H2 Health and Happiness Dukung UMKM Atasi PPKM Darurat Melalui

GayaKeren.id – Pandemi membawa dampak pada ekonomi masyarakat, seperti adanya pemutusan hubungan kerja dan menurunnya pendapatan UMKM selama pandemi, penurunan ini sejalan dengan Laporan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations Development Programme (UNDP) dan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Januari 2021, dan Hampir semua pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terpukul akibat penyebaran virus Corona (COVID-19).

Hal ini yang melatarbelakangi Kalbe melalui brand H2 Health and Happiness menginisiasi program H2 Heart sebagai inovasi yang bertujuan untuk mendukung pemberdayaan UMKM dan ekonomi masyarakat Indonesia serta penyediaan akses yang mudah bagi masyarakat untuk mengkonsumsi suplemen kesehatan.

“Program ini juga bertujuan untuk memudahkan akses masyarakat dalam mendapatkan suplemen kesehatan, sehingga tetap dapat menjaga daya tahan tubuh terutama di masa pandemi ini,” kata Head of Consumer Health PT Kalbe Farma, Tbk. Feni Herawati. “Kami berharap program ini dapat ikut meningkatkan pemberdayaan UMKM, ekonomi dan kesehatan masyarakat Indonesia.”

Kebutuhan suplemen dan vitamin ini juga terlihat dari meningkatnya permintaan suplemen H2 Health and Happiness varian H2 Cordyceps Militaris, suplemen herbal dengan kandungan ekstrak jamur Cordyceps Militaris sebagai vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh seperti yang disampaikan oleh dr. Helmin Agustina Silalahi, Medical Manager Consumer Health Division PT Kalbe Farma. “Situasi PPKM Darurat ini membuat masyarakat menjadi lebih concern terhadap upaya menjaga imun tubuh. H2 Cordyceps Militaris, sebagai brand suplemen untuk kesehatan yang berasal dari alam dan mengandung ekstrak jamur Cordyceps Militaris dengan memiliki manfaat untuk menjaga daya tahan tubuh.”

“Jamur Cordyceps ini memiliki senyawa aktif, seperti Cordycepin dan Adenosin yang digunakan untuk membantu menjaga kesehatan tubuh, menjaga stamina tetap stabil dan meningkatkan kadar energi di dalam tubuh. Hal ini juga didukung oleh sebuah penelitian dari Chinese University of Hongkong[1] yang menemukan Cordycepin dapat meningkatkan hidrasi sekaligus melancarkan pembersihan lendir pada permukaan saluran pernapasan sehingga dapat membantu mencegah berbagai penyakit pada saluran pernapasan, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (menyebabkan pengidap sulit bernapas). Ekstrak cordycepin pada jamur ini juga mengandung Polisakarida yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh, membantu meningkatkan suplai oksigen ke sistem kardiopulmoner sekaligus menjaga daya tahan tubuh.” tambahnya.

Dukungan H2 Health and Happiness Melalui Program H2Heart

Program H2 Heart oleh H2 Health and Happiness ini memberikan kesempatan kepada siapapun untuk memulai usaha serta meningkatkan usahanya dengan menjadi pengecer atau reseller resmi yang langsung bekerjasama dengan Kalbe. Tidak hanya menjual produk H2 Health and Happiness, sebagai bentuk pemberdayaan UMKM, peserta H2 Heart juga akan mendapatkan pelatihan pengembangan usaha dan pendampingan langsung dari tim Kalbe. Inovasi ini sangat penting artinya terutama di masa PPKM Darurat seperti ini, dimana UMKM tetap bisa berdaya dari rumah dan konsumen juga dapat memperoleh suplai suplemen yang mereka butuhkan.

“Dengan membuka program reseller diharapkan bisa membantu kalangan masyarakat yang ingin memiliki usaha sendiri ataupun penghasilan tambahan tanpa modal, maupun pelaku usaha UMKM yang ingin mengembangkan usahanya. Momentum pandemi COVID19 merupakan waktu yang paling tepat untuk berkolaborasi dan saling bahu-membahu mengatasi kesulitan,” tegas Feni.

Program ini memiliki beragam kemudahan, antara lain siapapun dapat mendaftar secara gratis, produk terjamin asli, tidak harus memiliki toko, pengemasan dan pengiriman dilakukan oleh tim H2 secara gratis, serta pemberian konsultasi kesehatan dan harga spesial kepada peserta program.

Calon peserta program ini dapat ikut bergabung dengan mudah melalui https://healthandhappinesskalbe.usetada.com kemudian mengisi data pribadi, setelah itu peserta program akan secara resmi menjadi reseller H2 Health and Happiness. “H2 Health and Happiness merupakan suplemen untuk kesehatan (holistic wellness) yang berasal dari segala kebaikan alam untuk kehidupan yang lebih baik. Melalui produk terbaik kami dan juga inovasi program ini, menjadi salah satu upaya dan komitmen kami dalam melindungi masyarakat Indonesia agar senantiasa terjaga daya tahan tubuhnya dan juga mendapatkan penghasilan tambahan di masa pandemi ini,” tutup Feni.

Peringati Hari Kelautan Sedunia, UNDP Mengajak Masyarakat Aktif Menjaga Ekosistem

GayaKeren.idHari Kelautan Sedunia merupakan momentum tepat untuk memperkuat upaya masyarakat menjaga ekosistem laut Indonesia yang terancam bahaya perubahan iklim dan aktivitas manusia yang berlebihan, demikian salah salah satu rangkuman dari acara webinar “Hutan, Gambut, dan Laut Kita” yang diselenggarakan hari ini oleh UNDP dan UNEP.

Webinar ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Kelautan Sedunia dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh di tanggal 5 Juni.

Menurut Dwi Ariyoga Gautomo, selaku koordinator nasional proyek UNDP dengan nama ATSEA2 (Arafura & Timor Seas Ecosystem Action), kondisi rusak sejumlah biota laut seperti terumbu karang dapat mengancam punahnya populasi ikan besar di laut Indonesia.

“KLHK dan LIPI merilis hampir 20 persen hutan bakau dan 36 persen terumbu karang di Indonesia berada pada kondisi rusak. Ini berpengaruh pada terancamnya spesies ikan seperti hiu dan ikan pari menuju kepunahan, yang pada akhirnya akan berakibat pada keseluruhan ekosistem laut, dan semuanya memiliki hubungan dengan aktivitas manusia,” ungkap Dwi.

Turut hadir dalam acara ini adalah Belinda Arunawati Margono, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Ditjen PTKL, Kementerian LHK, Johannes Kieft, spesialis teknis senior UNEP Indonesia, Nita Yuanita, selaku wakil dekan bidang akademik FTSL ITB & dosen kelompok keahlian teknik pantai, dan Rubama, penggiat konservasi di komunitas yayasan HAkA (Hutan Alam Lingkungan Aceh).

Nita Yuanita, selaku wakil dekan bidang akademik FTSL ITB & dosen kelompok keahlian teknik pantai, menyebutkan pentingnya solusi restorasi dengan pendekatan secara alamiah untuk melindungi ekosistem laut. Nita menyampaikan,

“solusi dengan pendekatan ke alam, seperti pemulihan hutan bakau untuk melindungi area pesisir terbukti lebih efisien secara finansial dan sumberdaya lain.”

Selain isu mengenai restorasi laut, narasumber lain seperti Johannes Kieft, spesialis teknis senior UNEP Indonesia, memaparkan mengenai upaya restorasi lahan gambut. Johannes menyebutkan, “dalam usaha merestorasi lahan gambut yang rusak seperti akibat kebakaran hutan, diperlukan keterlibatan masyarakat dalam praktek kearifan lokal dan timbal balik dengan ilmu pengetahuan dan penelitian yang semakin berkembang saat ini, untuk mengoptimalkan solusi yang ada.”

Belinda Arunawati Margono, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Ditjen PTKL, Kementerian LHK, menyampaikan mengenai pentingnya data dan sistem pemantauan untuk membantu restorasi Hutan.

“Pengelolaan data yang efisien dan bisa diakses dengan mudah sangat penting untuk menentukan langkah restorasi hutan yang diperlukan. Saat ini Simontana sebagai sistem monitoring hutan nasional (NFMS – National Forestry Monitoring System) telah diakui secara luas setelah keberadaannya selama 20 tahun dengan data mengenai cakupan hutan di Indonesia yang tersimpan sejak 1990.”

Rubama, penggiat konservasi di komunitas yayasan HAkA memberikan pandangan mengenai pentingnya keterlibatan perempuan dalam upaya restorasi, ”Keterlibatan perempuan akan memastikan representasi untuk menjaga keberlangsungan ekosistem. Inisiatif kami melalui Mpu Uteun, yaitu membentuk kelompok patroli hutan berbasis komunitas, dan memastikan sinergi seimbang dengan pelibatan perempuan untuk ikut mengelola hutan.”

Dalam kesempatan ini, para narasumber juga menyerukan perubahan perilaku konsumsi  masyarakat Indonesia untuk perlindungan hutan dan laut.

Dalam konsep komoditas dari laut, kuncinya adalah konsumsi secara cukup dan juga memastikan ikan yang ditangkap adalah ikan dengan usia yang dewasa, ditangkap di daerah yang berlimpah ikannya, dan dengan cara yang memastikan keberlangsungan ekosistem,ujar Dwi.

Johannes Kieft juga mendorong masyarakat untuk mengonsumsi komoditas pangan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Misalnya, jika masyarakat mulai mengonsumsi lebih banyak sagu, maka petani pun akan mulai menanam pohon sagu, yang secara ekologis memiliki banyak manfaat bagi ekosistem kita dan juga bagi manusia.”

UNDP luncurkan Accelerator Lab untuk percepat pencapaian SDGs di Indonesia

GayaKeren.id Accelerator Lab UNDP Indonesia yang merupakan bagian jaringan solusi terbesar di dunia untuk mengatasi tantangan pembangunan yang kompleks diluncurkan pada hari Rabu. Accelerator Lab Indonesia akan menjadi salah satu dari 91 Accelerator Lab di 115 negara yang mencari, menguji, dan meningkatkan solusi untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Dengan pendanaan dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Qatar Fund for Development, Accelerator Lab Indonesia telah melakukan studi perkotaan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan air seperti banjir sebagai bagian dari upaya awalnya. Accelerator juga melakukan studi etnografi di lima komunitas yang terkena bencana dan mensurvei 520 orang di 125 kota di Indonesia.

Berbicara pada peluncuran virtual, Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro mengatakan teknologi inovatif dan inovasi sosial memegang kunci untuk mengatasi berbagai tantangan utama di dunia.

“Pandemi COVID-19 telah membuat kita sadar betapa pentingnya tindakan cepat dan kreativitas untuk mengatasi tantangan pembangunan saat ini. Kita memerlukan ide dan kreativitas baru untuk menghadirkan teknologi baru yang dapat mendisrupsi paradigma lama yang menghambat solusi untuk mengatasi tantangan seperti perubahan iklim dan ketimpangan,” kata Brodjonegoro.

“Dengan adanya pusat jaringan pembelajaran di Indonesia akan membantu ide dan kreativitas mengalir lebih mudah, menciptakan solusi yang cepat dan mendorong lebih banyak praktisi untuk mempercepat proses untuk memenuhi agenda SDGs. Pemerintah Jerman bangga mendukung pendirian Accelerator Lab di Indonesia yang diharapkan dapat menjadi katalisator pembelajaran untuk solusi SDGs,” kata Peter Schoof, Duta Besar Jerman untuk Indonesia.

“Inovasi adalah inti pembangunan pesat Qatar dalam beberapa dekade terakhir. Masyarakat kami telah mengalami perubahan transformatif dan menjadi lebih baik karena kami terus mendorong inovasi dan teknologi. Perubahan besar dengan skala nasional dapat dimulai dari komunitas kecil dan kami harap Accelerator Lab Indonesia menjadi jaringan pembelajaran yang berkembang pesat,” kata Fawziya Edrees Salman Al-Sulaiti, Duta Besar Qatar untuk Indonesia.

Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura meminta semua pemangku kepentingan untuk mempercepat tindakan dan mengadopsi inovasi.

“Kreativitas dan kecepatan harus menjadi pendekatan baru kita. Tantangan pembangunan yang semakin kompleks saat ini membutuhkan peluang baru untuk menghasilkan lebih banyak kreativitas. Dan seiring berjalannya waktu menuju 2030, kita tidak punya pilihan selain mempercepat pencapaian SDGs dengan ide dan tindakan baru. UNDP Indonesia bangga meluncurkan Accelerator Lab hari ini karena dapat menambahkan lebih banyak solusi dan ide untuk mengatasi tantangan hari ini untuk meraih peluang di masa depan,” kata Shimomura.

“Menghadirkan inovasi dinamis ke dalam birokrasi publik besar tidak pernah mudah, dan akan selalu ada banyak penentang dan sinisme. Ini juga tampak berisiko menyiapkan begitu banyak Lab sekaligus tanpa infrastruktur pendukung yang kuat. Tetapi tanpa inovasi yang dipercepat, kecil peluang untuk mencapai SDGs. Accelerator Lab telah membuat awal yang baik, dengan masukan dari orang-orang cerdas dan berkomitmen, yang berfokus pada tindakan praktis.” kata Geoff Mulgan, Professor of Collective Intelligence, Public Policy and Social Innovation, University College London dan penasihat Global Accelerator Labs.

Accelerator Lab Indonesia akan bekerja dalam kemitraan dengan Pemerintah Indonesia, akademisi, CSOs, masyarakat setempat, komunitas inovator nasional dan internasional, dan start-up. Bagian dari kegiatan awal Accelerator Lab Indonesia adalah survei warga tentang masalah perkotaan di lima komunitas yang terkena bencana.

Sekitar 500 orang menghadiri peluncuran Accelerator Lab secara virtual yang berjudul ‘Menuju Masa Depan yang Lebih Inovatif dan Inklusif untuk Indonesia’. Acara ini bertujuan untuk menginspirasi masyarakat untuk berperan lebih aktif dalam mengatasi tantangan pembangunan saat ini.

Acara ini juga menampilkan diskusi panel oleh Prof. Tri Nuke Pudjiastuti, Deputi Bidang Ilmu Sosial dan Humaniora, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Meirina Triharini, dosen & peneliti dari Lab Desain Etnografi Institut Teknologi Bandung, Bambang Irianto, inovator akar rumput dari Komunitas Kampung Tematik, dan Arief Mustain, Director dan Chief Strategy & Innovation Officer Indosat Ooredo yang menekankan perlunya aksi kolektif dalam ekosistem inovasi di Indonesia.

Seruan Bagi Dunia Usaha Di Indonesia Untuk Menghormati Hak Asasi Manusia

GayaKeren.id – Pelaku usaha di Indonesia diminta untuk mengkaji ulang rantai nilai mereka dan menghormati nilai-nilai hak asasi manusia dalam operasi bisnis, sebagaimana tertuang dalam Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia/United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights (UNGPs) yang menghimbau perusahaan untuk melakukan Uji Tuntas Hak Asasi Manusia/Human Rights Due Diligence (HRDD).

Seruan itu dibuat hari ini selama dialog tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) tentang penerapan praktis UNGPs, dengan fokus pada Uji Tuntas Hak Asasi Manusia (HRDD). Uni Eropa (UE) dan Pemerintah Swedia mendukung acara yang bertajuk “Preparing for Mandatory Human Rights Due Diligence to Achieve Sustainable Development Goals”.

Prinsip-Prinsip Panduan PBB menjelaskan tentang tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pelaku usaha untuk memastikan hak asasi manusia dilindungi dan dihormati dalam operasi bisnis. UNGPs mengadvokasi penerapan praktik yang memastikan pendekatan inklusif dan “seluruh  masyarakat” terhadap praktik hak asasi manusia, dan memastikan tidak seorangpun tertinggal.

“Pelaku usaha harus mengambil langkah pertama untuk menyusun kebijakan yang baik yang menghormati hak asasi manusia semua individu yang terlibat dalam bisnis mereka, dari pemasok hingga pengecer akhir. Setiap individu di sepanjang proses bisnis dan operasional harus diperlakukan dengan adil dan tanpa penyalahgunaan dalam bentuk apa pun,” kata Marina Berg, Duta Besar Swedia untuk Indonesia.

“Swedia telah mempromosikan praktik hak asasi manusia yang berkelanjutan di sektor swasta, dan kami senang bermitra dengan UNDP untuk bekerja dengan Indonesia dalam mendorong uji tuntas dan mengadvokasi praktik bisnis yang bertanggung jawab,” tambahnya.

Uni Eropa telah mendorong pengadopsian langkah-langkah HRDD dengan kebijakan yang kuat yang dilakukan di Belanda, Prancis dan Jerman yang semuanya sekarang mengamanatkan undang-undang tentang pekerja anak dan langkah-langkah lain tentang uji tuntas pada rantai pasokan.

Bapak Marzuki Darusman, ketua the Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), yang mengadvokasikan standar hak asasi manusia mengatakan bahwa sektor swasta di Indonesia harus mulai merangkul hak asasi manusia dalam bisnis sebagai norma baru. “Memastikan bahwa hak asasi manusia dihormati di seluruh operasi perusahaan adalah proses yang berkelanjutan dan kami harap dengan bekerja sama dengan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas internasional, kita dapat menguatkan peran dan tanggung jawab perusahaan untuk menghormati hak asasi manusia. Tujuan utama kita adalah memastikan penghormatan terhadap hak asasi manusia di sektor swasta tumbuh menjadi norma di Indonesia, ” katanya.

Negara-negara lain di Asia juga sedang dalam proses mengembangkan kerangka kebijakan untuk mengimplementasikan UNGPs, termasuk Thailand, Malaysia, Mongolia, Viet Nam dan India.

 

 

Good Doctor Dukung Kolaborasi UNDP dan ATENSI untuk Pengembangan Layanan HIV lewat Telemedis

GayaKeren.id – Sebagai bentuk pembekalan kepada tenaga medis dalam melayani Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) melalui aplikasi telemedis selama pandemi, Good Doctor sebagai anggota dari Aliansi Telemedika Indonesia (ATENSI) didukung oleh United Nations Development Programme (UNDP) meluncurkan serangkaian edukasi berkelanjutan kepada lebih dari 700mitra dokter. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara UNDP dan ATENSI untuk pengembangan platform telemedis di Indonesia dan peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Pada akhir tahun 2020 jumlah ODHA diperkirakan 543.100 orang.Secara konsisten pemerintah telah melaksanakan berbagai kegiatan promosi, preventif, dan kuratif, demi memutus mata rantai penularan HIV di Indonesia seperti program Three Zero dan Program STOP. Adapun target yang ingin dicapai melalui program Three Zero adalah: (1) tidak adanya kasus baru HIV/AIDS, (2) tidak ada kematian akibat HIV/AIDS, dan (3) tidak ada stigma dan diskriminasi pada ODHA. Sedangkan “STOP” adalah program pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS melalui kegiatan Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan. Namun, upaya dan target dalam memerangi kasus HIV dan AIDS tersebut saat ini mengalami kendala akibat merebaknya pandemi COVID-19 di Indonesia.

Nurjannah, SKM., M.Kes -Kasubdit HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) mengatakan, “Di masa pandemi COVID-19 ini, ODHA menjadi salah satu kelompok yang lebih rentan terkena COVID-19. Hal ini terjadi karena adanya penurunan pelayanan kesehatan untuk pasien HIV/AIDS. Karena itu kami sangat mengapresiasi UNDP, ATENSI, dan Good Doctor yang telah berinisiatif mengembangkan layanan HIV/AIDS dengan memanfaatkan platform telemedis. Kami melihattelemedis menjadi solusi yang bagus dalam mendukung ODHA mendapatkan layanan kesehatan.”Arry Lesmana Putra, National Project Manager for Health Governance Initiative, UNDP, mengatakan,“Pelaksanaan program HIV/AIDS harus mempertimbangkan prinsip hak asasi manusia guna mendukung program pencegahan dan perawatan HIV/AIDS yang efektif dan memberikan lingkungan yang nyaman bagi ODHA agar dapat memiliki kualitas hidup yang lebih kondusif. Kita pun harus terus mengupayakan terbukanya akses-akses kesehatan yang memadai bagi mereka, dan kami melihat peran telemedis sangat penting dalam mewujudkan hal tersebut. Maka dari itu, sebagai proyek pilot dari kolaborasi ini kami bermaksud mengembangkan layanan HIV lewat telemedis Good Doctor dan juga telemedis lainnya.”

Rangkaian proyek pilot ini dilaksanakan melalui simposium ilmiah untuk tenaga kesehatan profesional (para dokter) mengenai tantangan yang dihadapi oleh ODHA di masa pandemi, peran layanan telemedis, serta penyampaian informasi tata laksana pasien HIV/AIDS yang terbaru. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan workshop pembuatan mekanisme dan panduan teknis layanan telemedis bersama dengan mitra strategis. Rangkaian program ini dilakukan sebagai persiapan dalam rencana case study pemberian layanan telekonsultasi kepada pasien HIV oleh Good Doctor.

Danu Wicaksana, Managing Director Good Doctor Technology Indonesia mengatakan, “Kami merasa bangga dipercaya oleh UNDP dan ATENSI untuk memberi kemudahan bagi pasien HIV/AIDS dalam menjangkau akses kesehatan melalui aplikasi Good Doctor yang dapat diunduh secara gratis. Kepercayaan ini sekaligus menjadikan kami sebagai platform telemedis perintis di Indonesia yang memiliki program layanan khusus untuk pasien HIV/AIDS di Indonesia. Kami harap kerja sama ini bisa memberi dukungan nyata bagi pemerintah dalam mencapai target program Three Zero dan Program STOP demi memutus mata rantai penularan HIV di negara kita. Kami juga berharap nantinya layanan ini disambut baik dan dimanfaatkan seluas-luasnya oleh pasien HIV/AIDS di Indonesia.”

Laporan Ekonomi Sirkuler Dukung Peningkatan PDB dan Pelestarian Lingkungan yang bersamaan di Indonesia

GayaKeren.id – Perekonomian Indonesia dapat tumbuh sebesar 45 miliar dolar AS pada tahun 2030, dengan jumlah emisi dan sampah yang lebih rendah, lewat penerapan penuh ekonomi sirkuler tanpa sampah di lima sektor ekonomi utama, menurut sebuah laporan baru yang diluncurkan hari ini oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan didukung Pemerintah Denmark dan Program Pembangunan PBB (UNDP).

Laporan Ekonomi Sirkuler Indonesia dipresentasikan pada acara peluncuran online yang dipimpin oleh, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa, Menteri Lingkungan Hidup Denmark, Lea Wermelin dan Resident Representative UNDP Indonesia Norimara Shimomura.

Lima sektor utama yang menjadi fokus laporan ini adalah makanan dan minuman, tekstil, perdagangan grosir dan eceran (dengan fokus pada kemasan plastik), konstruksi, dan elektronik. Menurut laporan tersebut, implementasi penuh model sirkuler di lima sektor itu dapat menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja baru.

Model ekonomi sirkuler memungkinkan para pelaku ekonomi untuk mengurangi konsumsi bahan, limbah, dan emisi sekaligus mempertahankan pertumbuhan. Model tersebut sudah berhasil diterapkan oleh beberapa negara, termasuk Denmark.

“Implementasi ekonomi sirkular diharapkan dapat menjadi salah satu kebijakan strategis dan terobosan untuk membangun kembali Indonesia yang lebih tangguh pasca COVID-19, melalui penciptaan lapangan pekerjaan hijau (green jobs) dan peningkatan efisiensi proses dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya,’ kata Monoarfa.

“Saya meyakini Indonesia akan diuntungkan dalam skala yang besar melalui transisi ke model ekonomi sirkular dan saya percaya bahwa laporan ini akan mampu memperlihatkan potensi besar bagi lingkungan di Indonesia, alam, dan usaha mitigasi perubahan iklim,’ kata Menteri Lingkungan Hidup Denmark Lea Wermelin.

“Saya berharap laporan ini akan merintis jalan dan langkah selanjutnya terutama dalam perumusan strategi nasional dalam rencana aksi dan pemetaaan jalan pusat,” imbuhnya.

Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura menekankan bahwa ekonomi sirkular mampu mendukung pertumbuhan dan mengatasi dampak perubahan iklim, sekaligus mengubah kehidupan kelompok masyarakat rentan di Indonesia.

“Model ekonomi sirkuler memungkinkan kita mengurangi konsumsi bahan, sampah, dan emisi dan pada saat yang sama mempertahankan pertumbuhan dan menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan demikian, model ini mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama – perempuan yang rentan, warga lansia, anak-anak, dan masyarakat disabilitas, yang sesungguhnya mampu berperan aktif di komunitas,” kata Norimasa Shimomura.

5 Tahun Perjanjian Paris, dibutuhkan inovasi pendanaan iklim dengan dampak yang lebih besar

GayaKeren.idTerlepas dari berbagai praktik terbaik pendanaan iklim di Indonesia, diperlukan lebih banyak upaya dari komunitas internasional untuk melipatgandakan pendanaan dari berbagai sumber non-tradisional, menurut panelis diskusi kebijakan ‘Perjanjian Paris’, yang diselenggarakan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dan Kedutaan Besar Perancis di Jakarta.

Diskusi online ini menandai peringatan lima tahun Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim. Acara tersebut mempertemukan para ahli keuangan iklim untuk membahas cara-cara penanganan perubahan iklim dan mengintensifkan tindakan dan investasi yang diperlukan untuk masa depan rendah karbon yang berkelanjutan.

“Mengidentifikasi lebih banyak sumber pendanaan iklim non-tradisional akan memungkinkan pengeluaran iklim menjadi lebih katalitik dan dengan hasil yang jauh lebih transformatif, karena negara-negara berusaha untuk mengurangi emisi dan pada saat yang sama menjaga ekonomi mereka tetap berkembang,” kata Olivier Chambard, Duta Besar Prancis untuk Indonesia

Perjanjian Paris mewajibkan 195 penandatangannya untuk melakukan upaya ambisius untuk menangani perubahan iklim, termasuk komitmen untuk menjaga kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celcius dibandingkan tingkat pra-industri. Hal ini juga mengharuskan semua pihak untuk melakukan upaya terbaik mereka melalui Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional/Nationally Determined Contributions (NDC), seperti melalui pengurangan emisi – dan penguatan upaya ini.

Acara tahun ini – yang ditunda hingga November 2021 – ditujukan untuk menginventarisasi kemajuan sejauh ini dan menentukan jalan ke depan, terutama sehubungan dengan pandemi COVID-19 yang menyebabkan perlambatan dan resesi ekonomi global.

UNDP Indonesia telah bekerja sama erat dengan Pemerintah Indonesia dalam berbagai masalah perubahan iklim. Tahun ini, Climate Promise, yang merupakan inisiatif UNDP dirancang khusus untuk meninjau NDC, komponen utama Perjanjian Paris. Indonesia bertujuan untuk mengurangi emisinya hingga 29 persen pada tahun 2030.

Sementara itu, Indonesia telah memanfaatkan sumber pendanaan non-tradisional untuk menutup kesenjangan pendanaan untuk mewujudkan komitmennya terhadap penanganan perubahan iklim.

“Dalam hal pendanaan iklim, dunia bisa belajar dari Indonesia sebagai negara yang telah merintis langkah-langkah untuk menggalang miliaran dolar untuk menutup kesenjangan yang cukup besar antara sumber daya publik yang tersedia dan pendanaan dan investasi iklim. UNDP bangga menjadi mitra Pemerintah Indonesia untuk memberikan solusi inovatif untuk

pembiayaan iklim” ujar Norimasa Shimomura, Resident Representative UNDP Indonesia dalam sambutan pembukaannya.

Innovative Financing Lab UNDP telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk memperkuat reformasi pendanaan iklim publik yang telah memungkinkan penerbitan obligasi hijau senilai 2,75 miliar Dolar AS melalui pendanaan Syariah. Obligasi ini adalah sukuk hijau (obligasi Syariah) pertama di dunia dan telah menunjukkan bagaimana pendanaan inovatif dapat membantu mengatasi tantangan pendanaan – dan bagaimana investasi swasta dan publik dapat membantu memastikan masa depan rendah karbon yang berkelanjutan.

Debat SDGs Tahunan Kedua Fokus Pada Melibatkan Pemuda Dalam Pemulihan Pasca Pandemi

GayaKeren.id Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Luar Negeri dan Tanoto Foundation akan menyelenggarakan Debat SDGs Indonesia tahunan yang kedua, dengan fokus untuk melibatkan pemuda di tengah pandemi COVID 19.

Bertajuk “Bright YOUth, Better Planet”, acara virtual ini akan dimulai pada tanggal 12-26 Oktober 2020. Acara ini memperingati Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober dan merupakan bagian dari dukungan UNDP terhadap keterlibatan Pemerintah Indonesia dengan pemuda untuk menciptakan wacana global dan menanamkan “DNA SDGs” di kalangan kaum muda Indonesia.

Lebih dari 100 tim perguruan tinggi di seluruh Indonesia diharapkan untuk berpartisipasi. Tim-tim tersebut akan dikelompokkan menjadi empat wilayah. Semua peserta akan berpartisipasi dalam coaching clinic sebelum acara dimulai pada tanggal 12 Oktober. Pemenangnya akan diumumkan pada upacara khusus di Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober.

Pandemi COVID-19 telah menjadi tantangan khusus bagi kaum muda yang, terlepas dari perjuangan mereka, terus menjangkau komunitas yang rentan dan menjadi sukarelawan untuk membantu kelompok-kelompok yang termarjinalisasi.

Dengan latar belakang inilah acara tahun ini menyoroti bagaimana kaum muda Indonesia merespon tantangan COVID-19 dan bagaimana mereka bertindak dalam agenda SDGs.

“Sebagai pemimpin masa depan, pemuda harus memiliki visi global. Acara debat ini menyediakan platform untuk melibatkan pemuda dalam SDGs dan juga mengakui bahwa pemuda adalah salah satu unsur kunci untuk membangun kembali lebih baik dari COVID-19 dan untuk melanjutkan kembali upaya untuk mencapai SDGs dalam pemulihan pandemi,“ kata Ibu Sophie Kemkhadze, Deputy Resident Representative UNDP Indonesia.

Oktober telah dijuluki sebagai ‘bulan pemuda’ di Indonesia, yang menandai pentingnya pendekatan seluruh lapisan masyarakat terhadap SDGs.

“Kita harus menciptakan kondisi untuk partisipasi aktif pemuda. Acara debat ini mendorong semangat kompetitif dan memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk belajar lebih banyak tentang SDGs dan peran mereka dalam membantu Indonesia mencapai targetnya di dekade mendatang,” kata Bapak Jean Satrijo Tanudjojo dari Tanoto Foundation.

UNDP dan Tanoto Foundation memiliki sejarah panjang kemitraan dalam memenuhi Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pada bulan Februari 2016, UNDP dan Tanoto Foundation bekerja sama untuk mengintegrasikan SDGs ke dalam agenda sub-nasional di provinsi Riau. Yayasan ini juga mendukung Inisiatif Kelapa Sawit Berkelanjutan (SPOI) UNDP dengan membantu petani swadaya dan petani plasma untuk mengelola perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan. Tahun lalu, Pemerintah Indonesia, UNDP, dan Tanoto Foundation mendirikan SDG Academy, sebuah platform pembelajaran untuk mempercepat kemajuan pencapaian SDGs di Indonesia.

“Saat kita menghadapi berbagai tantangan di Indonesia dan dunia pada umumnya, pemuda harus mengembangkan keterampilan yang akan membekali mereka dengan kemampuan untuk memimpin. Acara debat ini membangun keterampilan berpikir kritis yang meningkatkan cara mereka berkomunikasi, melibatkan diri, dan memimpin,” kata Ibu Amalia Adininggar Widyasanti, Staf Ahli Bidang Pengembangan Sektor Unggulan dan Infrastruktur, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS.

Ideathonesia Online 2020 menyoroti Peluang Bisnis Pasca Pandemi untuk Wirausahawan Muda

GayaKeren.idDibentuk bersama pada tahun 2017 oleh UNDP dan Citi Foundation, Youth Co: Lab bertujuan untuk memberdayakan dan berinvestasi pada kaum muda, sehingga mereka dapat mempercepat implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui kepemimpinan, inovasi sosial, dan kewirausahaan. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Citi Foundation dan Kementerian Pemuda dan Olahraga hari ini menyelenggarakan Ideathonesia, sebuah pertemuan crowdsourcing untuk ide-ide bisnis yang berdampak, menargetkan kaum muda sebagai bagian dari inisiatif Youth Co: Lab di Indonesia.

“Meskipun ada dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada bisnis, pandemi COVID-19 telah menghadirkan peluang unik untuk menyesuaikan model bisnis guna membantu melayani kebutuhan berbagai komunitas sekaligus menyediakan lapangan kerja bagi kaum muda. Oleh karena itu, UNDP wajib mempertahankan acara tahunan Ideathonesia tahun ini untuk terus menjajaki peluang baru di saat krisis, ”kata Muhammad Didi, Kepala Unit Keuangan Inovatif UNDP Indonesia.

Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia Puni A. Anjungsari mengatakan, “Citi melalui Citi Foundation telah berfokus untuk memperluas peluang ekonomi bagi generasi muda Indonesia di bawah payung Citi Peduli dan Berkarya (Citi Peka). Pendekatan Youth Co: Lab dalam mendengarkan perspektif dan ide kaum muda, dan memberdayakan mereka untuk mendorong solusi bisnis yang mengatasi masalah yang paling mendesak di dunia mendorong perubahan nyata. Hanya dengan menggabungkan kekuatan berbagai aktor dari sektor publik dan swasta, mitra sosial, masyarakat madani, dan seterusnya, kita dapat bekerja menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.”

Tahun ini, Ideathonesia memilih wirausaha yang berfokus pada “planet, manusia, keuntungan” sebagai intinya. Wirausaha tersebut juga harus memiliki nilai-nilai yang berkontribusi untuk mengatasi ketimpangan. Peserta terpilih akan mengambil bagian dalam sesi bimbingan selama sebulan dari PLUS dan UNDP yang akan membantu mengembangkan wirausaha mereka, memvalidasi ide bisnis mereka, dan mempercepat dampak dalam komunitas mereka. Selain workshop mentorship, Ideathonesia menggelar serangkaian seminar online tentang berbagai topik kewirausahaan yang terbuka untuk umum.

“Ideathonesia sebagai salah satu unsur penting dalam memberikan ruang berkreasi dan berinnovasi anak muda untuk  membuat dampak social yang lebih luas melalui ide dan aksi utk menciptakan perubahan menuju kondisi global yang lebih baik. Ideathonesia memperbaiki ekosistem dengan optimalisasi peran pemangku kepentingan kewirausahaan di dalamnya” Sebut Imam Gunawan, Deputy Assistant of Youth Entrepreneurs, Ministry of Youth and Sport.  

Acara ini memberikan kesempatan bagi para wirausahawan untuk berdiskusi tentang pemantapan model bisnis, mengembangkan ide bisnis serta berjejaring dengan wirausaha muda lainnya melalui workshop selama 1 bulan dan pendampingan online oleh PLUS dan Akademi Kewirausahaan Masyarakat.

Beberapa minggu setelah pengumuman kasus pertama positif COVID-19 di Indonesia, UNDP dan Citi Foundation, melalui Youth Co: Lab, dan UNICEF melakukan survei cepat terhadap wirausahawan muda di seluruh Indonesia di berbagai sektor. Survei tersebut berusaha untuk memahami dampak pandemi dan respon para pengusaha. Menyasar remaja berusia 16 – 30 tahun, survei tersebut mendapatkan hasil dari 756 responden dari seluruh Indonesia.

Survei tersebut mengungkapkan bahwa 79% pengusaha yang merespon mengalami dampak negatif pandemi, 21% usaha harus berhenti beroperasi, dan 50% mengalami penurunan keuntungan. 91% responden menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui mekanisme dukungan yang tersedia bagi mereka.

Dalam penutupan Ideathonesia, akan diadakan acara penutupan secara online sebagai sesi pemberian penghargaan bagi para peserta. Peserta akan mempresentasikan hasil mereka melalui sesi pitching online nasional yang akan dihadiri oleh juri dari pakar startup, dampak  sosial, dan pemberdayaan kaum muda. Para pemenang akan mendapatkan akses untuk bergabung dengan Youth Co: Lab 2020 dan menerima bimbingan lebih lanjut untuk mempercepat pertumbuhan bisnis mereka.

Memanfaatkan Keuangan Sosial Syariah dan Filantropi untuk Membangun Kembali Indonesia dengan Lebih Baik

GayaKeren.idUnited Nations Development Programme (UNDP) bersama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), PT Principal Asset Management (Principal), dan PT Ammana Fintek Syariah (Ammana) hari ini meluncurkan kemitraan baru untuk mendukung pemulihan COVID-19 dan pembangunan ekonomi untuk masyarkat rentan di Indonesia. Kemitraan ini merupakan bagian dari respons sosial-ekonomi UNDP terhadap COVID-19 di Indonesia yang bekerja sama dengan pemerintah, sektor swasta, mitra pembangunan, dan pemangku kepentingan lainnya. 

Kemitraan ini bertolak dari keberhasilan proyek UNDP-BAZNAS yang membangun lima pembangkit listrik mikrohidro untuk menyediakan listrik yang sangat dibutuhkan bagi lebih dari 4.000 penduduk miskin di daerah terpencil di Jambi. Kemitraan yang ditandatangani hari ini di Principal Institute memungkinkan replikasi sinergi tersebut dan akan  menyediakan program pemulihan bencana kepada sekitar 10.000 orang di desa Sambil Elen, Lombok dan desa Tuva di Sulawesi Tengah. Selain itu, kemitraan ini juga akan berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya yang terkait dengan kemiskinan, ketimpangan, dan energi.

“Program kerjasama BAZNAS dan UNDP untuk memanfaatkan potensi zakat dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia, sebelumnya telah diresmikan pada penandatanganan MoU tahun 2017 lalu. Tambahan kolaborasi dari PT Principal Asset Management dan PT Ammana Fintek Syariah tentunya akan semakin memperkuat program kita dan akan lebih banyak lagi masyarakat terdampak pandemi dapat terbantu nantinya,” ujar Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo.

 “Pandemi COVID-19 memiliki dampak social-ekonomi yang destruktif. Situasti ini menambah tantangan pemulihan dan pembangunan pada masyarakat yang rentan atau menderita dari bencana alam baru-baru ini. UNDP berkomitmen membantu membangun kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang terkena dampak. Inilah yang akan kita lakukan melalui kerangka kemitraan baru ini.” Kata Christophe Bahuet, Kepala Perwakilan UNDP.

Pemanfaatan ekonomi lokal akan memberikan peluang bagi mereka yang terdampak pandemi, untuk membangun kembali dengan lebih baik (dengan prinsip Build Back Better). “Principal, sebagai perusahaan aset manajemen pertama yang berkolaborasi dengan UNDP sebagai mitra, percaya bahwa kerja sama ini akan berkontribusi dalam mencapai SDGs dan memberikan dampak signifikan kepada masyarakat,” ujar Agung Budiono, CEO Principal. “Principal dan UNDP memiliki misi yang sama, tidak hanya untuk menciptakan dampak positif dalam aspek sosio-ekonomi dan lingkungan, tetapi juga untuk menginspirasi masyarakat, investor, pelaku bisnis, dan pihak lainnya di Indonesia untuk mendukung pencapaian SDGs dengan melibatkan lebih banyak upaya filantrofi.”

“Karena SDGs sangat sejalan dengan nilai Ekonomi Islam dan pasca-pandemi memberikan urgensi dalam pendanaan yang etis dan digital untuk pemulihan ekonomi, Ammana sebagai fintech P2P Syariah mengeksekusi respons bersama dengan UNDP dan BAZNAS untuk mengambil peran itu,” terang Lutfi Adhiansyah, CEO Ammana Fintek Syariah.

Kemitraan ini dilaksanakan melalui Innovative Finacing Lab UNDP dengan tujuan meningkatkan dan memanfaatkan keuangan social, seperti zakat dan hibah mikro yang ditargetkan melalui perusahan fintech untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.