik dapat secara optimal memanfaatkan teknologi digital bagi kemajuan industri musik.

Peserta BwR yang digelar setiap tiga bulan sekali, datang dari beragam latar belakang, mewakili berbagai pemangku kepentingan dalam industri musik, yaitu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Republik Indonesia; Demajors Label; Reality Club band; media musik; SoundOn; TikTok; dan Resso sebagai tuan rumah. Diskusi ini dipandu oleh Wendi Putranto, pemerhati dan penulis musik.

Para peserta yang hadir dalam diskusi ini sepakat bahwa perubahan yang terjadi akibat kemajuan teknologi digital harus disikapi dengan bijak. Para pelaku industri harus belajar dan memahami memanfaatkan teknologi digital untuk membuat musik, memproduksi, mempromosikan, mendistribusikan, dan menghasilkan uang dari karyanya. Adaptasi harus dilakukan agar dapat terus bertahan hidup.

Salah satu temuan dalam diskusi menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi teknologi digital ternyata masih terbatas pada para pelaku industri musik di kota-kota besar saja, terutama di Jawa dan Bali. Kesenjangan pengetahuan dan pemahaman tentang teknologi digital, keinginan untuk melakukan perubahan, serta minimnya infrastruktur digital masih dirasakan di banyak daerah di Indonesia.
Aldo Sianturi, Chief Digital Officer – Demajors, mengalami proses transisi dari era musik fisik ke digital yang diakuinya membawa pengaruh besar di dunia musik, berpendapat bahwa, “Teknologi ada untuk mendukung dan memudahkan kebutuhan sehari-hari manusia. Kehadiran berbagai platform digital tentunya harus dimanfaatkan secara optimal oleh musisi untuk menjangkau pendengar di Indonesia, Asia dan global. Tidak dapat dipungkiri bahwa cara menikmati musik di era digital sekarang sudah lumrah, namun akan selalu ada musisi dan pendengar yang tetap memproduksi dan mengakses musik melalui cara-cara lama. Maka, diperlukan strategi yang tepat bagi musisi agar karyanya tersedia di semua market, baik secara fisik maupun digital.”

Mewakili generasi musisi milenial, Faiz Novascotia, penyanyi-penulis lagu yang membesut group Reality Club, juga mengakui bahwa teknologi digital telah memudahkannya dalam membuat dan memproduksi lagu. “Tentunya semua perkembangan teknologi hingga kini, masih banyak yang harus dipelajari, dilakukan, dan diadaptasi. Semakin banyak kolaborasi dalam ekosistem musik, akan semakin baik, karena kita semua ingin mencapai tujuan yang sama,” ungkapnya.

Kehadiran berbagai platform digital bagi kreator konten dan musik sebagai imbas akselerasi teknologi digital menuntut mereka untuk juga dapat memperkenalkan, mengedukasi, dan membuka akses bagi musisi lokal dan indie, agar dapat menampilkan karya mereka. Hal ini yang menurut Christo Putra, Head of Music & Artist Operations sudah dilakukan juga oleh SoundOn Indonesia, sebuah platform all-in-one untuk keperluan pemasaran dan distribusi musik. Christo menjelaskan bahwa, “Masih banyak musisi Indonesia yang masih berupaya untuk memahami cara untuk menjangkau audiens mereka dan memonetisasi karya mereka. Selama ini, mereka cukup puas dengan mengunggah karya di kanal video yang ada, padahal banyak yang bisa dilakukan agar karya mereka menjangkau audiensnya. Kami ingin menjembatani kebutuhan tersebut dengan mengedukasi, menginkubasi dan membimbing para kreator musik.”
Tama, panggilan Mahwari Sadewa Jalutama, Head of Operations, TikTok Indonesia, memaparkan bahwa jika terkait musik, “TikTok saat ini tidak hanya menjadi tempat penemuan musik dan tren terbaru, tapi juga menjadi platform di mana musik dan tren lama menemukan hidup baru. Kekuatan kreator kami yang penuh kreativitas tanpa batas memungkinkan hal ini terjadi. Melalui sesi berbagi yang diadakan secara berkala, kami terus berupaya untuk mendorong para kreator mengekspresikan kreativitas mereka, termasuk dalam bermusik dengan menggunakan berbagai tools dan fitur yang tersedia di TikTok.” Banyak musisi yang tengah naik daun, mengawali kariernya sebagai kreator TikTok, seperti Jebung, Idgitaf, Fabio Asher, Elsa Japasal, Mitty Zasia, dan masih banyak lagi.

Bagi Resso, teknologi digital memampukan orang untuk mengakses musik dengan lebih mudah dan inklusif. “Kami sangat aware dengan perkembangan yang ada di industri. Bisa dikatakan, platform teknologi TikTok, SoundOn, dan Resso diciptakan sebagai upaya untuk mendukung industri musik. Resso terus melakukan berbagai inisiatif seperti editorial, kurasi, dan katalog untuk membuat pengalaman menemukan musik menjadi lebih mudah, serta sangat terbuka untuk saran dan kolaborasi yang dapat memajukan industri ini bersama,” jelas Matthew Tanaya, Artist Promotions Lead Resso Indonesia. Di sisi lain, pengamatan jurnalis musik Al Sobry melihat adanya peningkatan peran platform digital sebagai sumber informasi. “Dulu, radio menjadi sumber informasi musik, lagu, dan artis, bahkan turut membentuk selera musik pendengar. Sekarang, peran tersebut sudah diambil alih oleh berbagai platform digital, termasuk TikTok. Industri musik kita memang masih dan sedang beradaptasi dengan teknologi digital, dan para musisi sudah harus mulai memikirkan konten digital mereka, kalau pun bukan oleh musisinya sendiri, mereka bisa memanfaatkan talenta digital yang ada,” tuturnya. Sobry juga menyoroti perlunya mengasah kemampuan talenta digital dengan keahlian yang sesuai dengan kebutuhan untuk mengisi peluang kerja yang ada.

Dari sisi pemerintah, menurut Selliane Halia Ishak, Direktur Tata Kelola Ekonomi Digital, Kementerian Pariwisata dan Kreatif Ekonomi, “Era digital memungkinkan semua hal menjadi transparan dan terukur melalui data analytic. Pemerintah memiliki beberapa target terkait pertumbuhan ekonomi digital, tidak hanya dari kontribusi pendapatan saja atau nilai ekonominya, tetapi juga terkait pengembangan talenta digital dan terjadinya transformasi digital di pelaku UMKM. Untuk itu, kami sangat berharap mendapat masukan dari para pelaku industri, agar dapat berbagi pengetahuan serta berkolaborasi dengan pemerintah, guna mendukung program-program akselerasi digital di semua subsektor ekonomi kreatif khususnya musik.” Pada tahun 2021, pemerintah mencatat kontribusi capaian nilai ekonomi digital Indonesia di tahun tersebut sebesar 70 milyar USD dan target 2024 dapat mencapai 146 milyar USD. Berbeda dengan sub-sektor gaming yang sudah dapat diukur kontribusinya pada nilai ekonomi digital, untuk sub-sektor musik belum ada data yang dapat menunjukkan jumlah pasti yang dikontribusikan untuk nilai ekonomi digital Indonesia. Selliane mengimbau para pelaku industri yang hadir dalam diskusi untuk juga membantu memikirkan cara bagaimana kontribusi tersebut dapat terdata dengan baik sehingga musik dapat kita ketahui bersama besaran kontribusinya terhadap target nilai ekonomi digital Indonesia, mengingat musik adalah sub-sektor ekraf tertinggi dan tercepat saat pandemi melakukan shifting ke digital (bertransformasi secara digital).

Menutup diskusi, para peserta menyepakati bahwa, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk dapat benar-benar memanfaatkan dan menikmati benefit yang diberikan oleh teknologi digital. Upaya yang sudah dilakukan saat ini dalam mengakselerasi dan mengoptimalisasi musik digital untuk meningkatkan kehidupan para pelaku industri masih jauh dari sempurna. Revolusi digital global yang terus bergerak dengan pengimplementasian Blockchain, Metaverse, NFT (non-fungible token), dan Web 3.0, tentunya, kembali mengharuskan semua pelaku industri musik di Indonesia untuk mulai memikirkan dan mempelajari teknologi ini.

Jelang 36 Tahun Berkiprah, Kahitna Gelar Konser 2 Konsep dalam Satu Hari

GayaKeren.id – Bersama New Live Entertaiment (NLE) dan Tabungan BritAma Bank Rakyat Indonesia (BRI), Kahitna siap menggelar konser untuk memperingati 36 tahun Sabtu, 6 Agustus 2022, di JIExpo Convention Centre & Theatre dengan mengusung dua tema dalam dua kali konser di satu hari.

Bertajuk Tabungan BRI BritAma Presents 36 Tahun Anniversary KAHITNA Special Concert yang mengusung dua tema yang berbeda yang mana tema show pertama pukul 15.00 WIB “Sore Sudah Cantik” dengan Dress Code Colorful dan tema show kedua pukul 20.00 WIB “Untuk Malam Cerita Cinta” dengan Dress Code Monochrome.

“Untuk lagu-lagunya sendiri, ada yang beda dari kedua konsep ini. Jadi, kalo teman-teman penasaran sebaiknya datang di kedua konser. Yang siang dan yang malam, ” ungkap Yovie Widyanto, personel Kahitna.

Dikesempatan yang sama Dino Hamid selaku Founder & Creative Director dari New Live Entertainment mengungkapkan “Tabungan BRI BritAma Presents 36 Tahun Anniversary KAHITNA Special Concert, merupakan konsep konser special yang kami hadirkan dibawah bendera promoter New Live Entertainment, mewakili pihak NLE kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak sponsors dan partners yang ikut menjadi bagian dalam acara istimewa ini, terima kasih kami kepada Bank BRI Tabungan BritAma, Telkomsel, tiketapasaja.com, JIExpo dan juga semua Soulmate KAHITNA serta media partners, dan rekan-rekan media yang telah mendukung acara ini, selamat menonton konser special ini, jangan lupa untuk datang dengan dress code yang sesuai dengan waktu konsernya, Geng Cantik show pertama jam 3 sore untuk yang selalu Cheerful & Colorful, dan Geng Cerita Cinta show kedua jam 8 malam untuk soulmate yang selalu tampil mempesona dengan style Monochrome ”.

Informasi lengkap lengkap mengenai acara:

Tabungan BRI BritAma Presents 36 Tahun Anniversary KAHITNA Special Concert

Tajuk Konser               : Tabungan BRI BritAma Presents 36 Tahun Anniversary KAHITNA Special Concert

Tema Konser               : Show 1 “Sore Sudah Cantik” dan Show 2 “Untuk Malam Cerita Cinta”

Hari/Tanggal Konser  : 6 Agustus 2022

Tempat Acara             : JIExpo Convention Centre & Theatre

Pengisi Acara              : KAHITNA

Dipromotori oleh       : New Live Entertainment

Tiket & Informasi       : tiketapasaja.com by Melon

Laman Instagram       : @newliveentertainment

Tagar resmi acara       : #Soulmate #CeritaCinta #NewLiveEntertainment   

  #NewLiveExperience #SoreSudahCantikUntukMalamCeritaCinta

Lanskap Musik Indonesia Pasca Covid-19

GayaKeren.id – Industri musik di mana pun, termasuk di Indonesia, sangat terdampak oleh pandemi Covid-19. Resso, platform streaming musik sosial, meluncurkan inisiatif untuk diskusi berkala yang melibatkan pimpinan kunci di industri musik bertajuk Breakfast with Resso. Hari ini, Resso menjadi tuan rumah dalam perbincangan tentang “Lanskap Musik Indonesia Ke Depan: Akan Seperti Apa Wujudnya?”

Diskusi ini melibatkan beberapa tokoh dari berbagai bidang musik seperti Dewi Gontha, Mahavira Wisnu dan Christian Bong. Mewakili bagian artis hadir Andien, Febrian Nindyo – HiVi! dan Gede Robi Navicula dari Bali.  Pemerhati musik dan penulis Frans Sartono dan Dwi As Setianingsih juga berpartisipasi dalam diskusi. Dipimpin oleh Adib Hidayat sebagai moderator, diskusi berlangsung hidup, dinamis dan sangat membuahkan hasil karena seluruh peserta dengan antusias menyumbangkan pandangan, pendapat, dan keahliannya berdasarkan pengalaman di bidangnya masing-masing.

 Beberapa hal yang dapat dicatat sebagai hasil awal dari diskusi ini:

  1. Para pelaku industri musik melakukan adaptasi di era disrupsi dan pandemi, kolaborasi -baik di dalam industri musik sendiri maupun antar industri- dengan menggelar beragam aktivitas melalui platform digital.
  2. Musisi atau artis tetap berkarya; mereka tetap berkreasi, baik sendiri maupun berkolaborasi dengan musisi lain, dan produser maupun promotor tetap merilis lagu dari artisnya.
  3. Pertunjukkan musik akan banyak mengalami adaptasi untuk menyesuaikan dengan penerapan standar Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dalam sambutannya, Bapak Sandiaga UnoMenteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyampaikan, “Kami mengapresiasi pandangan dan masukan dari para pelaku industri musik dengan latar belakang yang beragam, yang tentunya dapat dijadikan acuan dan referensi bagi pemerintah untuk menetapkan strategi dan langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan produktifitas para pelaku ekonomi kreatif.  Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga mendukung dan menghargai usaha yang dilakukan oleh Resso Indonesia sebagai aplikasi social music streaming untuk memfasilitasi adanya diskusi-diskusi diantara para pemangku kepentingan industri musik melalui kegiatan Breakfast with Resso, dan berharap hasil dari kegiatan ini dapat membuahkan pemikiran-pemikiran dan solusi yang baru, inovatif dan bermanfaat. Masukan dan hasil diskusi dari pelaku industri sangat berharga untuk membantu pemerintah dalam proses perumusan kebijakan-kebijakan strategis yang secara komprehensif dapat membantu proses pemulihan industri musik di Indonesia paska pandemi.”

Banyak acara musik seperti festival, pertunjukkan langsung, tur konser, dan pemberian penghargaan yang telah dibatalkan atau ditunda sejak tahun lalu berdampak tidak saja pada para artis, tetapi juga sejumlah besar orang yang bekerja untuk even-even tersebut. Seiring dengan menurunnya angka kasus Covid-19 di Indonesia, dan program vaksinasi yang tengah berjalan dengan baik, pembicaraan dan wacana di seputar penyelenggaraan pertunjukan dan event langsung seraya menerapkan kepatuhan dan protokol kesehatan yang ketat sudah dimulai. Ide ini tentunya disambut baik oleh para pelaku industri musik dan publik.

Pandemi ini juga telah mempercepat transisi dan kebiasaan mendengar musik di platform digital. “Kami bangga dan bersyukur dapat menyelenggarakan dialog konstruktif yang melibatkan pemangku kepentingan utama industri musik Indonesia ini. Resso percaya mereka yang memiliki peran, dampak, dan suara yang signifikan dalam industri kita memiliki peran penting dalam membangun kembali dan membentuk masa depan lanskap musik Indonesia paska pandemi. Sebagai aplikasi streaming musik, Resso berharap dapat bekerja lebih dekat dan memainkan peran yang lebih kuat dalam mendukung dan berkontribusi bagi kemajuan dan pertumbuhan industri musik Indonesia,” jelas Christo Putra, Head of Music and Content, Resso Indonesia.